Sabtu, 04 Mei 2019

Cintai Dirimu Sendiri (Sudahkah Dirimu Memeluk Dirimu Sendiri Hari ini?)

Salam...

Apa kabar, ladies? Semoga selalu dalam keadaan sehat wal'afiat, ya. 

Belakangan, saya lagi senang buka channel Aida Azlin dan Bukalapak. Ini tidak berbayar, ya, tidak promosi juga. Kalau ada yang tanya kenapa 2 channel itu? Kamu harus merasakannya sendiri. Coba buka sendiri, deh. Dan kemudian, temukan sensasinya.

Oh iya, sebelumnya, saya mau minta maaf dari lubuk hati yang paling dalam maaf lahir bathin buat siapa saja di luar sana yang mungkin sengaja atau tidak pernah tersinggung atau tersakiti oleh perkataan maupun perbuatan saya.

Mohon dibukakan pintu maaf yang seluasnya, ya ladies. Ramadan tahun ini alhamdulillah sudah di depan mata. Walau begitu, tidak ada satu pun dari kita yang tahu, kita akan bisa merasakan ramadan tahun ini atau tidak. 

Semoga Allah sampaikan kita pada ramadan, minimal tahun ini dan tahun2 mendatang, aamiin. Karena ada beberapa orang yang saya kenal dan cukup dekat di hati, berpulang mendahului. 

Bisa jadi, sangat bisa jadi besok giliran kita. Wallahua'lam bishawwab. 

Saya akan coba cerita sedikit kenapa saya lagi suka buka 2 channel itu. Saya termasuk tipe orang yang tidak bisa melakukan sesuatu tanpa saya tahu kalau saya bisa mendapatkan sesuatu yang baik dan bermanfaat dari apa yang saya kerjakan.

Saya serumit itu, memang. Saya baru sadar karena seringkali dipaksa sadar oleh orang terdekat, kalau saya itu ternyata orangnya ribet banget. Saya bisa bilang kalau saya tidak setuju, tapi mari anggap saja bahwa itu benar.

Waktu saya bilang, saya butuh misal mengetahui visi misi dari calon pasangan saya, ada yang bilang, "elo kan bukan mau jadi presiden, helow!!! Buat apa coba pakai tanya2 visi misi orang, coba." Ini terdengar tendensius, dan meremehkan bagi saya.

Ini memang tidak persis sama, tapi apakah seorang pewawancara akan terdengar bodoh waktu menanyakan alasan mengapa kamu melamar dan membutuhkan pekerjaan ini? Dan mengapa kami harus mempekerjakan kamu?

Saya tidak tahu kenapa, mungkin karena saya agak sedikit sensitif begitu masuk ke tema2, katakan seperti asmara, saya jadi gampang baper sama omongan yang menurut saya terkesan tendensius.

Untuk persoalan kehidupan pribadi, perasaan sensitif atau terlalu peka itu penting dan mahal, tapi mungkin agak sedikit berlebihan kalau kamu terapkan dalam kantor atau pekerjaan.

Galau atau baper soal asmara sih, misal buat kamu yang belum dipertemukan dengan jodohnya, mohon maaf sekali terdengar sedikit kurang penting. Bukan berarti saya meremehkan pernikahan, ya. 

Saya setuju dengan apa yang dikatakan Aida, bahwa jika kita belum menikah juga hingga di usia kita yang sudah berkepala2 ini, mungkin Allah masih ingin mendengar doa2 kita.

Mungkin Allah masih ingin melihat kita melakukan hal2 yang mungkin tidak bisa kita lakukan lagi ketika kita sudah berumah tangga. Sikap saya yang cenderung cuek, kadang jadi membuat sebagian orang salah paham. 

Walaupun saya juga tidak berkewajiban untuk membuat orang2 itu untuk paham, tapi minimal, mari kita mulai untuk tidak menilai cara pandang atau nilai hidup seseorang melalui kacamata kita sendiri.

Sampai sekarang, sebenarnya saya masih belajar untuk tidak memandang remeh pada keputusan yang orang lain ambil pada hidupnya. Misal, ada perempuan yang setelah berhijab akhirnya memutuskan untuk membuka hijabnya.

