Rabu, 18 Juli 2018

Cara Perpanjang SKCK

Satu hal yang harus terus kita ingat tiap kali mengurus apapun yang berhubungan dengan pelayanan publik, adalah menyiapkan kesabaran yang indah. Kesabaran yang indah, memang ada ya? Ada kok. Dan memang nggak mudah buat dilakukan, tapi juga bukan hal yang mustahil. Asal kita mau pasti Alloh kasih jalan.

Kemarin, saya perpanjang SKCK yang sudah habis masa berlakunya dua tahun yang lalu. Mengurus perpanjangan mestinya nggak perlu surat pengantar RT/RW dan Kelurahan lagi, tapi kemarin qodarulloh saya ngurus buat jaga-jaga. Lain halnya kalau yang baru mau bikin, ya. Itu jadi salah syarat yang wajib dipenuhi kalau mau bikin SKCK baru.

Saya datang bersama seorang teman, dan bersyukur prosesnya tidak memakan waktu lama. Kurang dari satu jam, nama kami sudah dipanggil untuk kemudian mendapatkan SKCK yang telah diperpanjang dengan masa berlaku enam bulan.

Pembuatan SKCK ini data di KTP harus sesuai dengan domisili, ya karena kemarin ada yang disuruh pulang untuk mengurus KTP dulu karena tidak sesuai dengan domisilinya saat ini. Saya sendiri sempat ditanyakan apakah ada perubahan alamat dan lainnya yang tentu saja saya jawab tidak ada.

Sambil menunggu, saya berbincang dengan seorang ibu yang ternyata sedang membuat SKCK untuk dirinya sendiri. Saya pikir ibu itu menemani anaknya membuat SKCK. Tidak tahunya untuk beliau sendiri.

Di saat-saat menunggu seperti itu, berbincang dengan sesama pembuat SKCK (atau apapun) kadang bisa jadi hal yang menyenangkan. Apalagi ibu itu orangnya asyik juga. Lucu. Tidak ada raut kesedihan terpancar dari wajahnya sekalipun ia sedang mencari pekerjaan untuk menghidupi keluarganya. Suaminya sedang sakit struk, dan anak-anaknya masih kecil-kecil. Saya tidak tanya detailnya, tapi ia bilang ia ingin mencoba melamar pekerjaan di Kawasan untuk membantu keuangan keluarga. Saya jadi ingat ibu di rumah dan ibu-ibu luar biasa yang sedang berjuang di luar sana.

Untuk syarat perpanjangan sendiri cukup bawa SKCK yang lama (fotokopi atau asli), fotokopi KK, dan fotokopi KTP. Jangan lupa juga untuk menyiapkan pas foto berlatar belakang merah 2 lembar ukuran 4x6. Disiapkan lebih juga tak masalah untuk jaga-jaga.

Bagi yang ingin dilegalisir bisa langsung fotokopi dulu untuk kemudian diserahkan kembali kepada petugas agar dilegalisir langsung sebelum kalian pulang. Nggak lama kok dan bisa ditunggu kalau memang antriannya tidak terlalu membludak.

Tapi, kemarin antriannya lumayan panjang. Hanya saja antrian untuk buat baru. Jadi, yang perpanjang relatif lebih cepat karena datanya sudah ada disana. Tidak ada tips dan trik khusus untuk perpanjangan ini. Jika memang tidak ingin terperangkap dalam antrian panjang, silakan datang lebih pagi. Kemarin saya datang cukup siang. Sekitar jam sebelas kurang kami baru sampai disana dan sudah pulang sebelum jam 12.

Boleh juga menyiapkan bekal camilan juga minuman yang cukup sebagai teman menunggu. Baca buku atau ngobrol dengan orang disamping juga menyenangkan. Tinggal kamu mau pilih yang mana, kamu yang putuskan.

Oh ya, terus kemarin habis berapa untuk perpanjangan? saya hanya mengeluarkan uang 30 ribu. Itu untuk bayar pajaknya. Legalisir sepertinya gratis karena saya tidak dimintai lagi oleh petugas. Saya hanya legalisir 5 lembar, karena kalau terlalu banyak khawatir tidak terpakai.

Sementara ini dulu. Salam.













 

Senin, 09 Juli 2018

Antara Fatwa dan Ke-GR-an

Saya punya seorang teman yang kerap bertanya siapa yang lebih cantik antara si ini dan si itu? kadang, saya nggak tahu harus menjawab apa. Kadang saya sudah kehabisan kata-kata sebelum selesai bicara dengannya. Kadang, saya cuma ingin menghindar dari pertanyaannya dan kelak memutuskan untuk tidak bertemu dulu dengannya.

Entahlah. Tapi, saya cukup merasa risih jika ada yang membandingkan kecantikan si ini dengan si itu. Bisa saja dia teman kita, artis, atau yang tidak kita kenal sama sekali. Ini tidak lumrah, sungguh. Membandingkan antar keluarga saja terdengar cukup aneh di telinga, apalagi orang yang jelas-jelas tidak kita kenal.

