Kamis, 21 Maret 2019

GEN HALILINTAR... PARAH!!!

Saya bersyukur dipertemukan Allah dengan Pak Hali dan Bu Gen. Satu kata buat keluarga mereka, PARAH! parah luar biasanya, parah menginspirasinya, parah perjuangan Pak Hali dan Bu Gen untuk bisa mendidik 11 anak-anak yang Allah titipkan kepada mereka hingga bisa menjadi seperti mereka yang sekarang ini.

Saya percaya di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan. Dan, bermula dari nonton vlognya Radit, Ria Ricis, Dovi, Dodit, Allah membawa saya pada akun youtube keluarga biasa yang tidak biasa, Gen Halilintar yang mengutip komen Ricis, keluarga terbaik. They are! bahkan sampai yang paling kecil, tangannya dibuka ke atas, ikut berdoa sekalipun mungkin belum mengerti tapi ia mengaminkan apa yang diucapkan sang ayah yang bagi mereka tidak akan pernah bisa tergantikan. Their mommy too, for sure.

Kita mungkin hanya bisa melihat dan tahu ada keluarga keren macam GH begitu mereka sudah dikenal dimana-mana seperti sekarang. Tapi kita tidak punya pemahaman sama sekali apa saja yang sudah mereka lalui untuk bisa berada di posisi mereka yang sekarang ini. Memang ada saja netizen yang berkata kurang baik dimana pun mereka berada (siapa saja yang berkarya dan melejit pasti ada saja yang iri), dan kita tidak wajib untuk membuat semua pihak puas. Sia-sia jika kita berusaha melakukannya karena kita tidak akan pernah bisa.

Keluarga Pak Hali dan Bu Gen membuat mata saya terbuka bahwa dibalik semua yang dilakukan orang tua kepada anak-anaknya adalah semata karena rasa sayang, kepedulian mereka kepada anak-anak mereka. Ini yang luput dan kadang membuat saya sering lupa nikmat masih bisa membersamai mereka. Walau saya masih nganggur hampir mau setahun, keluarga tidak pernah merongrong, meminta saya buru-buru kerja agar beban mereka bisa sedikit berkurang.

Setiap keluarga pasti punya masalahnya sendiri-sendiri. Setiap orang tua, well yah, memang tidak semua orang bisa seberuntung Atta dan adik-adiknya. Serius guys, kalian beruntung bisa punya orang tua seperti Pak Hali dan Bu Gen yang takut sekali kepada Allah. Itu kunci yang membuat mereka bertahan untuk tidak menuruti hawa nafsu yang cenderung membawa kita kepada keburukan.

Saya bisa merasakan anak-anak Pak Hali dan Bu Gen tumbuh menjadi anak-anak yang bukan cuma mandiri, tapi juga takut kepada Tuhannya. Rasa itu jua yang menjadi pagar untuk mereka dalam berkreasi. Atta dengan AHHA nya, Saaih dengan berbagai macam karakter yang ia tampilkan di vlognya (your kindly cool when that eyebrow came up sebelah). Yang kecil saja sudah bisa membantu meringankan pekerjaan kakak-kakaknya.

Buat saya, hanya menonton mereka saja membanggakan bahwa bangsa ini punya Pak Hali dan Bu Gen yang mendidik mereka dengan tauhid di awalnya. Sehingga itu jua yang tertanam dan membekas, sekalipun sejatinya tidak ada manusia yang sempurna. Tapi untuk mereka, anak-anaknya, pengajaran dan didikan merekalah yang bisa membuat mereka menjadi manusia seutuhnya seperti mereka yang sekarang ini.

Deeply from my broken heart I would like to say to Keluarga Halilintar;

Thank you for being there. Keep inspiring and just be who you are. 
Dan untuk netizen, be smart. Contohlah hal yang baik dan hargai karya anak bangsa. Buatlah sesuatu yang jauh lebih hebat dan membanggakan daripada kalian hanya meninggalkan komentar kurang baik yang akan berdampak buruk bagi diri kalian sendiri.

Kita tidak akan mempertanggung jawabkan perbuatan orang lain kepada kita, tapi perbuatan kita kepada orang lain yang akan Allah hisab.

And for my parents; terima kasih sudah melahirkan, merawat, mendidik kami hingga saat ini. Maafkan jika kami belum bisa membuat kalian bangga, dan mungkin menjadi seperti apa yang kalian inginkan. Tapi, percayalah, kami tidak pernah menyesal memiliki dan dititipkan orang tua seperti kalian. Kalian mungkin tidak sempurna. Teruslah membersamai kami, anak-anak kalian hingga tiba masanya kita berkumpul kembali.







 




Grup WA (Sebuah Kepura-puraan Yang Ditutupi)

Kamu percaya sukses yang tertunda? entah kenapa kita menilai kesuksesan dari materi. Materialistis, katanya. Tapi waktu dibilang matre, kita tidak terima. Tragis. Biasanya kalau ngumpul, kita akan dengan sangat senang hati menceritakan apa yang sudah kita punya. Apa yang anak kita sudah berhasil beli, kumpulkan baik itu dengan susah payah atau secara mudah. Kita baru jarang bicara kalau barang yang kita punya hasil hadiah atau pemberian.