Atau ada orang yang terkenal, banyak uang, kaya, dielukan namun memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan berbagai macam cara. Di satu sisi, kalau kita melihat, ini terdengar sangat menyedihkan.

Tapi, tahukah kita kalau kita juga bisa sangat mungkin berada pada posisi orang2 tersebut, tentu saja dengan situasi dan kondisi yang tidak persis sama.

Saya, entah bagaimana merasa ada teman begitu mengetahui bahwa ada manusia yang juga tidak punya banyak teman seperti saya. Orang sekelas Aan Mansyur, kamu percaya kalau dia tidak punya banyak teman dalam hidupnya? 

Kalau mau dibikin baper, pemikiran tidak punya teman saja bisa jadi alasan yang cukup untuk bunuh diri. Dan pikiran itu, percaya atau tidak pernah terlintas di benak saya. Beberapa kali.

Dan saya yakin, tidak ada orang yang tertarik mengetahui fakta ini. Lain halnya, mungkin bila saya seorang yang punya nama besar, terkenal, cantik lagi kaya. Sayangnya, kita, manusia seringkali masih mengukur seseorang dari materi dalam hal memilih jalan hidup.

Seperti misalnya, milih pasangan sih boleh2 aja, tapi lihat dululah, ngaca pantas nggak orang kayak kita buat milih2. Iya masih mending kalau ada yang dipilih, ini, yang ngelirik aja juga nggak ada. Yang ada pada males orang.

Lalu saya berusaha untuk berpikir, apa iya karena keadaan saya yang seperti ini, lantas saya tidak berhak menentukan jalan hidup saya sendiri? Saya tidak boleh memiliki keinginan A, B, C atau D? mengapa kita begitu sempit sekali dalam menilai hidup seseorang? terlebih bila orang tersebut adalah orang2 paling dekat dalam hidup kita.

Bukankah seharusnya, jika kita tidak bisa memberikan dukungan, minimal kita tidak nyinyir pada pilihan atau nilai hidup yang orang lain miliki. Entahlah, mungkin pikiran saya saja yang terlalu rumit. Tapi, saya tidak akan pernah mungkin bisa menyenangkan semua pihak. Kita semua begitu, kita semua tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang.

Jikalau ada yang harus kita senangkan, saya kira, Allah lah satu-satunya yang paling berhak untuk kita senangkan. Dan memiliki pemikiran seperti ini, entah bagaimana membuat saya cukup ringan dalam memandang hidup. Bahwa hidup, tidak selalu harus sesuai dengan apa yang saya inginkan.

Bahwa Allah tidak harus selalu mewujudkan apa yang kita inginkan. Orang tua saya ingin saya menikah cepat, dari usia muda, mungkin. Dan saya tidak tahu, mengapa keinginan orang tua saya itu belum terwujud hingga di usia saya sekarang ini. Satu per satu, teman di lingkaran dalam saya melepas status sendirinya, menikah dan ketika saya tanya apakah mereka berbahagia, jawabannya sangat beragam.

Saya kira saya tidak perlu menguraikan jawaban itu satu per satu. Yang pasti, kamu tidak perlu menunggu statusmu berubah hanya untuk berbahagia. Lagipula, perasaan bahagia itu hanya Allah yang bisa memberikan. Kalau saja orang bisa bahagia hanya dengan uang banyak, terkenal, berkuasa, saya kira tentu tidak akan ada orang yang mengakhiri hidupnya dengan jalan pintas.

Saya senang bisa menemukan nama-nama seperti Fiersa Besari, Aan Mansyur, Eka Kurniawan, Mira Lesmana, Dzawin, Kharis Junandharu, Fadly Padi, karena saya jadi bisa lebih luas memandang bahwa setiap orang dilahirkan dengan keunikan dan kelebihannya masing-masing. Kekurangan? tentu saja manusia tidak akan lepas daripadanya. Namun, apakah kita harus selalu memandang manusia dari kekurangannya?