Percayalah, manusia tidak pernah diukur dari rupa, harta, atau jabatannya. Lain halnya kalau kamu pengin masuk televisi. Konon katanya, kamu jangan pernah coba-coba masuk tv kalau nggak cantik banget atau hancur banget. Iya, pilihannya cuma dua itu. Jadi nggak akan pernah ada kata biasa-biasa saja. Tapi, itu sepertinya berlaku di waktu-waktu yang lalu.

Sekarang, yang biasa-biasa pun sudah bisa masuk tv. Yang nggak ada gelar ustadz pun, bisa berceramah dengan bebas di tv. Bahkan memberikan fatwa ini dan itu, sekalipun ada yang memberikan fatwa kalau berjilbab itu tidak wajib, dan adakah orang-orang yang mengikutinya? entahlah. Mungkin saja ada. Karena yang kemarin menggandakan uang saja ada pengikutnya, orang pintar lagi konon kabarnya.

Sementara yang sudah punya record yang jelas, lurus insyaAlloh malah diblokir dimana-mana kajiannya. Tapi, itu bukan masalah, sih. Karena biar bagaimanapun yang batil nggak akan pernah bisa mengalahkan yang haq. Dan Alloh itu sebaik-baik pembuat makar.

Akun FB saya yang baru sudah tidak bisa diakses lagi. Baru bikin beberapa hari, nge add satu orang langsung keblokir. Nggak apa-apa. Kalian tahu bisa cari saya dimana, kan? :D gr nggak apa-apalah sesekali. 




Alarm Hati

Sebagai orang yang sering pakai kendaraan pribadi, tanpa sadar saya jadi suka merhatiin perilaku saya juga pengendara lain di jalanan. Kalau lagi waras, biasanya saya suka nunjuk hidung orang lain begini dan begitu dan jadi malu begitu lihat hidung sendiri. Memang lo nggak gitu, ya? Hahaha. Gitu, sih. Tapi nggak separah mereka. Tuh, kan nunjuk lagi.

Pas kewarasan saya lagi nggak ngumpul di satu tempat, saya seperti dikasih kesempatan sama Alloh untuk berpikir, mau sampai kapan saya terus ikut orang lain di jalan yang melakukan berbagai macam pelanggaran mulai dari yang kelihatan sepele sampai yang besar?

Memang sih saya pengin cepat sampai di tempat tujuan, memang sih saya punya kondisi yang urgen yang mungkin lagi nggak dialami sama yang lain, tapi itu bukan berarti kamu bisa mengabaikan keselamatan orang lain di jalan, kan? Kalau kamu nggak peduli sama keselamatan kamu sendiri, minimal pikirkan keselamatan orang lain karena di jalanan, kamu itu nggak sendirian.

Saya nggak tahu seberapa penting arti keselamatan berkendara bagi kamu di luar sana, terlebih yang nyetir sendiri (baik itu motor atau mobil). Buat saya yang sudah mengalami beberapa kali kecelakaan, menjaga keselamatan diri sendiri itu semakin membuat saya sadar bahwa semua yang di jalan itu punya seseorang yang sedang menunggu dengan cemas di rumah. 

Yang terus senantiasa mendoakan kebaikan, yang mendoakan nanti, lepas sore kita bisa pulang tanpa kekurangan suatu apapun. Tapi doa itu seakan nggak berarti karena kita nggak mendukung untuk dikabulkannya doa itu. Kita nyetir dengan ugal-ugalan di jalan, ngebut, ngepot sana sini, mencet klakson tanpa henti, melanggar hak pejalan kaki dengan naik ke atas trotoar dan berhenti di garis putih di lampu merah. 

Kita bahkan masih nekan gas waktu lampu lalu lintas sudah berubah merah. Kita seakan nggak peduli sama keselamatan orang lain dengan melanggar rambu-rambu lalin. Terus ngegas yang penting sampai di tempat dalam waktu sesingkat mungkin. Dan dalam hati kita yang paling dalam, saya yakin kalau kita bisa merasakan kalau apa yang kita lakukan itu salah, nggak benar.

Tinggal apakah kita mau membenarkan, dan kemudian melakukan perbaikan, atau malah mengabaikan alarm hati dan kemudian berpaling. Seharusnya kita takut kalau hati kita akan menjadi semakin keras, dan hati kita seakan ditutup oleh Alloh dari kebaikan.  

Kita bisa berkontribusi secara positif untuk negara dengan memulai segala sesuatunya dari diri sendiri. Kita bisa mulai dengan menaati peraturan lalu lintas dan saling mengingatkan sesama pengendara, dimulai dari diri sendiri dan dimulai saat ini. Jangan nanti-nanti, jangan esok hari, karena siapa yang menjamin kalau hari esok masih kita miliki?

Kita bisa membantu pemerintah dengan nggak buang sampah tisu, botol minum, makanan di jalanan, menyimpannya dulu di kantong/tas kita dan baru dibuang waktu ketemu tempat sampah, berhenti saat lampu berwarna merah, memelankan gas saat lampu berwarna kuning, berhenti di belakang garis putih (strip satu), tidak naik ke atas trotoar apalagi masuk ke jalur busway, menekan klakson hanya saat diperlukan, tidak menggunakan telepon genggam di atas kendaraan, dan memperhatikan kondisi fisik kita dan kendaraan sebelum melakukan perjalanan.

