Supervisor 35

Assalammu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Sungguh, waktu nggak terasa. 2019 sudah hampir masuk di penghujung. Tampaknya, hujan sudah mulai singgah di beberapa kota, seperti Depok, Bogor, dan sekitarnya. Tahun ini, alhamdulillah, tahun yang luar biasa setelah tahun-tahun sebelumnya yang pernah saya anggap sebagai tahun-tahun yang buruk.

Sebenarnya, tidak ada yang buruk kecuali ia datang karena kita yang mengundang sendiri, akibat perbuatan dan dosa kita sendiri. Maka, muhasabah urgent sifatnya untuk segera kita lakukan. Kalaulah ada hal yang tidak boleh kita tunda selain melakukan kebaikan, maka taubat adalah hal penting berikutnya.

Sebelum diamanahi di tempat yang sekarang, saya menganggur kurang lebih satu tahun lamanya. Nggak sampai setahun, memang. Tapi, bagi pengangguran, sehari saja rasanya sudah sangat menyiksa. Apalagi saya juga tidak aktif lagi di dunia per blogger an. Masih menulis, itu juga sesekali kalau mood lagi bagus. Selebihnya, wallahua'lam.

Alhamdulillah, Alloh memang maha baik, jika kita percaya bahwa rezeki tiba pada waktu yang kita butuhkan, Alloh memberikan saya pekerjaan beberapa hari sebelum bulan kelahiran saya. Seminggu kalau tidak salah, saya diterima bekerja di sebuah perusahaan di bilangan Sudirman, Jakarta Selatan.

Dulu, saya pernah punya teman yang bekerja di salah satu gedung tertinggi ke sekian di sana dan berangan-angan, rasanya seperti apa, ya kalau kerja di gedung berlantai-lantai seperti kantor teman saya itu. Haha. Ndeso, memang. Masuknya saja harus tukar ID dulu, dan tidak sembarang orang bisa masuk ke gedung itu kalau tidak benar-benar ada keperluan.

Sampai akhirnya, Alloh sampaikan saya bekerja di lokasi yang sama, dengan gedung yang walau tidak sama tingginya, tapi kantor saya itu berada di lantai yang paling tinggi dari gedung tersebut. Alhamdulillah, waktu gempa kecil sampai hingga Jakarta (yang terjadi di Banten, Tangerang beberapa waktu lalu), saya sudah pulang.

Karena tekanannya cukup saya rasakan waktu saya ngobrol sama teman saya yang sudah lama nggak ketemu. Alhamdulillah, semua baik-baik saja setelahnya.

Rezeki, memang rahasia Alloh. Seperti kematian dan jodoh, ia sudah ditulis Alloh di kitab induknya, dan tidak akan pernah tertukar. Ia akan datang, bahkan sekalipun kita tidak menginginkannya. Pun sebaliknya. Ia tidak akan pernah kita miliki, sekalipun kita berupaya sekuat tenaga meraihnya.

Itu yang terjadi saat saya bekerja tanpa berharap apa-apa. Waktu itu malah saya hampir putus asa, karena rasanya, target yang diberikan adalah sesuatu yang secara logika, mustahil untuk bisa dipenuhi. Terlebih dalam waktu yang lumayan singkat yang diberikan. Saya pasrah, memasrahkan dan menyerahkan semuanya pada Alloh, karena sungguh, saya diterima di sana pun adalah karena kebaikan yang Alloh berikan pada saya dan keluarga.

Saya diterima di sana, setelah tidak ada kabar dari dua tempat sebelumnya. Yang pertama, saya sudah wawancara dengan user, dan mendapat angin segar, bahwa saya masuk dalam kandidat terpilih dengan beberapa lainnya untuk kemudian kemungkinan diseleksi kembali. Dan akhirnya, perusahaan luar itu, lebih memilih kandidat lain yang tentu saja tidak disampaikan mengapa mereka lebih memilih kandidat tersebut daripada memilih saya.

Baiklah. Kehidupan tetap harus berjalan. Saya kembali mendapat panggilan wawancara, perusahaan luar juga. Tahap pertama wawancara, sedikit psikotes dengan HRD. Hanya satu orang yang wawancara saat itu, sementara kandidat sekali masuk 3 orang. Sebenarnya waktu itu ada sekitar 5 orang yang diundang, namun hanya 3 yang datang. Termasuk saya.

Perusahaan luar, memang mengerti bagaimana menghargai calon kandidat yang mereka undang wawancara. Kami disuguhi minuman bebas ambil, mulai air kemasan, hingga teh sampai kopi. Kesemuanya bebas kami minum dan bisa kami bawa untuk kami minum saat menunggu sampai tiba giliran kami untuk diwawancara.

Kalau kondisinya kondusif, biasanya saya paling suka membuka komunikasi dengan sesama kandidat. Alhamdulillah, sejak saat itu, saya masih berhubungan dengan sesama pencari kerja. Ia sekarang sudah mewujudkan mimpinya untuk membuka bisnis eo bersama temannya, dan lumayan padat jadwal ke luar kotanya. Semoga bisa bertemu lagi ya, sis di lain kesempatan :)

Setelah seluruh proses wawancara selesai, HRD menginformasikan bahwa hanya yang dinyatakan lolos yang akan dihubungi. Waktunya sekitar 2 minggu, kalau saya tidak salah ingat. Setelah 2 minggu tiba, saya mencoba mengikhlaskan, bahwa Alloh telah menyiapkan rezeki lain yang jauh lebih baik dari yang kemarin.

Entah mengapa, saya kemudian iseng melamar ke kantor saya yang sekarang, dan dipanggil tak berapa lama setelahnya. Anehnya, setelah melamar di sana, saya lupa kalau ternyata saya pernah memasukkan lamaran kesana. Saya memang hanya iseng waktu melamar kesana, dan tidak berharap akan dipanggil.