Di saat kita seharusnya bisa melihat dunia dari sisi positif, alih-alih kita malah memandang sinis kehidupan, mencurigai Sang Pencipta hanya karena hidup kita tidak sebaik kehidupan orang lain. Saya kira, tidak ada orang yang senang bila hidupnya dibandingkan dengan orang lain. Dengan saudara kandung saja mungkin kita tidak senang dibandingkan, apalagi dengan orang lain?

Kalau kamu orang yang luwes, terbuka, gaul dan mudah beradaptasi, mungkin hal seperti ini bukan hal yang besar. Tapi, untuk orang-orang seperti saya, yang tidak begitu suka berada di keramaian, bicara di depan banyak orang, lebih sering mengurung diri di dalam kamar, sibuk dengan pikiran saya sendiri, hal seperti ini adalah sesuatu yang tidak kecil. Tidak sepele. Dan saya, tidak pernah ingin meremehkan apa-apa yang menurut saya kecil, bisa jadi sangat besar bagi orang lain.

Saya bahagia masih menemukan orang-orang seperti Dzawin yang bisa memandang orang lain bukan dari kacamatanya sendiri. Namun, ia berusaha menempatkan diri pada posisi orang tersebut. Bahwa, tidak ada orang yang ingin dilukai harga dirinya. Bahwa setiap orang unik dengan perbedaannya. Dan perbedaan, bukan sesuatu yang bisa begitu saja kamu tertawakan (mau dari sisi manapun kamu melihatnya), saya kira, perbedaan itu hadir sebagai pertanda bahwa kita hanyalah manusia yang tidak punya kuasa (hak) untuk menghakimi orang yang berbeda dengan kita.

Saya, tidak pernah suka dangdut koplo, dari dulu. Namun, saya kira saya tidak lantas berhak mencela orang2 yang suka mendengar dangdut koplo. Saya tidak pure tidak suka dangdut, karena saya suka dengan beberapa karya H.Rhoma Irama. Saya paling tidak suka melihat orang yang menyerobot antrian, membuang sampah dari dalam mobil atau kendaraan pribadi, namun, apa dengan begitu saya menjadi punya hak untuk merasa lebih baik hanya karena memiliki perasaan itu?

Aida, saya merasa beryukur dapat menemukannya di waktu yang Allah pilihkan. Dan Dzawin, saya dapat merasakanmu. Ditinggal nikah? yah, siapa yang tidak pernah mengalaminya, Win? saya kira, kita akan menjadi sedikit lebih kuat setelah melalui begitu banyak ujian serta cobaan yang datang silih berganti. Kita tidak pernah tahu, ujian atau cobaan itu akan membawa kita kemana. Yang pasti, yang harus kita lakukan, kita jangan pernah berburuk sangka, curiga pada Allah bahwa Allah membenci atau tidak menyukai kita dengan terus memberikan ujian atau cobaan.

Justru, Allah mencintai hamba-Nya dengan jalan terus memberikan ujian. Bukankah sahabat yang sangat dicintai baginda kita juga diberikan ujian yang tidak ringan? seharusnya kita merasa malu, karena mungkin ujian kita tidak bisa dibandingkan dengan ujian yang harus mereka lalui hanya untuk bisa terus membersamai manusia paling mulia di muka bumi.

Dari kesendirian, Aan mencoba untuk menemukan dirinya sendiri. Kita tidak akan pernah bisa menjadi orang lain, atau bahkan mendekati, namun, kita bisa menjadi manusia yang paling beruntung di muka bumi, jika kita mau berusaha untuk mensyukuri apa yang masih Allah percayakan.

Menerima kekurangan, melepaskan masa lalu (yang mungkin sangat kelam dan gelap), menertawakan kebodohan diri sendiri, mungkin bukan hal yang mudah dilakukan. Namun, bukan berarti tidak bisa kita lakukan. Jika orang terdekat kita, tidak bisa memberikan dukungan, mungkin itu pertanda bahwa jangan pernah sekali-kali kita menaruh harapan kepada manusia. Karena manusia, tidak akan pernah bisa memberikan manfaat atau mudharat tanpa izin Allah Swt.




 














Sabtu, 27 April 2019

What is your dream job?