Ini terdengar sepele banget, tapi, bukankah yang sedikit itu kalau ditumpuk lama-lama akan menjadi bukit? bukit manakah yang mau kita kumpulkan, kebaikan atau keburukan? 

Foto dan Hari Bahagia

Karena kumpul-kumpul kalau nggak foto itu ada yang kurang, jadi selalu ada alasan buat kita untuk foto-foto.

Saya tidak terlalu suka difoto, baik sendiri maupun ramai-ramai. Tapi saya sangat suka foto. Kegiatan moto jadi terasa menyenangkan terlebih kalau objeknya sedap dipandang.

Dan yang paling penting, halal untuk dipandang lama-lama. Ini acara pernikahan sepupu ahad malam kemarin. Alhamdulillah akad nikah lancar hingga resepsi.

Bahagia, tahun ini, insyaAlloh satu sahabat akan menyusul tak lama lagi. Sementara yang lain sudah lebih dulu beberapa waktu yang lalu. Menikah bukan soal siapa lebih dulu sampai di garis finish.

Tanpa harus membanding-bandingkan atau bahkan terus kembali ke masa lalu, kita mestinya bisa terus mensyukuri nikmat sehat dan waktu luang yang masih ada yang kadang membuat kita lalai.

Oh, ya. Barakalloh untuk Isti dan suami. Semoga Alloh kumpulkan dalam kebaikan.




Kamis, 05 Juli 2018

Gratis itu Tentang Pilihan

Budhi Asih hari ini ramai sekali. Jika ada hp lengkap dengan paketnya, tentu saja kegiatan menunggu hingga nomor antrian kita dipanggil tidak akan terasa membosankan.

Tapi, kalau boleh jujur sebetulnya saya sedang jenuh dengan hp, internet dan teman2nya. Saya tidak tahu kenapa. Mungkin saja saya sedang jenuh dengan diri saya sendiri.

Itu sangat mungkin terjadi. Kalau dulu, saat kejenuhan melanda, saya akan langsung pesan tiket ke mana saja -asal ke luar kota. Atau paling tidak pergi ke tempat dimana tidak ada orang yang mengenal saya.

Cara ini cukup ampuh. Jika sudah kembali, saya jadi merasa sedikit segar dan seperti mendapat suasana baru. Bisa saja ini sugesti, atau memang itu yang sebetulnya saya dapatkan dari apa yang saya usahakan.

Dan sekarang, praktis saya jadi punya waktu lebih dari cukup untuk melakukan apa2 yang saya suka -yang tidak akan pernah bisa saya wujudkan jika saya masih bekerja secara penuh di sebuah perusahaan.

Rasanya cukup menyenangkan. Saya memang belum memikirkan untuk kembali menulis cerpen, bahkan untuk membaca cerpen pun saya sama sekali belum tergugah. Atau saya sendiri yang mencegahnya?

Entahlah. Saya jadi sulit berpikir mungkin karena perut saya terasa lapar lagi. Kami memang jalan cukup pagi -sekitar pukul enam kurang dan sudah sarapan nasi goreng plus teh manis hangat.

Dan tadi, sekitar satu jam ke belakang saya sudah beli gorengan juga kopi. Hanya satu gelas, untuk saya saja. Mama mungkin akan berang kalau tahu saya masih saja minum kopi. Terlebih pagi hari dan perut belum diisi nasi sama sekali.

Saya lalu bertanya pada diri sendiri, apa perlu masuk rumah sakit dulu baru kita akan peduli pada pola hidup sehat?

Pola hidup sehat memang penting, tak terbantahkan. Menjaga pikiran untuk tetap waras saya rasa menjadi bagian penting lain yang tak bisa dipisahkan.

Kami tinggal mengantri obat, dan oh, karena sudah terdaftar yang gratis, antrinya jadi seperti di RS Islam Pondok Kopi.






(Semacam) Kaleidoskop 2018


Tahun ini, jadi tahun yang luar biasa buat saya. Mulai dari saya sakit sampai harus dirawat di RS (dan tidak dijenguk teman-teman kantor), sampai kontrak kerja yang tidak diperpanjang. Alhamdulillah. Semoga semua ada hikmahnya. Lagi tidak berstatus sebagai pekerja kantoran itu bukan berarti kita pengangguran loh, sister fillah. Kalau menurut data di atas kertas, mungkin iya.

Mungkin kita suka risih kalau ada yang bilang atau ngomongin, kok sarjana nganggur, ya? Kasian banget, percuma aja dong ngabisin duit kuliah dulu. Yah, kalau dulu saya masih suka sebal. Mangkel gitu tiap dengarnya. Tapi kalau sekarang? Eits, alhamdulillah. Masih. Hahaha. Nggaklah, alhamdulillah sudah kebal, sih.