Yang seperti ini biasanya terjadi tiap kita kumpul-kumpul. Mau itu kumpul keluarga atau kumpul bocah. Ada tulisan Andina (yang katanya satir) soal betapa ributnya grup wa keluarga. Mau left takut dikutuk, kalau stay takut nambah dosa. Dilema. Saya left grup keluarga murni karena malas ikut dalam percakapan yang kadang suka kemana-mana. Saya lalu meminta kakak saya untuk membuat grup keluarga inti. Saya masih ada di sana karena memang tidak ada yang terjadi di sana.

Anehnya, begitu ada misal anggota keluarga yang share soal agama lantas diberi cap orang yang sholih, relijius dan oleh karenanya patut diberi acungan jempol sebanyak-banyaknya (entah tulus atau sindiran). Mengapa alergi sekali dengan agama? sebagai umat beragama, sudah sepatutnya bagi kita untuk terus belajar mencari ilmu agama.

Apa yang luput diajarkan sekolah bisa senantiasa kita temukan dalam agama (kalau saja kita mau mencari). Wa grup bak buah simalakama, yang ditelan mati, dibuang sayang. Saya melihat, wa grup itu isinya lebih kepada upaya kita untuk eksis. Sama halnya seperti sosial media lainnya, hanya saja lebih intens isinya (terlebih jika isinya kita kenal semua).

Kalau kamu ditanya kenapa sih ikut grup wa? alasan pertama yang sudah pasti klise, buat silaturahmi dong. Kapan lagi bisa ketemu teman lama kalau tidak di grup. Karena kalau ketemuan kan belum tentu semua bisa. Sekalipun bisa kopdar paling yang datang itu-itu saja. 4L! Sampai sekarang pun, kalau kopdar kita ngobrolnya atau ngumpulnya sama geng kita waktu sekolah, kuliah atau kerja. Ya lingkarannya jadi itu-itu juga. Tidak berkembang. Tapi, bukankah tujuan dibuatnya wa grup itu ya buat itu? buat mengeratkan hubungan para anggotanya? entahlah. Wallahua'lam.

Buat saya sendiri, wa grup tidak masalah selama isinya memberi faedah dan manfaat. Karena dengar-dengar ada grup yang kalau bapak-bapak sharingnya suka yang aneh-aneh, hal-hal yang berbau tidak senonoh padahal mereka sudah berkeluarga. Memang menjamin ya kalau orang yang sudah berkeluarga bebas dari ngobrolin yang begituan? tidak tahu juga, sih. Menarik kalau ada yang mau bikin risetnya.

Yang pasti, dengan adanya grup wa lantas reunian, ada yang celebek juga. Cinta lama belum usai. Lebih baik sih bawa keluarga yes kalau mau reunian buat yang sudah berkeluarga. Yah untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkanlah. Karena aneh saja ada suami teman yang reuni tapi katanya tidak boleh bawa keluarga. Memang ada reunian yang seperti itu?

Hal yang lain lagi, biasanya di grup wa itu isinya manis semua. Di belakang, wallahua'lam. Ada juga sih yang ribut terang-terangan di grup. Ada juga yang manis di muka, di belakang sama-sama ngomongin. Ghibah berjamaah. Yah, gimana yah bu ibu. Alasan ini juga salah satunya yang bikin saya malas stay di grup yang mostly tidak kondusif isinya.

Kita seakan berpura-pura akrab di sosial media, padahal aslinya kita mungkin saling tidak menyukai. Semuanya hanya panggung sandiwara. Kita semua aktor bagi cerita yang kita sendiri ciptakan.

Btw, kalian punya grup wa berapa?









Rabu, 20 Maret 2019

Otw...

Kemarin, saya iseng mengirim surat elektronik kepada Sandi Uno. Dibalas. Betulan Sandi yang itu? entahlah. Tak lama selang membaca balasan emailnya, daerah rumah saya macet tidak ketulungan. Ada Sandi disana. Persis seperti balasan surat elektroniknya pada saya.

Otw...

Standar Cantik

Saya senang Aan menulis lagi di medium. Dia memang cuma cerita soal lelaki yang lemah menghadapi kenyataan. Meski begitu, saya tetap membacanya.

Tadinya saya mau membahas hal yang lain, tapi entah kenapa saya merasa penting dan berkewajiban membahas soal ini. Sepertinya ada satu tulisan menyoal ini yang saya tulis untuk lomba. Hasilnya? alhamdulillah tidak menang.

Tulisan kali ini bukan buat lomba hadirin, tenang saja. Saya masih merasa sedikit risih begitu mendengar komentar, "kok kucel amat sih? Minimal lipstik kan kek biar gak pucet-pucet amat."

Buat yang kesehariannya memang suka dandan komen kayak gini pastilah tidak akan terdengar, ya. Kalau masih ada keterlaluan.

Sebelum membahas lebih jauh, saya ingin kita sepaham dulu soal apa atau kayak gimana sih cantik itu. Saya setuju sama Ustadz Nudzul Dzikri, baik laki atau perempuan itu bisa dimasukkan dalam kategori cakep relatif dan cakep yang disetujui banyak suara.

