Sabtu, 04 Mei 2019

Cintai Dirimu Sendiri (Sudahkah Dirimu Memeluk Dirimu Sendiri Hari ini?)

Salam...

Apa kabar, ladies? Semoga selalu dalam keadaan sehat wal'afiat, ya. 

Belakangan, saya lagi senang buka channel Aida Azlin dan Bukalapak. Ini tidak berbayar, ya, tidak promosi juga. Kalau ada yang tanya kenapa 2 channel itu? Kamu harus merasakannya sendiri. Coba buka sendiri, deh. Dan kemudian, temukan sensasinya.

Oh iya, sebelumnya, saya mau minta maaf dari lubuk hati yang paling dalam maaf lahir bathin buat siapa saja di luar sana yang mungkin sengaja atau tidak pernah tersinggung atau tersakiti oleh perkataan maupun perbuatan saya.

Mohon dibukakan pintu maaf yang seluasnya, ya ladies. Ramadan tahun ini alhamdulillah sudah di depan mata. Walau begitu, tidak ada satu pun dari kita yang tahu, kita akan bisa merasakan ramadan tahun ini atau tidak. 

Semoga Allah sampaikan kita pada ramadan, minimal tahun ini dan tahun2 mendatang, aamiin. Karena ada beberapa orang yang saya kenal dan cukup dekat di hati, berpulang mendahului. 

Bisa jadi, sangat bisa jadi besok giliran kita. Wallahua'lam bishawwab. 

Saya akan coba cerita sedikit kenapa saya lagi suka buka 2 channel itu. Saya termasuk tipe orang yang tidak bisa melakukan sesuatu tanpa saya tahu kalau saya bisa mendapatkan sesuatu yang baik dan bermanfaat dari apa yang saya kerjakan.

Saya serumit itu, memang. Saya baru sadar karena seringkali dipaksa sadar oleh orang terdekat, kalau saya itu ternyata orangnya ribet banget. Saya bisa bilang kalau saya tidak setuju, tapi mari anggap saja bahwa itu benar.

Waktu saya bilang, saya butuh misal mengetahui visi misi dari calon pasangan saya, ada yang bilang, "elo kan bukan mau jadi presiden, helow!!! Buat apa coba pakai tanya2 visi misi orang, coba." Ini terdengar tendensius, dan meremehkan bagi saya.

Ini memang tidak persis sama, tapi apakah seorang pewawancara akan terdengar bodoh waktu menanyakan alasan mengapa kamu melamar dan membutuhkan pekerjaan ini? Dan mengapa kami harus mempekerjakan kamu?

Saya tidak tahu kenapa, mungkin karena saya agak sedikit sensitif begitu masuk ke tema2, katakan seperti asmara, saya jadi gampang baper sama omongan yang menurut saya terkesan tendensius.

Untuk persoalan kehidupan pribadi, perasaan sensitif atau terlalu peka itu penting dan mahal, tapi mungkin agak sedikit berlebihan kalau kamu terapkan dalam kantor atau pekerjaan.

Galau atau baper soal asmara sih, misal buat kamu yang belum dipertemukan dengan jodohnya, mohon maaf sekali terdengar sedikit kurang penting. Bukan berarti saya meremehkan pernikahan, ya. 

Saya setuju dengan apa yang dikatakan Aida, bahwa jika kita belum menikah juga hingga di usia kita yang sudah berkepala2 ini, mungkin Allah masih ingin mendengar doa2 kita.

Mungkin Allah masih ingin melihat kita melakukan hal2 yang mungkin tidak bisa kita lakukan lagi ketika kita sudah berumah tangga. Sikap saya yang cenderung cuek, kadang jadi membuat sebagian orang salah paham. 

Walaupun saya juga tidak berkewajiban untuk membuat orang2 itu untuk paham, tapi minimal, mari kita mulai untuk tidak menilai cara pandang atau nilai hidup seseorang melalui kacamata kita sendiri.

Sampai sekarang, sebenarnya saya masih belajar untuk tidak memandang remeh pada keputusan yang orang lain ambil pada hidupnya. Misal, ada perempuan yang setelah berhijab akhirnya memutuskan untuk membuka hijabnya.