Kadang, bahkan sampai ada teman yang ninggalin dan nggak tahu pergi kemana waktu kita lagi jadi pengacara. Baru kelihatan lagi batang hidungnya pas kita lagi bahagia. Duh, punya teman macam gini enaknya diapain, ya sister fillah?

Ditumbuk aja, gimana? Haha. Janganlah. Yang rugi kan nanti bukan siapa2, tapi diri kita sendiri.

Buat saya pribadi, dengan keadaan seperti sekarang ini, saya merasakan bisa melakukan lebih banyak hal. Sedikit untuk keluarga, banyak untuk diri sendiri. Hihihi. Teteup ya. Ya, disesuaikan sama porsinya. Yang pasti, saya jadi lebih menghargai waktu, kebersamaan dengan keluarga jadi punya makna penting buat saya. Saya juga jadi bisa istirahat lebih lama, karena sejak keluar dari RS kemarin, saya mau tidak mau harus maintain kesehatan (karena memang seharusnya begitu, kan?).

Alhamdulillah Alloh jarang kasih saya sakit, dan kemarin ini mungkin Alloh ingin saya istirahat sejenak dari hiruk pikuk mancari piti. Carilah suami, piak! Begitu mungkin yang ingin Alloh coba sampaikan.

#uhuk

Nggak, sih. Itu mah kepengin saya aja. Saya juga sudah bikin kok soal tema ini (tungguin di youtube, ya). Tema menanti calon suami.

#eaaa (catet: penting!)

Saya nggak tahu apa yang sudah Alloh persiapkan ke depan, yang saya tahu, kita harus senantiasa berprasangka baik sama Alloh, sister fillah. Karena Alloh itu nggak mungkin dzolim sama hamba-Nya.

Kalau kita melihatnya begitu, mungkin karena kita nggak tahu gimana sayangnya Alloh sama hamba-Nya. Kita bahkan dikasih anugerah nabi terakhir sebagai penutup sampai hari akhir nanti lengkap dengan mukjizatnya yang nggak diangkat dan nggak akan hilang bahkan hingga Nabi-Nya kembali kepada-Nya dengan keridhoan Alloh SWT.

Yakinlah, bahwa apapun peristiwa yang Alloh titipkan di episode kehidupan kita adalah untuk kebaikan kita. Dan kebaikan hanya akan dibalas dengan kebaikan yang serupa. Tapi, akan jauh lebih baik kalau kita membalas sebuah kebaikan dengan kebaikan yang jauh lebih baik. Karena kita pun pasti menginginkan yang serupa, kan?

Oh. Rasanya saya sudah lama tidak menulis. Dan entah bagaimana, saya merasa bahagia karenanya. 





Klaim BPJS Ketenagakerjaan di Jakarta Slipi

Saya kurang setuju soal dimudahkannya tenaga kerja asing masuk ke Indonesia, kamu tahu kan siapa yang mengeluarkan kebijakan itu. Yah, semoga saja yang mengesahkan nggak bilang, saya lupa, yang mana, ya? atau itu bukan urusan saya -waktu ditanya soal peraturan baru itu. Tapi, saya setuju banget dengan beberapa layanan publik yang terus berbenah dan diperbaiki.

Jadi, dua hari yang lalu saya mengirimkan dokumen ke kantor pos. Karena saat itu saya akan pergi ke daerah matraman, rawamangun jadi jalur yang akan saya lewati dan disana ada kantor pos yang lumayan besar. Saya memutuskan untuk mengirimkan dokumen disana saja biar nggak bolak-balik ngirim di kantor pos dekat rumah. Sekalian jalan, pikir saya.

Sudah cukup lama saya nggak ke kantor pos, bahkan untuk bayar rekening listrik, air, telepon dan lain sebagainya. Apalagi untuk kirim dokumen, jadi, mampir ke kantor pos kemarin itu semacam napak tilas, mengulang memori terakhir kali saya ke kantor pos. Hahaha. Dan ternyata, kantor pos disana juga sudah pakai nomor antrian yang dipegang oleh satpam yang jaga di depan pintu masuk.

Kalau kamu nggak minta nomor antrian ini, datang dan langsung duduk aja gitu nunggu loket yang kosong dan langsung nyamber begitu ada yang kosong, niscaya kamu nggak akan dilayani sama petugasnya. Karena memang cuma yang sudah dapat nomor antrian saja yang akan dilayani petugas. Nggak ada kata terlambat sih untuk sebuah perbaikan, apalagi yang positif dan bermanfaat, karena beberapa RS juga BPJS sudah menerapkan memakai nomor antrian ini, bahkan setingkat puskesmas sudah pakai antrian yang bisa kita print sendiri di mesin antrian.



Klaim BPJS Ketenagakerjaan


Termasuk BPJS Ketenagakerjaan. Buat kamu yang sudah pernah klaim, pasti paham banget gimana-gimananya. Tapi, buat yang belum pernah klaim dan baru mau klaim, kamu pasti perlu banget informasi seputar gimana atau apa saja sih yang harus kita persiapkan biar klaim kita lancar dan berjalan baik-baik saja sampai klaiman sukses ditransfer ke rekening kita (penting!).