Dan tidak tahu kenapa, media kenapa ya kalau bikin berita mesti harus ada kata cakepnya. Rame pula yang klik berita yang ada embel-embel cakepnya.

Sayangnya yang sering viral masih yang seperti ini. Padahal, kita masih bisa bikin berita dari banyak sisi lainnya. Kita sepertinya masih meletakkan penampilan, sosok ragawi figur untuk menarik perhatian khalayak ramai. Meletakkan kecantikan atau fisik yang sempurna sebagai sebuah kebanggaan. Kalau yang diberi amanah cantik, ya bangga dengan cantiknya. Kalau yang diberi amanah kaya, bangga dengan kayanya. Kalau yang diberi titipan kekuasaan, bangga atau malah dzolim dengan kekayaannya.

Kita bahkan mungkin merasa malu kalau bawa partner ke kondangan yang tampangnya masuk dalam kategori biasa-biasa saja (ini bisa diperdebatkan tentu saja). Biasa mungkin menjadi tidak masalah selama kantongnya tebal. Sama saja, kan?

Terus, ada saja orang yang melempar komentar (yang kurang bertanggung jawab) kok ceweknya mau ya sama cowoknya yang biasa banget gitu? Atau biasanya lebih kejam kebalikannya. Perempuan kan biasanya suka lebih hebring yes begitu ngomongin perempuan lain.

It's kind a weird. But it does really happen. Karena faktanya semua perempuan itu dilahirkan cantik, kita saja yang memandangnya tidak atau kurang cantik karena kita meletakkan standar kecantikan pada apa yang kita baca, lihat juga dengar di media. Ini tidak sehat, sungguh.

Waktu saya sekolah dulu, percaya tidak saya sudah baca majalah-majalah remaja yang isinya kebanyakkan membahas how to look beautiful and the bra and the bre. Pokoknya seputar kecantikan jasadiyah.

Kecantikan di dalam itu jarang banget dibahas atau yang sering disebut inner beauty. Makanya jadilah kita kalaupun cantik tapi masih suka atau malah hobi nyinyirin orang lain yang mungkin gayanya jauh lebih ok dari kita. Gimana lagi yang biasa-biasa menurut standar kita?

Ini pentingnya kita belajar standar cantik itu menurut siapa sih yang harusnya kita pakai? Kalau kita tahu dan paham kalau Allah itu tidak melihat rupa juga fisik kita melainkan ketakwaan hamba Nya, kita pasti tidak akan pusing dan menghabiskan waktu hanya untuk gimana sih biar bisa tampil cantik dan sebagainya di hadapan orang apalagi gebetan.

Kalau kata Aa Gym mau kita dandan setakarkebek orang yang lihat kita males saja gitu, malah mual kalau memang Allah mau. Intinya kan yang pegang hati setiap manusia itu Allah. Allah yang maha berkuasa membolak balikkan hati tiap anak manusia. Kitanya kadang yang tidak sadar, lupa kalau cantik, harta, kekuasaan, tahta itu cuma titipan yang sudah pasti akan hilang kapanpun Allah mau.

Jadi, kalau kita mau orang yang kita suka melihat kecantikan kita yang sejati, dekatilah yang maha memiliki hati. Sudah pacaran lama juga belum tentu ujungnya nikah. Lebih banyak ruginya (khususnya perempuan) mudharatnya kalau kita pacaran, sholihat.

Berapa banyak orang yang pacaran 5, 7, 10 tahun nikahnya malah sama pacar orang lain? Sampai ada hashtag jaga pacar orang. Ada memang yang akhirnya dinikahin sama pacarnya, tapi kita yakin tidak Allah ridho dengan pernikahan itu?

Meni ribet pisan kedengarannya? Ya buat situ saja ribet. Mending ribet di awal sih daripada kita melawan perintah Allah, di akhirnya buat Allah murka. Wal iyadzubillah.

Kita itu kan hidup di dunia cuma sementara. Dulu saya kemakan juga sama beginian. Life is short then have some fun! Work hard play hard. Ini maksudnya teh kunaon yak? Yah begitulah.

Yang betul kan work hard pray harder. Minimal seimbanglah meskipun juga susah kayaknya buat kita nyeimbangin dunia sama akhirat.

Tapi yang penting kita usaha. Yang dilihat Allah itu kan prosesnya. Hasilnya moga-moga Allah beri khusnul khotimah. Karena kesuksesan itu adalah kesudahan yang baik (khusnul khotimah).

Saya yakin ini jadi cita-cita muslimah dimanapun berada. Waktu kita terbatas, sholihat. Jangan pusing, stres sama kata orang soal penampilan kita, serius itu tidak ada pengaruhnya sama sekali sama hidup kita karena komentar manusia cuma sepanjang lidahnya kalau kata Ustadz Khalid.

Wah, referensinya Ustadz nih, mesti radikal ini yang nulis. Sok atuh, dibilang radikal mangga saja. Karena sekarang ini kita sudah seperti kehilangan makna lantas melempar kata radikal seenak jidat kita ke siapa saja orang-orang yang berseberangan dengan kita. So shallow.