Yang tidak diharapkan, ia yang datang. Biasanya begitu, ya. Begitulah cara Alloh memberikan rezeki. Jika Alloh mau, semuanya mudah. Dan sungguh, prosesnya itu cepat sekali. Saya wawancara hari, kurang dari satu jam, dan langsung ditanya kapan saya mulai bisa bekerja.

Ini sungguh di luar dari dugaan saya, sama sekali. Saya tidak bisa lagi berkata-kata. Saya langsung mengabari orang tua saya, dan berjanji kepada diri saya sendiri, bahwa saya tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang telah Alloh berikan. Ini amanah, ini bagian dari ibadah, dan kelak, saya harus mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang sudah saya lakukan di dunia.

Saya jadi teringat, mungkin saya sudah dzolim dengan kantor-kantor saya yang sebelumnya dengan tidak memberikan yang maksimal, malah cenderung santai kayak di pantai. Maafkan ya, Pak TP :"( semoga pensiunnya dimudahkan tahun ini, aamiin...

Nah, klasik banget kan, biasanya kita suka obral janji waktu diterima di kantor baru atau dipercaya di jabatan baru. Pas sudah duduk, biasanya lupa. Tiba-tiba lupa ingatan, dan mungkin kembali lagi ke pola kerja kita yang sebelum-sebelumnya.

Ini yang berusaha dan masih saya usahakan untuk saya hindari. Saya berusaha untuk bekerja dengan memberikan yang terbaik, bukan agar dipuji pimpinan. Mungkin perasaan itu ada, tapi saya tidak mau ia mendominasi dan menjadikan saya bekerja dengan baik hanya saat ia ada di tempat. Begitu tidak ada, saya bisa jadi berleha-leha dan menikmati waktu di kantor tanpa perasaan bersalah sama sekali.

Di bulan ke 3, target yang diminta terpenuhi lebih dari separuhnya. Di luar dugaan, sungguh karena saya sudah pesimis sejak tugas itu diberikan. Tapi, Alloh maha baik. Segala sesuatu yang mustahil menurut kita adalah hal yang mudah jika Alloh menginginkannya.

Dan di hari pertama di bulan ke 5, saya dipanggil untuk kemudian dipromosikan menjadi supervisor. Setiap karyawan yang masuk diberi masa percobaan selama 4 bulan. Sementara anak magang, 2 tahun. Segala puji Alloh, jabatan, bagi saya adalah ujian yang tidak lebih mudah dari menganggur.

Setiap jabatan baru yang lebih tinggi, ada harapan yang jauh lebih tinggi. Ada harapan, yang mau tidak mau akan dimintai pertanggunganjawabnya di hari akhir. Ini semua karunia Alloh. Di kantor saya yang lain, ada yang kurang dari 3 bulan diangkat menjadi supervisor.

Pintar memang, ganteng pula x_x  namun posisi itu diberikan kepada orang tersebut, bukan karena kegantengannya, bukan karena kesupelannya. Namun karena saya tahu, orang itu pantas untuk menempati amanah berat tersebut. 

Bagi saya, jabatan supervisor tidak lebih spesial dibanding posisi saya yang sebelum-sebelumnya. Saya pernah di RPTRA, tugasnya menyapu, mengepel, menyiram tanaman di halaman, menemani anak2 bermain, atau menerima telepon nasabah, mendengarkan curhatannya, sedikit makiannya, sampai mengelap muntahan atau pipis murid sewaktu saya mengajar di sebuah pre-school di bilangan Jakarta Utara.

Dulu, mungkin saya pernah pergi ke kantor dengan perasaan mangkel, malas, dan dipenuhi pikiran negatif. Sekarang, saya berusaha untuk berdamai dengan diri sendiri, bahwa di luar sana, begitu banyak orang yang mengidamkan berada di posisi yang kita duduki sekarang ini. Akankah kita menyia-nyiakannya begitu saja?

Akankah kita masih akan bekerja dengan begitu-begitu saja? membuang waktu produktif di kantor dengan terus sibuk main sosial media di gadget kita di jam kerja? ngobrol sama rekan kerja, ngobrol persoalan di luar kantor, dan lebih banyak gosipnya?

Manusia memang tidak akan ada yang pernah sempurna. Namun, saya perlu memastikan, setidaknya saya berkata kepada diri saya sendiri, bahwa, jika nanti ada keburukan yang menimpa hidup saya, maka itu adalah akibat dari perbuatan tangan saya sendiri. Karena Alloh tidak pernah mendzolimi hamba-Nya. Alloh tidak pernah sekali-sekali mendzolimi hamba-Nya.

Tim Ibu2 Spotters, rempong tapi sungguh keluarga kedua 
yang bikin saya kangen selain keluarga di rumah

Pertama kali naik pesawat, norak. Jangan ditiru, ya.
Makasih Mas TP atas kesempatannya.

Anak2 RPTRA yang nggak tahu benar apa nggak, tapi
saya ajarin mereka apa yang saya bisa (kecuali matematika)
Pengelola pertama RPTRA Citra Bangsa.
Masa orientasi di walikota, masih indah-indahnya.
Waktu aktif nyerpen, lolos gantiin peserta di Bali
yang nggak bisa dateng. Ini bareng cerpenis Anggun
di workshop Cerpen Kompas 2015
Teman sesama peserta workshop cerpen
yang baik hati membiarkan saya menginap di kamarnya
karena kalau harus pulang pergi ke Kompas ngabisin duit. Makasih, ya!



















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klaim BPJS Ketenagakerjaan di Jakarta Slipi

Periksa ke Dokter Obgyn di RS Hermina Jatinegara

Erasmus Huis dan rasa yang tertinggal