Nah, ini juga yang saya lakukan sebelum saya mencoba klaim BPJS Ketenagakerjaan. Saya cari info sebanyak yang saya bisa, dan tentu saja relevan atau sesuai dengan kondisi yang saya miliki saat itu. Karena yah, kondisi kita waktu akan klaim kan nggak mungkin sama dengan tulisan atau informasi yang kita dapat dari internet.

Dan ini pentingnya untuk menyaring informasi yang kita butuhkan tanpa menafikkan informasi tambahan yang mungkin saja bisa jadi bahan referensi kita kalau ada apa-apa ke depannya. Mudah-mudahan sih semua lancar-lancar saja, ya. Saya pun berharap begitu. Tapi, sayangnya, waktu saya klaim pertama kali, sekitar tiga bulan yang lalu, klaim saya gagal karena waktu itu saya ngasih surat keterangan berhenti bekerja (paklaring/referensi) yang tidak sesuai dengan kartu BPJS Ketenagakerjaan (BPJSTk) yang akan saya klaim.

Alhasil, mas nya cuma ngasih saya informasi seputar dimana saya bisa meminta surat yang bisa dibilang maha sakti itu karena perannya yang cukup penting dalam pencairan klaim kita nanti. Kenapa mas nya ngasih informasi itu? karena saya nggak tahu dimana kantor itu sekarang berada, dulu sih sebenarnya saya juga nggak tahu kantor itu letaknya dimana.

Karena saya kerja under otsors waktu itu untuk sebuah bank konvensional, jadi saya harus minta surat referensi dari mereka, bukan ke banknya. Ini salah satu minusnya kalau kamu kerja under outsourcing. Saya mendukung untuk #hapusoutsourcing dan semoga bisa diwujukan oleh presiden baru kita nanti. Aamiin. InsyaAlloh, biidznillah.

Karena waktu itu saya masih kerja, jadi saya nggak mungkin ngurus lagi sampai selesai karena itu saja saya sudah menghabiskan waktu sekitar 2 hari cuma untuk bolak-balik dengan hasil yang jauh dari yang saya harapkan. Tapi, dengan begitu, saya jadi lebih siap dan tahu apa saja dokumen yang kurang yang harus saya siapkan.

Alhamdulillah, Alloh mudahkan mengurus klaim di bulan Juni (bertepatan dengan kontrak kerja saya yang nggak diperpanjang), saya jadi lebih leluasa untuk mengurusnya. Alamat yang mas nya kasih benar, tapi ternyata klaim tidak bisa dilakukan disana. Saya menghubungi nomor lain yang saya cari lewat internet dan mendapatkan informasi bahwa saya bisa meminta paklaring ke kantor yang di Kebun Jeruk.

Ok, itu jauh banget. Kantor saya dulu memang di daerah sana sih, tapi itu sudah lama sekali. Salah satu alasan saya mutusin keluar waktu itu, ya karena alasan itu. Alamat sudah di tangan, tanpa banyak cing cong, saya langsung datang gitu saja dengan pedenya tanpa mengabarkan mereka dulu kalau saya akan kesana. Saya terus berharap mereka belum libur karena waktu itu sudah hampir Lebaran (sekitar 2 minggu kurang). Alhamdulillah, menunggu lama membuahkan hasil juga.

Buat kalian, mungkin bisa coba telepon dulu, ya terlebih bila kalian nggak yakin kalau kalian bisa diterima untuk ngurus paklaring saat itu juga. Ada juga kantor yang butuh waktu beberapa hari buat ngurus paklaring karena mungkin saja permintaan yang masuk untuk paklaring cukup banyak. 

Kurang dari dua jam paklaring sudah saya dapatkan dengan cap basah dari HRD yang sepertinya sudah lama ganti wajah. Klaim baru lanjut saya urus pasca libur lebaran. Sesuai saran dari BPJSTk Rawamangun, saya coba daftar online untuk mendapatkan nomor antrian (sekarang sistemnya sudah online untuk beberapa tempat) di tanggal 17. Saya daftar untuk kedatangan tanggal 21 (hari pertama kantor masuk setelah libur Lebaran) dengan jam 9-10 pagi.

Sebenarnya saya pengin yang lebih pagi lagi, jam 8, sayangnya sudah full. Jadi pilihan di jam itu otomatis gugur dan saya langsung ambil jam 9 karena memang sistemnya cepat-cepatan gitu (pakai kuota per hari). Sama kayak mau pesan tiket kereta gitu deh, kurang lebih perasaan deg-deg-an nya. Hahaha.

Malam tanggal 21 nya, saya baru menyiapkan semua dokumen dan berakhir dengan memfotokopi paklaring di sana karena saya lupa saking kelamaan liburan (banyak alasan memang). Saya langsung tunjukkin bukti daftar online dari BPJSTk Pulo Gebang ke satpamnya juga barcode yang sudah saya ss. Waktu itu saya coba kirim ke email setelah pendaftaran sukses dilakukan tapi, ya kok lama banget gitu muter-muter saja. Akhirnya saya cancel dan saya screen shot saja daripada jamuran nungguin yang nggak pasti.