Dua hari yang lalu, teman Ibu saya berpulang. Emak Ustadz Abdul Somad dipanggil pulang Allah lebih dulu. Hari ini atau besok bisa jadi giliran kita, sholihat. Jadi, manfaatkanlah waktu kita sebaik mungkin dalam kebaikan. Karena kalau kita tidak menghabiskan waktu dalam kebaikan, kita pasti akan larut dalam maksiat pada Allah. Pilihannya cuma dua itu saja.

Kebahagiaan bukan terletak pada harta, rupa, tahta dan kekuasaan, dear. Yakinlah, karena mengapa masih ada orang-orang kurang terkenal apa seperti Chester, Shinee, designer kenamaan luar negeri bunuh diri di saat hampir semua apa yang ada di dunia ini sudah dia miliki. Kesadaran ini perlu kita tanamkan dan terus kita hujamkan karena kalau tidak kita akan semakin jauh dari Allah, dan akan menjadi parah dan kerugian bila dunia sudah melekat di hati kita. Karena dunia itu hijau, manis dan ranum. Dunia sibuk berhias dan kalau kita tidak minta pertolongan Allah, kita akan ditarik dan menjadi hamba dari dunia. Naudzubillahi mindzalik.

Wallahu a'lam bisshawwab. 










Senin, 18 Maret 2019

Pengalaman Kerja di Konsultan Hukum

Saya percaya segala sesuatu yang terjadi di kehidupan kita pasti ada alasannya. Termasuk pengalaman saya kerja di konsultan hukum kemarin.

Meski hanya 6 bulan, saya jadi sedikit tahu seperti apa kehidupan pengacara. Pengacara seperti profesi lainnya semisal dokter punya latar belakang yang spesifik di bidangnya.

Dan oleh karenanya, kerjaannya pun terarah dan terukur. Mengenai pengalaman, ada lawyer di tempat saya yang pernah kerja juga di media. Mantan wartawan jadi pengacara bukan hal yang mustahil.

Mostly advokat di sana masih muda-muda, dan kantornya pun masih belia. Just in case ada yang tertarik kerja di konsultan hukum baik itu sebagai batu loncatan atau karir, ketahuilah kerja di kantor hukum itu tidak mudah, kawan!

Yang namanya pulang on time tidak ada di kamus mereka. Even yang bukan lawyer pun jadi punya pola kerja yang sama. Bisa dibilang jam kerja mereka lebih dinamis (kalau nggak mau dibilang suka-suka) karena datang bisa siang banget, pulang wallahu a'lam jam berapa.

Karena tidak ada background hukum sama sekali, sebagai orang yang ngurusi calon customer saya dibekali dulu sedikit ini dan itu. Memang hanya kulitnya saja karena kita juga diminta aktif untuk cari tahu sendiri jika ada hal-hal yang belum diketahui dan bisa dicari sendiri solusinya.

Ini agak risky menurut saya karena pengetahuan dan pemahaman saya akan hukum bisa saja berbeda dengan apa yang saya baca dari berbagai sumber yang ada. Kalau sudah begini, bertanya tentu tindakan paling bijak yang bisa diambil.

But, mereka nggak suka kalau kita terus menerus disuapi. Kerja dong, usaha dikit. Kan kamu digaji buat kerja, jadi usaha dikitlah jangan dikit-dikit nanya, dikit-dikit nanya. Gitu!

Kejam? Iya! Kenyataannya saya merasa begitu, dan mungkin ada baiknya karena di dunia hukum itu nggak ada namanya wilayah abu-abu. Kalau hitam hitam, putih ya putih.

Tapi, karena saya menangani kasus rumah tangga (divorced speciality) sedikit lebih luwes karena menyangkut banyak pihak dengan berbagai macam perasaannya.

Ada yang telepon cuma tanya-tanya dulu, ada yang manfaatin buat curcol (mumpung konsul gratis) dan kadang curcolnya nggak sebentar. Just face it. Mereka kadang datang belum dengan keputusan bulat. Masih galau dan oleh karenanya pengin tahu kayak apa sih proses perceraian.

Berwarna banget ternyata kerja di sana. Ada lawyer yang keras banget, bawaannya pengin ngajak berantem kalau ngomong. Ada yang santai, kelewat santai jadi dinilai nggak perform saking santainya dan in the end di cut sama perusahaan sebelum kontraknya berakhir. Nyelekit sih, but bisa saja itu membuka pintu yang lain buat orang itu yang jauh lebih baik.

Selain waktu dan disiplin, tingkatkanlah pengetahuan kamu seputar pekerjaanmu (di bidang apapun) yang kamu geluti saat ini. Sambil terus memperbaiki niat ya, bukan cuma untuk dinilai bagus sama perusahaan tapi karena memang sebagai ladang ibadah.

Kalau niat dari awal diperbaiki, begitu ada kejadian yang nggak cocok dengan harapan (misal seperti saya nggak diperpanjang kontrak), di phk secara sepihak, nggak diangkat-angkat jadi karyawan meskipun sudah kerja lumayan lama, kita jadi nggak kecewa terus mutusin demo itu perusahaan.

Kecuali ada hak kita yang dilanggar perusahaan, kita berhak untuk memintanya. Bisa melalui jalur hukum atau di luar pengadilan. Pelajari dulu plus minusnya seperti apa.