Atau ada orang yang terkenal, banyak uang, kaya, dielukan namun memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan berbagai macam cara. Di satu sisi, kalau kita melihat, ini terdengar sangat menyedihkan.

Tapi, tahukah kita kalau kita juga bisa sangat mungkin berada pada posisi orang2 tersebut, tentu saja dengan situasi dan kondisi yang tidak persis sama.

Saya, entah bagaimana merasa ada teman begitu mengetahui bahwa ada manusia yang juga tidak punya banyak teman seperti saya. Orang sekelas Aan Mansyur, kamu percaya kalau dia tidak punya banyak teman dalam hidupnya? 

Kalau mau dibikin baper, pemikiran tidak punya teman saja bisa jadi alasan yang cukup untuk bunuh diri. Dan pikiran itu, percaya atau tidak pernah terlintas di benak saya. Beberapa kali.

Dan saya yakin, tidak ada orang yang tertarik mengetahui fakta ini. Lain halnya, mungkin bila saya seorang yang punya nama besar, terkenal, cantik lagi kaya. Sayangnya, kita, manusia seringkali masih mengukur seseorang dari materi dalam hal memilih jalan hidup.

Seperti misalnya, milih pasangan sih boleh2 aja, tapi lihat dululah, ngaca pantas nggak orang kayak kita buat milih2. Iya masih mending kalau ada yang dipilih, ini, yang ngelirik aja juga nggak ada. Yang ada pada males orang.

Lalu saya berusaha untuk berpikir, apa iya karena keadaan saya yang seperti ini, lantas saya tidak berhak menentukan jalan hidup saya sendiri? Saya tidak boleh memiliki keinginan A, B, C atau D? mengapa kita begitu sempit sekali dalam menilai hidup seseorang? terlebih bila orang tersebut adalah orang2 paling dekat dalam hidup kita.

Bukankah seharusnya, jika kita tidak bisa memberikan dukungan, minimal kita tidak nyinyir pada pilihan atau nilai hidup yang orang lain miliki. Entahlah, mungkin pikiran saya saja yang terlalu rumit. Tapi, saya tidak akan pernah mungkin bisa menyenangkan semua pihak. Kita semua begitu, kita semua tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang.

Jikalau ada yang harus kita senangkan, saya kira, Allah lah satu-satunya yang paling berhak untuk kita senangkan. Dan memiliki pemikiran seperti ini, entah bagaimana membuat saya cukup ringan dalam memandang hidup. Bahwa hidup, tidak selalu harus sesuai dengan apa yang saya inginkan.

Bahwa Allah tidak harus selalu mewujudkan apa yang kita inginkan. Orang tua saya ingin saya menikah cepat, dari usia muda, mungkin. Dan saya tidak tahu, mengapa keinginan orang tua saya itu belum terwujud hingga di usia saya sekarang ini. Satu per satu, teman di lingkaran dalam saya melepas status sendirinya, menikah dan ketika saya tanya apakah mereka berbahagia, jawabannya sangat beragam.

Saya kira saya tidak perlu menguraikan jawaban itu satu per satu. Yang pasti, kamu tidak perlu menunggu statusmu berubah hanya untuk berbahagia. Lagipula, perasaan bahagia itu hanya Allah yang bisa memberikan. Kalau saja orang bisa bahagia hanya dengan uang banyak, terkenal, berkuasa, saya kira tentu tidak akan ada orang yang mengakhiri hidupnya dengan jalan pintas.

Saya senang bisa menemukan nama-nama seperti Fiersa Besari, Aan Mansyur, Eka Kurniawan, Mira Lesmana, Dzawin, Kharis Junandharu, Fadly Padi, karena saya jadi bisa lebih luas memandang bahwa setiap orang dilahirkan dengan keunikan dan kelebihannya masing-masing. Kekurangan? tentu saja manusia tidak akan lepas daripadanya. Namun, apakah kita harus selalu memandang manusia dari kekurangannya?