#cieee yang baperan



Apa Saja Sih Dokumen Yang Dibutuhkan

Satpamnya langsung masuk bawa hape saya gitu, dan saya nunggu dirobekkin formulir sama mas-mas yang lain yang nunggu di depan. Setelah dapat nomor antrian, formulir hijau (permintaan pembayaran JHT) saya isi dan saya kumpulkan bersama dengan persyaratan yang diminta;

  • Kartu Jamsostek/BPJSTk asli dan fotokopi
  • KTP (e-ktp) asli dan fotokopi 
  • KK asli dan fotokopi
  • Paklaring asli dan fotokopi
  • Fotokopi nomor rekening buku tabungan (depannya saja)    

Antrian saya nomor 41 dan baru dipanggil jam 9 lebih 15/20 menit. Mas yang melayani saya waktu itu petugas yang sama dengan tiga bulan yang lalu. Setelah semua lengkap, saya dirujuk untuk mencairkan di lokasi dimana jamsostek saya didaftarkan oleh perusahaan, yaitu di BPJS Jakarta Slipi. Baiklah, setelah saya mengerti semua informasi yang mereka sampaikan dengan baik (masnya melayani dengan sabar, ramah dan sangat membantu), saya putuskan untuk langsung menuju kesana biar semuanya selesai hari ini.


Salah Gedung

Rasanya saya nggak punya tenaga lagi kalau harus mengurus lain hari. Hahaha. Sugestinya sih gitu waktu itu, atau karena malas saja karena harus balik lagi lain hari. Alhamdulillah waktu masih lumayan banyak karena mereka baru tutup 15.30. Saya pun pergi ke alamat yang dikasih petugasnya, dan ternyata saya salah gedung.

Gedung yang alamatnya diberikan mas nya hanya dipakai untuk Direksi gitu, manajemen sementara untuk layanan klaim semua dilakukan di Menara Jamsostek. Berbekal tanya sama geng jaket hijau, alhamdulillah saya bisa sampai di sana dengan selamat dan tepat waktu. Saya sampai sebelum jam istirahat, dan ternyata mereka tetap melayani (beberapa counter) walaupun sudah masuk jam istirahat. Mungkin sistem shifting kali, ya. Gantian gitu.

Satpam di depan kasih saya nomor antrian 43, dan saya masuk ke dalam dengan perasaan bahagia karena ternyata kantornya representatif banget. Bagus, bersih, wangi, dan yang paling penting, setelah saya tahu ada mas-mas yang bawa gelas ke tempat duduknya, saya jadi tahu kalau mereka menyediakan minuman gratis (free flow). Bisa pilih teh, kopi hitam atau air putih terserah sesuai selera.


Waktu itu karena saya lagi haus berat dan saya suka teh, susu, juga kopi susu, saya pilih teh dulu sebagai pereda rasa haus. Haha. Harusnya sih air putih, ya tapi air putih kan bisa menyusul. Saya habis 2 gelas teh hangat, 1 gelas kopi, dan 2 gelas air putih sampai nomor antrian saya akhirnya dipanggil.

Di counternya, lagi-lagi nggak makan waktu lama karena ternyata saya lagi-lagi salah gedung, sister fillah. Yaa salaam...ini saya yang eror atau gimana, sih sampai dua kali salah gedung. HAHAHAHAHA. Ya sudahlah, ya. Hitung-hitung istirahat juga. Sama mbaknya saya dikasih arahan dimana gedung yang benar berada. Saya make sure juga sampai patokannya karena saya nggak mau salah lagi karena waktu semakin mepet.

Alhamdulillah BPJS Jakarta Slipi nggak gitu jauh dari sana. Nggak sepelemparan batu juga, sih tapi Alloh tolong sama jalanan yang lancar jaya. Saya sampai di sana kurang dari satu jam. Agak terkejut juga karena pas sampai cuma ada 2 orang saja yang lagi ngobrol sama satpam di bangku luar. Sementara di dalam kosong melompong, praktis cuma saya saja yang siang itu akan klaim. Satpam langsung kasih saya nomor, dan saya langsung duduk sambil menyiapkan dokumen.

Melihat di ujung ada cangkir kopi yang ditata dengan apik, saya jadi tergoda lagi untuk minum. Kali ini saya ambil kopi, sekalian untuk mengusir rasa kantuk yang mungkin datang selama menunggu. Belum lagi kopi habis saya tenggak, petugas counter memanggil nomor saya. Saya berikan surat rujukan dari Pulo Gebang, dan mbak nya langsung minta semua dokumen asli beserta foto kopinya untuk diperiksa. Kurang dari setengah jam, saya sudah diberi tanda terima - cek list dokumen beserta nomor agenda, tanggal berapa klaim maksimal cair.