Well, kerja dimanapun dan di bidang apapun, just do your best. Ini masih saya pegang. Kerja nggak harus di kantor, nggak harus 8 to 5. Kamu bisa jadi freelance, freelancer yang terbaik, komit sama kerjaan dan lakukan yang terbaik. Push to the maximum limit only for Allah.

Memperbaiki niat ini membantu banget di saat saya lagi down, jenuh dan lain sebagainya.

Wallahu a'lam bisshawwab

Sabtu, 16 Maret 2019

Habis Kuliah, Mau Kemana?

Tema ini sebenarnya menggelitik sudah cukup lama. Di Indonesia, pendidikan kita tidak menyiapkan kita untuk tumbuh menjadi manusia yang sesungguhnya. Pendidikan mahal, rekayasa data, kualitas guru serta kurikulum yang seperti tidak tahu mau dibawa kemana, membuat siswa seperti hanya dijejali huruf dan angka. Padahal, sekolah formal seharusnya bisa lebih dari itu. Saya kira, munculnya home schooling merupakan buah dari keresahan para orang tua akan sekolah-sekolah yang semakin kesini semakin tidak jelas arahnya.

Dulu, saya masih merasakan kesenangan saat mau berangkat ke sekolah. Walau buku yang harus dibawa sudah banyak, saya masih menantikan waktu pergi ke sekolah. Sekalipun teks book, guru-guru di zaman saya dulu tahu bagaimana harus mendeliver apa yang ada di dalam buku kepada murid-muridnya dengan cara yang menurut mereka paling baik.

Dan di setiap zaman, pasti ada yang namanya guru killer. Sekalipun begitu, guru killer itu tidak lantas membuat saya berpikir ulang untuk berangkat ke sekolah. Saya masih senang dengan pelajarannya dan tidak merasa khawatir akan dijatuhi hukuman ketika tidak bisa mengerjakan soal waktu disuruh maju mengerjakan soal di papan tulis. Walaupun jujur kekhawatiran bakal malu di depan cowok yang kita suka kalau masa iya tiap kali maju tidak berhasil memecahkan soal yang diberikan. Sounds cheesy? yeah, but it happened sometimes dan wajar banget kalau kita mengalaminya.

Saya sudah merasakan tekanan harus dapat rangking dari zaman sekolah dulu, dan sepertinya hal itu nggak berubah di zaman keponakan saya sekarang yang katanya sudah serba canggih. Belajar, ujung-ujungnya cuma gimana biar bisa dapat rangking, nilai yang tinggi yang nantinya bisa jadi kebanggaan buat diomongin di lingkungan sosial keluarga kita.

Buat saya, persoalan ini sangat serius karena murid mendapat tekanan dari berbagai sisi. Belum lagi kendala yang bisa kapanpun ditemui di sekolah. Kenapa sih kita harus dapat nilai tinggi? katanya sih, biar gampang diterima di dunia kerja. Saya nggak tahu, tapi, buat saya sendiri, rasanya agak sedikit picik kalau manusia hanya dinilai dari nilai di selembar ijazah. Emosional pun bisa diukur, I don't know how, but for me, setiap manusia itu masing-masing punya kelebihan dan keunikannya masing-masing.

Apa yang luput dilakukan sekolah adalah tidak adanya dukungan untuk memunculkan potensi ini. Menghafal segala macam nama, tanggal, tahun, bukan tidak penting, tapi, mengetahui latar belakang mengapa sebuah kejadian terjadi menurut saya jauh lebih penting daripada sekadar menghafal angka. Biasanya, kalau anak-anak yang jago matematika, biologi atau fisika, ilmu-ilmu alam gitu bakal mendapat cap anak jenius dan oleh karenanya berhak masuk ke kelas IPA. Well, itu salah satu dari sekian potensi yang bisa dimiliki setiap dari anak-anak kita.

Dan kadang, orang tua juga jadi rada gimana gitu kalau anaknya tidak memiliki kemampuan berhitung yang baik. Karena ada anak yang mathnya kurang, tapi jago main bolanya. Atau kemampuan musik atau olah tubuhnya di atas rata-rata anak-anak lainnya. Ini yang juga luput diperhatikan orang tua. Orang tua seperti mau menyamakan anaknya dengan anak-anak lain yang mereka ketahui referensinya karena ya memang contoh itu yang mereka temukan atau mereka dengar.

Maksud orang tua mungkin baik, tentu nggak ada orang tua normal yang mau menjerumuskan anaknya. Tapi, orang tua juga perlu belajar untuk melihat, menghargai, menerima, dan in the end mendukung potensi yang dimiliki sang anak. Bukannya malah memaksakan kehendak mereka karena misal, mereka belum sempat mewujudkan satu mimpi sehingga merasa wajib mewujudkan mimpi itu melalui sang anak.

Setiap ditanya terus habis kuliah mau kemana? pasti kita jawabnya kerja dong, ya. Jarang  yang menjawab secara gamblang atau jelas mau bikin ini atau mau buat itu karena kita memang tidak pernah diarahkan kesana baik oleh sekolah atau orang tua. Dan orang tua, biasanya menyerahkan segala sesuatunya kepada sekolah. Padahal, pendidikan itu tetap tanggung jawab dan main area dari tugas orang tua yang seabrek.