Have you found one? Pertanyaan ini mirip2 seperti dilempar pertanyaan, is he the one? Haha. Sejujurnya, sampai di umur saya yang sekarang ini, pertanyaan ini kadang masih suka melintas sekalipun tidak sampai mengganggu lalu lintas hati.

Pertanyaan singkat yang tidak mudah untuk dijawab. Pertama, kita bisa mulai dulu dari apa sih definisi pekerjaan impian kita? Apakah yang sesuai passion? Atau yang sudah kita lakoni terlebih dulu terus baru bisa kita rasakan, apakah kerjaan itu benar2 our dream job.

Pertanyaan ini sifatnya sangat personal, sebetulnya. Tidak ada jawaban yang betul atau salah. Saya sendiri pernah punya mimpi pengin jadi pebulu tangkis macam Susi Susanti, Butet atau Mia Audina.

Saya juga pernah memimpikan jadi penyiar, reporter dengan reportase khusus, polwan, bidan sampai wartawan. Ada yang Alloh sampaikan, ada yang nyaris, banyak yang harus saya kubur dalam2 dengan berbagai macam pertimbangan.

Tapi, saya termasuk yang setuju kalau apapun pekerjaan yang sedang kamu tekuni saat ini, cintailah pekerjaan itu dan berusahalah untuk memaksimalkan potensimu disana.

Kadang, kita bisa masuk atau terlempar di bidang yang sama sekali bukan kita atau tidak sesuai dengan jurusan yang kita ambil. Istilahnya tidak linier. Tapi, menurut saya itu bukan patokan dan tidak ada yang mengharuskan kamu untuk seperti itu.

Waktu ditanya saat interview, kenapa kamu suka sekali pindah2 kerja, jawaban yang saya kasih bisa sangat klise sekali atau diplomatis. Yang pasti, saya yakin waktu kita memutuskan untuk tidak lanjut atau berhenti di tempat kerja, kita harus melalui berbagai macam hal yang tidak ringan.

Apapun alasan itu, saya hanya bisa meyakini diri saya sendiri, bahwa dimanapun Allah menempatkan saya, saya harus berusaha semaksimal mungkin.

Sebelum pertanyaan ini kita jawab, atau sebelum kita memutuskan resign, yakinkah kita akan mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik dari yang sekarang? Jika ya, mau sampai kapan karena manusia tidak akan pernah ada puasnya.

Saya baru teringat kalau kita lebih baik ahli di satu bidang daripada bisa mengerjakan banyak hal tapi sekadar bisa atau tahu. We're not mastering it at all. Sehingga, yang perlu kita lakukan saat ini adalah terus belajar dan mengasah skill kita yang sudah Alloh berikan.

Knowing and find that potential first, then let Alloh help you find the best job for you. Let Alloh do the rest. All we need to do is keep trying to be a better person in Alloh's eye and keep khuznudzon to what Alloh has written for us in Lauh Mahfudz.

I know, it is not an easy job to do. Terlebih untuk yang masih jobless atau menganggur, ya. Trust me, Alloh lebih tahu pekerjaan apa yang paling baik untuk kita. Find it, and ask Alloh to make it easy for you to mastering it so whatever your role in your company would benefit a lot of people.

Bukankah baginda shallalahu 'alaihi wassalam telah berkata, "manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya"

Buruknya pelayanan transportasi kita?

Assalammu'alaikum,

Ladies, apa kabar? Semoga sehat jasmani dan rohani, ya!

Ladies, buat kamu yang biasa berkegiatan di hari Sabtu (kerja, kuliah, dagang, dll) mungkin sudah terbiasa untuk mengatur waktu perjalanan kamu, ya.

Saya tidak. Dulu sih, pernah waktu saya bekerja sebagai call center. Tapi, setelah itu bisa dibilang saya bekerja office hour only. Even di media (untuk internal), saya kerja Senin-Jum'at.

Di luar itu pernah tapi bisa dihitung jari. Nah, hari ini karena saya pikir wiken, pasti bakal santai, ya jalanan. Dan ternyata saya salah. Perginya sih saya tetap memutuskan naik kereta, sementara untuk pulang saya mencoba naik transjakarta.