Untuk persyaratan bisa bervariasi, ya. Di tanda terima yang saya terima, ada beberapa dokumen lain yang nggak diminta, seperti surat pernyataan bermaterai, surat ke disnaker, atau copy paspor. Baiknya, sebelum datang kamu bisa telepon dulu untuk memastikan apa saja persyaratan yang diperlukan untuk klaim dengan kondisi kamu yang sekarang. Kalau saya punya 2 kartu, tapi hanya bisa klaim satu saja karena kartu yang lain tidak didaftarkan JHT nya.



  

Senin, 28 Mei 2018

Buku Gratis

Saya berencana memberikan buku ini kepada siapa saja yang berminat. Tidak banyak, dan beberapa diantaranya ada yang sudah saya kasih stabilo atau saya garisi dengan pulpen. Kondisinya masih lumayan baik, dan tentu saja warnanya menjadi kuning disana sini -- terutama di pinggiran buku. Karena cuma sedikit, bila peminatnya tak banyak, yang pertama beruntung bisa membawa pulang buku-buku ini sekaligus. Namun, bila peminatnya nanti cukup banyak, satu orang bisa membawa pulang 2-3 buku. Silakan kontak atau dm saya untuk pengambilannya, ya. Semoga bermanfaat.

Kamis, 24 Mei 2018

Karena Hidup adalah (Sebuah) Pilihan


Hidup itu selalu menyoal pilihan. Akhir-akhir ini, saya lagi suka lihat Fiersa Besari. Sepertinya saya pernah dengar nama itu sebelumnya, tapi lupa kapan dan dimana. Tapi, itu nggak gitu penting, sih. Saya tertarik sama Fiersa juga karena ada sesuatu dari cerita kehidupannya yang buat saya gimana gitu. Agak nggak percaya juga karena ternyata cowok itu bisa patah hati juga, ya.

Menariknya, Fiersa juga butuh pergi dari tempat dimana dia bisa terkenang-kenang sama mantannya itu dengan pergi atau berpetualang kemana aja --sejauh mungkin. Patah hati ternyata bisa jadi trigger buat seseorang buat ngelakuin sesuatu yang mungkin terpendam, ya. Sudah pengin dilakukan dari kapan tahu tapi nggak jadi-jadi karena satu dan lain hal.

Dan, kita kadang memang harus nemuin momen kayak gitu buat bisa bergerak dan berjalan lebih jauh. Tapi, gimana kalau momen itu nggak pernah kita temuin? pasti akan lain ceritanya, kan? Kehidupan yang nyaman, segala sesuatu yang kelihatannya pasti kita terima setiap bulan, kadang bikin kita males buat mikirin yang lainnya. Mikirin ke depan, mungkin iya. Tapi, pernah nggak kita mikir kalau kerjaan kita yang sekarang mungkin saja berhenti esok hari? atau seseorang yang kita cintai, mungkin saja meninggalkan kita malam ini?

Yang pertama pernah saya alami beberapa kali. Sementara yang kedua, lebih sering. Dan saya berharap, semua itu bisa melembutkan hati saya. Bisa membantu menundukkan hawa nafsu saya yang kadang susah buat dikendalikan.

Kita tanpa sadar sering dikalahkan oleh hawa nafsu. Kita suka menerabas lampu merah, sekalipun ada polisi dengan alasan kita lagi dikejar waktu, takut terlambat sampai di kantor, ada meeting yang maha penting, dan seribu satu alasan lainnya untuk membenarkan perbuatan kita yang jelas-jelas ngawur itu.

Semuanya terasa nggak aneh, karena dari waktu jaman saya sekolah, saya sudah akrab dengan istilah peraturan dibuat untuk dilanggar. Saya juga nggak gitu ingat saya dapatnya darimana dan bagaimana, hingga akhirnya bisa sampai di kehidupan saya.

Alhamdulillahnya, itu nggak mendarah daging. Saya seperti disadarkan bahwa apa yang saya lakukan itulah yang nanti akan saya petik. Apa yang saya kerjakan sekarang, pasti akan saya terima akibatnya ke depan. Dan itu serem, bikin bulu kuduk merinding. Kalau nggak, kayaknya malah jadi lebih serem. Berarti hati kita sudah mati. Dan nggak ada yang lebih menakutkan lagi daripada itu, matinya hati.

Diingat-ingat, saya yang sekarang mungkin nggak jauh lebih baik dari yang dulu. Apa yang saya sebut perbaikan, mungkin nggak gitu signifikanlah, haha. Nyelekit, sih. Tapi itu bisa jadi masukan yang berharga kalau saja kita mau dengerin. Kadang kan suka bete, ya kalau keluarga ngomongin soal sesuatu ke kita, dan belum apa-apa kita sudah defense, ngeles gitu bla ini bla itu.

Padahal, kalau dipikir-pikir lagi apa yang mereka bilang itu kadang benar adanya. Memahami orang lain mungkin nggak betul-betul berat buat kita lakukan kalau kita mau dipahamin sama orang. Bukan cuma mau mahamin tapi ogah buat mahamin orang lain. Moga kita bisa menghindari sifat yang seperti itu, ya? Dan ini jadi salah satu yang selalu diocehin emak kalau di rumah. Dan kadang, saya malah kangen kalau emak lagi berhenti ngoceh.