That's why menikah dan kemudian punya anak (jika dianugerahi Allah SWT) menjadi hal yang sangat tidak sepele. Tapi, memang tidak semua kita diciptakan untuk bisa membuka lapangan pekerjaan sendiri. Ada yang memang sudah dari lahir bakatnya menjadi karyawan, dan ada yang ditakdirkan garis tangannya untuk menjadi pemimpin.

Menarik mengetahui bahwa seorang sahabat yang sholehnya tentu tidak lagi diragukan, sangat tawadhu, tidak bisa berada pada posisi pemimpin karena dia lemah sebagai seorang pemimpin. Sementara ada sahabat yang dimanapun dia berada, dia hanya cocok menjadi pemimpin, bukan anak buah. Kesadaran ini yang ditumbuhkan rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam yang dengan sendirinya membuat para sahabat ini tahu dimana harus menempatkan diri.

Tentu mereka tidak sempurna, karena tidak ada manusia yang sempurna kecuali para nabi yang kesalahanya langsung dikoreksi Allah SWT (dan mendapat bimbingan langsung dari Allah), dan oleh karenanya menjadi sangat memungkinkan bagi kita untuk mencontoh mereka dalam kehidupan keseharian kita.

Jadi, sangatlah tidak mungkin jika kita memisahkan agama dari keseharian kehidupan kita, karena dasar atau pondasi dari hidup kita adalah agama. Agama yang membuat kita menjadi manusia yang punya nilai, punya adab, dan punya pemahaman yang didasari wahyu dari Rabbul 'Alamin.

Buat adik-adik yang mungkin membaca tulisan ini, lakukanlah apa yang menurut kalian paling baik untuk kalian juga keluarga. Karena satu, tidak semua orang bisa merasakan pendidikan hingga bangku kuliah. Serius, biaya pendidikan di Indonesia sangat tidak make sense. Kualitasnya pun semakin kesini semakin menurun. Itu sebabnya kenapa banyak dari kita yang berusaha mati-matian mengejar beasiswa ke luar negeri karena kita merasa pendidikan di luar punya sistem yang jauh lebih baik dan berkualitas dibanding pendidikan di dalam negeri. Itu sebabnya kenapa para elit juga suka plesir studi banding ke luar.

Sementara pendidikan di dalam negeri, kita masih struggling sebatas, keren mana anak-anak UI atau ITB? diskursus ih UI, pasti pinter deh, calon mantu idaman banget semacam ini yang bikin anak-anak di luar dari kampus-kampus itu merasa pupus sudah harapan hidupnya. Hahaha. Berlebihan? I don't think so. Tapi, kamu boleh tidak sepaham. Dan kita bisa diskusi lebih jauh soal ini. But, sorry saya tidak akan melayani kenyinyiran, siapapun anda di luar sana. 

Saya tidak bilang untuk kita tidak perlu mengejar beasiswa, go for it kalau memang itu dirasa berguna bagi kita. Karena faktanya, ada mereka-mereka yang kuliah di luar negeri dengan beasiswa menghasilkan sesuatu untuk negaranya setelah mereka kembali. Mungkin memang pendidikan itu belum ada dan bisa ditemui di Indonesia, atau mungkin saja sudah ada namun belum berkembang sehingga mereka harus langsung belajar dan mengambil pengalaman dari para pakar di bidangnya untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang komprehensif. Ini tentu sangat baik.

Nabi pun diminta Allah untuk membaca sejak ayat pertama turun sekalipun berasal dari kaum yang ummi. Mau kuliah dimanapun, atau mau kuliah atau tidak jawabannya cuma Allah dan kita yang tahu. Dukungan dari keluarga, lingkungan terdekat itu sangat penting karena kalau bukan keluarga yang mendukung pilihan kita, siapa lagi? kalau kita tidak masuk disana, di luar sana bisa saja ada pihak-pihak yang siap menggantikan posisi lowong itu. Dan itu bisa saja dimanfaatkan oleh sekelompok orang yang tidak mau anak kita tetap berada di jalan yang benar.

Saya sempat ngobrol sama anak yang baru lulus tahun lalu, dan masih merasa bingung mau melakukan apa setelah lulus karena satu, dia merasa dia kuliah di jurusan yang tidak dia senangi, kedua, kalaupun dia mau kerja, dia mau kerja di bidang yang di luar dari apa yang dia pelajari di kampus. Ini, kalau di interview beasiswa mungkin dibilang tidak linier, ya. Tapi, berapa banyak sih dari kita yang kerja sesuai dengan jurusan kita kuliah? saya sendiri pengalaman kerja saya tidak berhubungan secara langsung oleh jurusan waktu saya kuliah.

Saya termasuk yang salah jurusan, karena faktanya saya lebih suka bidang komunikasi massa dibanding public relations. I am not really good at facing people in crowd, dan itu juga mungkin yang menyebabkan mengapa saya tidak begitu suka politik. Tapi, kita melakukan politik hampir di setiap keseharian kita. Kita berpolitik di depan pasangan, dosen, bahkan teman. Lupakan tentang teman makan teman, tapi, kita bisa mulai membiasakan diri untuk tidak mengurusi dapur orang lain.
Dengan cara apa? matikan televisimu! well, kita bisa bahas ini di lain kesempatan, insyaalloh.