Di saat kita seharusnya bisa melihat dunia dari sisi positif, alih-alih kita malah memandang sinis kehidupan, mencurigai Sang Pencipta hanya karena hidup kita tidak sebaik kehidupan orang lain. Saya kira, tidak ada orang yang senang bila hidupnya dibandingkan dengan orang lain. Dengan saudara kandung saja mungkin kita tidak senang dibandingkan, apalagi dengan orang lain?

Kalau kamu orang yang luwes, terbuka, gaul dan mudah beradaptasi, mungkin hal seperti ini bukan hal yang besar. Tapi, untuk orang-orang seperti saya, yang tidak begitu suka berada di keramaian, bicara di depan banyak orang, lebih sering mengurung diri di dalam kamar, sibuk dengan pikiran saya sendiri, hal seperti ini adalah sesuatu yang tidak kecil. Tidak sepele. Dan saya, tidak pernah ingin meremehkan apa-apa yang menurut saya kecil, bisa jadi sangat besar bagi orang lain.

Saya bahagia masih menemukan orang-orang seperti Dzawin yang bisa memandang orang lain bukan dari kacamatanya sendiri. Namun, ia berusaha menempatkan diri pada posisi orang tersebut. Bahwa, tidak ada orang yang ingin dilukai harga dirinya. Bahwa setiap orang unik dengan perbedaannya. Dan perbedaan, bukan sesuatu yang bisa begitu saja kamu tertawakan (mau dari sisi manapun kamu melihatnya), saya kira, perbedaan itu hadir sebagai pertanda bahwa kita hanyalah manusia yang tidak punya kuasa (hak) untuk menghakimi orang yang berbeda dengan kita.

Saya, tidak pernah suka dangdut koplo, dari dulu. Namun, saya kira saya tidak lantas berhak mencela orang2 yang suka mendengar dangdut koplo. Saya tidak pure tidak suka dangdut, karena saya suka dengan beberapa karya H.Rhoma Irama. Saya paling tidak suka melihat orang yang menyerobot antrian, membuang sampah dari dalam mobil atau kendaraan pribadi, namun, apa dengan begitu saya menjadi punya hak untuk merasa lebih baik hanya karena memiliki perasaan itu?

Aida, saya merasa beryukur dapat menemukannya di waktu yang Allah pilihkan. Dan Dzawin, saya dapat merasakanmu. Ditinggal nikah? yah, siapa yang tidak pernah mengalaminya, Win? saya kira, kita akan menjadi sedikit lebih kuat setelah melalui begitu banyak ujian serta cobaan yang datang silih berganti. Kita tidak pernah tahu, ujian atau cobaan itu akan membawa kita kemana. Yang pasti, yang harus kita lakukan, kita jangan pernah berburuk sangka, curiga pada Allah bahwa Allah membenci atau tidak menyukai kita dengan terus memberikan ujian atau cobaan.

Justru, Allah mencintai hamba-Nya dengan jalan terus memberikan ujian. Bukankah sahabat yang sangat dicintai baginda kita juga diberikan ujian yang tidak ringan? seharusnya kita merasa malu, karena mungkin ujian kita tidak bisa dibandingkan dengan ujian yang harus mereka lalui hanya untuk bisa terus membersamai manusia paling mulia di muka bumi.

Dari kesendirian, Aan mencoba untuk menemukan dirinya sendiri. Kita tidak akan pernah bisa menjadi orang lain, atau bahkan mendekati, namun, kita bisa menjadi manusia yang paling beruntung di muka bumi, jika kita mau berusaha untuk mensyukuri apa yang masih Allah percayakan.

Menerima kekurangan, melepaskan masa lalu (yang mungkin sangat kelam dan gelap), menertawakan kebodohan diri sendiri, mungkin bukan hal yang mudah dilakukan. Namun, bukan berarti tidak bisa kita lakukan. Jika orang terdekat kita, tidak bisa memberikan dukungan, mungkin itu pertanda bahwa jangan pernah sekali-kali kita menaruh harapan kepada manusia. Karena manusia, tidak akan pernah bisa memberikan manfaat atau mudharat tanpa izin Allah Swt.




 














Tidak ada komentar:

Posting Komentar