Oh, ya ampun. Nggak tahu saja, kalau saya lagi beres dan normal, itu semua insyaAlloh bisa masuk dan saya dengarin. Lain halnya kalau saya lagi agak miring atau nggak beres. Hahaha. Kacau dah, masuk sih, tapi terus lewat gitu saja tanpa ada sedikitpun yang nyisa kecuali rasa bete.

Jangan dicontohlah yang begini ya, adik-adikku yang baik. Karena hidup itu cuma singkat, jadi jangan pernah gunakan waktu kalian buat sekadar have fun. Yang sekadar itu yang bahaya kalau kita nggak manfaatin dengan baik, kita yang akan dimanfaatkan oleh waktu luang. Karena kita lebih sering abai sama waktu luang juga kesehatan.

Hidup itu memang tentang pilihan. Kita akan selalu ketemu jalan kanan, kiri, juga persimpangan kalau kita lagi galau atau depresi. Jalan apapun yang kita temui di depan nanti, berpeganglah pada Al Qur'an dan As-sunnah. InsyaAlloh itu yang akan menyelamatkan kita nanti.

Pagi tadi, saya baru nonton ILC. Kebangun dan nggak bisa merem lagi memang sesuatu banget. Buka youtube, muncullah ILC dengan bahasan kejadian di Surabaya dan Mako Brimob kemarin. Dan saya setuju banget sama apa yang dibilang teman sekelasnya Pak Dita alm, kalau kita baiknya tidak menggenelarisir, apalagi terhadap sesuatu yang kita nggak tahu pasti kebenarannya.

Jadi, jangan pernah bicara kalau nggak ada ilmunya, apalagi disebar segala di status fb, wa atau apapun itu. Temannya alm. itu non muslim, dan saya, muslimah waktu kuliah dulu punya teman non muslim, Chinese dan kita berhubungan sangat baik. Dia baik banget sama saya, suka beliin saya makan siang waktu di kampus, paling sering sate dan suka ngajak saya main ke tokonya.

Kita saling menghormati, saya nggak pernah kepo soal kehidupan dia, begitupun dia ke saya. Kita tetap berteman sekalipun kita berbeda. Saya suka sedih saja kalau ada yang menggeneralisir atau menstereotipe, misal yang suka saya temukan itu kalau orang berjenggot dan celana cingkrang itu biasa dibilang sesat, teroris atau yang lain sebagainya. Kita jadi orang yang mudah banget menilai orang lain hanya karena kita dengar begini dan begitu, apalagi kalau cuma baca dan tahu dari media. Jangan langsung disebarlah. Tabayyun dulu, kalau bisa.

Jadi, kalau Aa Gym bilang cicing wae itu benar banget dan semoga bisa kita praktikkan di keseharian. Bicara yang baik atau diam. Terserah orang mau bilang apa soal kita, cicing wae selama kita yakin kita berada di jalan yang benar. Maka, lanjut saja. Karena, nggak selamanya mengikut yang banyak itu benar. Ya, nggak? contoh simpelnya saja kayak di jalan tadi.

Jelas-jelas lampu merah, tapi karena ini dan itu kita ngegas saja mumpung ada kesempatan. Atau buang sampah dari kendaraan kita ke jalan, duh, itu kok kayaknya nggak ada perasaan bersalah atau gimana, gitu. Jalanan kan bukan tempat sampah, broh. Kalau nggak nemu tempat sampah, bisalah kita simpan barang sebentar itu sampah di dalam tas, kantong atau kendaraan kita. Nggak akan rugi kan menyimpan sampah barang beberapa lama?

Jangan mengharap lingkungan kita bisa bebas dari sampah selama kita sendiri masih buang sampah sembarangan. Jangan harap kita bisa hidup dengan damai kalau kepala kita terus dipenuhi dengan prasangka. Dan sebagian dari prasangka itu adalah dosa (QS. Al-Hujuraat:12).


"Jauhilah kalian dari kebanyakkan persangkaan, sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa"
Dan soal memilih pemimpin, saya bukan hatersnya Pak Ahok juga bukan fansnya Pak Anies, tapi saya jelas akan lebih memilih pemimpin muslim jika memang pilihan itu tersedia. Karena baik saja tidak cukup, syarat lainnya itu adalah iman, karena paman nabi saja yang baiknya tidak diragukan lagi tidak bisa ditolong oleh Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam karena tidak mengucap kalimat syahadat di akhir hidupnya.

Hidup ini sangat singkat, sungguh sebentar. Sepelemparan batu. Dan rasanya hidup akan makin sia-sia kalau kita terus nyinyirin, sibuk sama hidup orang lain tanpa mau melihat apa kabar iman kita hari ini?

Sesungguhnya, kedzoliman itu adalah kegelapan di hari kiamat. Kedzoliman itu nggak akan merugikan orang lain selain diri kita sendiri. Karena yang akan dihisab itu kan perbuatan kita kepada orang lain, bukan sebaliknya.