Adik-adik yang terkasih, jangan stres soal ini. Soal mau kuliah dimana, ambil jurusan apa, bicarakan saja dengan orang tua, keluarga, teman atau siapapun yang menurut kalian bisa kalian ajak bicara. Dan yang terpenting, kalian bisa mempercayai kalau orang itu menginginkan kebaikan untuk kita, bukan sebaliknya. Minta tolong sama Allah untuk menguatkan pilihan yang kita ambil, karena yang perlu kita pahami adalah, Allah tahu yang terbaik untuk hamba Nya.

Dan itu bisa sangat cocok dengan apa yang kita mau, atau sebaliknya. Bisa saja kejadian apa yang tidak kita suka tapi itu yang terbaik menurut Allah untuk kita, ask Allah guidance. Kalau sudah ada pilihan, minta tolong dan bantuan Allah untuk memantapkan hati, then go for it. Kejarlah apa yang kalian cita-citakan, dan semoga semua lelah kita adalah hanya untuk mendapat ridho Allah SWT semata. 

WAllahu ta'ala a'lam bisshawwab

 





Senin, 11 Maret 2019

Versus (Perempuan Bekerja dan Ibu Rumah Tangga)

Saya punya impian, saya akan berhenti bekerja kantoran jika Alloh mengizinkan saya menikah suatu saat nanti. Memang belum terbayang. Sungguh. Dulu, saya melihat rumah tangga itu sebagai sesuatu yang menakutkan. Komitmen, tangggung jawab, perbedaan, yah hal-hal semacam itu. Pantas saja lelaki saat ini berat ya ketika ditanya, 'jadi kapan kamu melamar aku?' padahal jawabannya tidak harus tepat waktunya. Paling kamu cuma akan diputusin kalau kelamaan gantung anak orang. Itu alamiah saja.

Jawaban kemungkinan belum siap mungkin tidak akan muncul kalau kita mempersiapkan anak-anak kita, baik laki-laki atau perempuan untuk menjadi seorang istri atau suami. Zaman orang tua kita dulu, mungkin tidak ada tempat untuk mereka menimba ilmu, menyiapkan bekal bagaimana menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kita kelak.

Di Al Qur'an sendiri, tugas seorang istri itu jauh lebih banyak porsinya dibicarakan dari peran ibu dan anak. Kita harus kembali, melihat, mempelajari seperti apa Al Qur'an memotret peran perempuan yang sungguh sangat dimuliakan dalam Islam.

Saya baru membaca kisah Ummu Hani yang menolak pinangan baginda Nabi, merupakan sosok perempuan yang kuat dan menjadi tauladan bagi anak-anaknya. Sebagai single fighter, tentu tidak mudah bagi Ummu Hani menghidupi anak-anaknya sendiri. Bekerja, membanting tulang untuk dapat memenuhi kebutuhan anak-anaknya pasti akan terasa sangat berat kalau kita berpikir kitalah yang memberi mereka makan, minum, pakaian dan lain sebagainya.

Menjadi single mother yang bekerja, kalau direlasikan sekarang ini sama tidak mudahnya. Kemungkinan besar jauh lebih sulit sekarang ini karena godaan datang bukan hanya dari depan, tapi juga belakang, kanan dan kiri kita. Pilihan menjadi ibu bekerja atau ibu rumah tangga saja harusnya tidak lagi menjadi polemik, perbincangan hangat baik di dunia maya atau di dunia nyata. Faktanya, masih ada yang menulis soalan ini.

Obrolan seputar ini pun tampaknya masih bisa kita dengar dengan mudah di telinga kita. Di warung-warung dekat rumah sampai kafe papan atas, kalau perempuan kumpul, obrolan seputar ini mungkin tidak akan pernah terlewat. Saya sendiri, karena belum menikah, mungkin lebih penasaran kepada kenapanya. Kenapa teman SMP saya yang sudah cape-cape jadi PNS, resign. Kenapa seorang perempuan yang sudah jadi abdi negara, mengajukan surat pengunduran diri yang luar biasanya mendapat dukungan dari orang tuanya selain suami juga anak-anak yang sangat membutuhkan sentuhannya di rumah.

Biasanya hambatan paling besar yang ditemui kita sebagai perempuan kan datangnya dari orang tua ya, keluarga dekat. Karena saya pun dulu begitu, sangat wajar kalau saya masih mempertimbangkan saran mereka karena saya belum menikah. Namun, bagi yang sudah menikah, suara suami tentu menjadi pertimbangan utama bagi kita sebagai istri dalam mengambil keputusan segala sesuatu. Karena dalam Islam, setelah menikah, semua beban serta tanggungjawab dari orang tua pindah ke pundak suami kita ketika ijab sudah diucapkan.

Itulah sebabnya mengapa menikah bukan hal yang main-main. Pernikahan itu berat, kalau kita tidak tahu alasan paling dasar mengapa kita harus menikah. Ini juga alasan mengapa arsy Alloh berguncang, bayangkan betapa besar beban orang tua yang mendidik, merawat, menjaga anak perempuannya dipindahkan ke bahu seorang laki-laki yang mungkin baru saja dikenalnya?

