Senin, 18 November 2019

Resign, Kenapa Tidak?

Gambar: pixabay.com
Bayangan menjadi pengangguran, tidak memiliki penghasilan, belum lagi diomongin tetangga, tentu bukan hal yang menyenangkan untuk hanya dibayangkan. Apalagi diwujudkan.

Seorang teman yang kini sudah jarang berkomunikasi karena ia sudah sibuk dengan keluarga kecil barunya pernah mengatakan pada saya, "kok kamu enak banget ya, gampang banget gitu kalau mutusin mau resign. Cari kerjaan kan nggak gampang."

Bukan sekali dua teman saya bilang begitu, yang saya sendiri kadang suka kehabisan kata menjawabnya.

Saya tidak menganggap mudah mencari pekerjaan, terlebih di zaman sekarang ini. Namun, saya masih percaya, bahwa rezeki akan mendatangi kita selama kita masih bernyawa. Selama kita masih bernapas, selama kita masih mau berikhtiar, berusaha menjemput rezeki yang nggak akan pernah tertukar sekalipun kita menginginkannya.

Ya, modal saya hanya itu. Silakan kalau mau dibilang kepedean. Saya nggak ada masalah dengan itu, karena kehidupan kita, kita sendiri yang menentukan arahnya mau kemana.

Bagi saya, keputusan resign sendiri bukan keputusan yang mudah. Kalau dulu masih pakai emosi, belakangan, saya memikirkannya secara lebih mendalam. Emosi tetap ada, tapi sudah relatif bisa saya atasi.

Saya menghitung untung dan ruginya, dari sisi kesehatan mental khususnya yang menjadi faktor utama untuk saya tetap tinggal atau pergi. Dan di kantor kemarin, saya tidak menemukan keseimbangan, selain jam kerja yang selalu saya upayakan berjalan normal alias teng go, kalau mau dibilang begitu.

Setiap keputusan diiringi konsekuensi, dan apa yang saya utarakan di awal adalah konsekuensi logis ketika seseorang memutuskan berhenti dari pekerjaannya, sebagai apapun, di perusahaan manapun. Saya belum memiliki rencana apapun. Pun saya tidak tahu, apakah saya masih memiliki waktu untuk mengejar mimpi lain.

Sudah banyak hal yang Alloh kabulkan, sekalipun tidak saya minta. Rasanya sungguh malu kalau diri ini harus terus meminta, namun, jika bukan meminta pada Alloh, harus kepada siapa lagi kita meminta? Alloh tentu senang jika ada hambaNya yang merengek, meminta hanya kepadaNya. Bukan kepada yang lain.

Termasuk bekerja di kantor kemarin. Siapa mengira, seorang hijabers bisa bekerja di perkantoran di Sudirman? Haha. Tentu saja ada yang berhijab, hanya saja memang jumlahnya tidak banyak. Namun, di lantai tempat saya kemarin, jumlahnya lumayan mendominasi, khususnya area tempat makan. Ah, saya sudah merindukan mereka. Hijabers squad, kalau kata Sherly.

Kabar baiknya, saya mendapatkan kawan baik selepas dari sana. Alhamdulillah.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Resign, Kenapa Tidak?

Gambar: pixabay.com Bayangan menjadi pengangguran, tidak memiliki penghasilan, belum lagi diomongin tetangga, tentu bukan hal yang menye...