Namun, ini bisa juga menjadi sangat ringan ketika kita sudah tahu dengan siapa kita akan menitipkan anak perempuan kita. Kepada laki-laki yang seperti apa, apakah seperti sahabat Nabi atau Fir'aun, ini tentu menjadi PR besar bagi orang tua sebelum menikahkan anak perempuannya. Karena di zaman Nabi, seperti hal nya memilih pemimpin, merem saja Nabi tidak kesulitan menemukan sosok laki-laki terbaik untuk dijadikan menantu dari anak-anak perempuannya yang dilahirkan oleh wanita suci, bunda Khadijah radiyallahu 'anha yang dinikahi 15 tahun sebelum masa kenabian. 

Apakah kita tidak ingin mencontoh makhluk paling mulia di muka bumi ini? perempuan berhenti bekerja kantoran itu bukan berarti pure tidak bekerja, ya. Jika memang dirasa dibutuhkan, karena perempuan butuh juga mengaktualisasi dirinya, bekerja bukan sesuatu yang dilarang. Apalagi sekarang ini kita sudah bisa bekerja dari rumah, secara online ya. Baik itu menjadi reseller atau menjual produk hasil karya kita sendiri. Lakukanlah. Islam tidak pernah melarang itu.

Tentu tangan perempuan sangat dibutuhkan terlebih di bidang-bidang yang banyak dibutuhkan perempuan lainnya, seperti bidan, dokter, guru, dan profesi lain yang disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan zaman. Kita patut bersyukur, sejak dulu hingga kini, perempuan tidak perlu merasa termarjinalkan dengan hanya bekerja di rumah karena rumah merupakan ladang pahala bagi kita. Dari rumah, lahirlah generasi-generasi besar, seperti Usamah bin Zaid, Abdullah bin Umar hingga Imam Syafi'i yang lahir dari tangan-tangan perempuan yang kokoh imannya.

Kita mungkin lupa, bahwa sebagai umat Islam, kita punya panutan yang senantiasa dapat kita jadikan teladan, namun, sayangnya kita lebih memilih mengambil orang-orang barat untuk dijadikan contoh oleh anak-anak kita.

Saya menulis ini karena terkenang, betapa besar jasa seorang istri sekaligus ibu, ibu saya yang jasanya sungguh tak akan pernah bisa saya balas sampai kapan pun. Menjadi penting, tentu bagi kita seorang anak (baik laki-laki maupun perempuan) untuk dimunculkan rasa ini, karena rasa inilah yang dapat mengikat hati kita kepada amanah yang dititipkan Alloh kepada kita. Ini tugas yang tidak mudah bagi orang tua. Mendidik anak menjadi seorang istri juga suami, namun bukan mustahil untuk dilakukan.

Saya ingin mengambil contoh mbak Icha yang saya kenal melalui Facebook. Saya mengagumi beliau karena beliau mendidik anak laki-laki satunya dengan sangat baik. Ini menurut pendapat saya, tentu saja. Di usia Fatih yang belum lagi 10 tahun, ia sudah pandai membantu ibunya bekerja di dapur. Pun pekerjaan lain, tampaknya Fatih tidak memiliki kesulitan yang berarti. Fatih membuat segala sesuatunya sendiri, tentu dengan bimbingan kedua orang tuanya. Seperti saat ia harus membuat tugas sekolah (saya lupa membuat prakarya apa), ia mengerjakan pekerjaan itu dengan sangat baik (baik itu sendiri atau berkelompok).

Saya mengetahuinya karena mbak Icha kerap berbagi seputar kehidupannya kepada teman-temannya di sosial media. Ini sungguh menyenangkan karena bagi saya, mbak Icha yang fokus di rumah merawat Fatih dengan sangat baik. Tentu, sebagai seorang istri, kita harus tahu di usia berapa anak kita harus memiliki suatu keahlian. Kebiasaan ini, di luar memang sudah dilakukan secara mandiri oleh para orang tua karena alasan ekonomi.

Bu Elly Risman berbagi di acara seminarnya yang saya tonton di youtube, pengalaman beliau waktu menjadi asisten guru di sebuah sekolah. Ketika ada anak murid yang ke sekolah memakai jeans (umurnya di bawah 5 th seingat saya), spontan Bu Elly gemes karena si anak terlihat kesulitan mengancingkan kancing celananya. Kalau kita di Indonesia, kita pasti dengan sangat senang hati membantu anak itu menyelesaikan kesulitannya, ya.

Tapi, tahukah kita apa reaksi si anak waktu mau dibantu Bu Elly? anak itu spontan menjawab dengan ketus, "No, you think I'm a baby?" what? Haha. Ini lucu menurut saya sekaligus menyedihkan karena menjadi tamparan buat kita. Sepertinya pembahasannya sudah semakin melebar. Mari kita bertemu lain kali untuk membahas hal ini, ya.     

Oh, ya. Ke depan, saya akan mencoba membuat artikel versus untuk tema atau topik-topik yang dirasa menarik dan dibutuhkan. Silakan jika ada saran versus apa yang mau dikulik, tentu saja dari sisi saya sebagai pengacara. Pengangguran banyak acara.

Wallahu a'lam bisswwab