Yang dimana kayaknya keputusan yang kurang bijak karena jalur yang saya lewati itu sangat tidak steril. Rute Dukuh Atas itu tidak seperti jalur Sudirman atau Blok M yang bisa ada petugas yang menjaga jalur busway.

Di jalur ini, jangankan petugas, pembatas jalur buswaynya saja tidak ada. Jadi, otomatis moda transportasi dengan rute yang satu ini tidak recomended, terlebih buat kamu yang diburu waktu.


Saya pikir, pemkot bisa membicarakan sterilisasi jalur busway di Jakarta Timur, karena jumlah penumpangnya cukup banyak.

Macet harusnya tidak menjadi jadi soal jika jalur dijaga kesterilannya. Selain itu, jumlahnya juga harus diperbanyak. Untuk rute2 yang sedikit penumpangnya, saya pikir bisa dialihkan untuk yang lebih banyak penumpangnya.

Pemerintah seharusnya tidak memanfaatkan diamnya pengguna moda transportasi publik, ya karena kalau di luar negeri, pelayanan publik yang buruk pasti akan dikritik atau ditegur oleh para penumpangnya.

Seharusnya, pihak manajemen langsung berbenah dan tanggap atas apa yang terjadi di lapangan. Itu fungsinya turun ke masyarakat, karena hanya dengan melihat dengan kepala dan mata  sendiri, kita jadi sadar bahwa ternyata banyak hal yang harus segera diperbaiki.

Beberapa waktu yang lalu, saya merasa kurang sehat. Lalu saya mencoba ke pos kesehatan di stasiun Manggarai. Begitu masuk, 1 petugas saya lihat sedang makan sementara 1 yang lain sedang duduk santai di kursi depan.

Saat itu, mereka tidak sigap menanyakan apa yang saya butuhkan. Sayangnya, tidak ada petugas jaga perempuan, sekalipun gerbong perempuan disediakan sebanyak 2 gerbong saja.

Masih banyak catatan untuk transportasi publik kita. Sementara jalan tol dan kereta bandara, berapa banyak rakyat yang bisa merasakan manfaatnya?

Saya kira, pemerintah jangan sibuk membuat aturan A, B, C dan seterusnya sebelum memastikan pelayanan yang diberikan sudah maksimal dirasakan oleh masyarakat.

Karena biasanya, pelayanan yang terbaik itu hanya khusus untuk orang2 beruang? Kalau begitu, ini semua masih tentang uang?




Selasa, 23 April 2019

Tipe-tipe Outfit di Kereta

Assalammu'alaikum,

Ladies, apa kabar? Semoga selalu dalam keadaan baik jasmani dan rohani, ya. Ladies, pernah tidak mengalami momen tidak banget atau repot sama outfit yang kita pakai ke kantor atau berkegiatan?

Saya suka iseng merhatiin lalu lalang orang di stasiun sambil nunggu kereta, macam2 banget outfitnya, yes.

Ada yang pakai sepatu kets atasan semi resmi atau casual. Ada yang pakai sepatu pantofel (laki2) dan heels untuk perempuannya dengan atasan yang juga banyak ragamnya.

Ada yang pakai sepatu sandal dengan kaos kaki atau tanpa kaos kaki, atasan kaos plus long coat atau long outer gitu. Ada yang pakai pakaian bertumpuk, berlapis2 dengan jaket tebal sebagai lapisan paling luar.

Tipe yang terakhir itu saya banget. Buat sepatu sih, saya jarang pakai heels buat mobilitas sehari2. Sepatu resmi haknya paling tinggi 3 cm. Itu juga sudah lumayan cape ya kalau harus berdiri dalam waktu yang lumayan lama kalau kereta ditahan/antri.

Kalau baju, karena saya tidak bisa kena dingin sedikit, saya mensiasatinya dengan pakai baju berlapis atau yang berbahan tebal.

Jaket itu kalau bisa selalu dibawa karena save juga ketika harus desak2an di kereta, badan kita sedikit terlindungi oleh tebalnya jaket yang kita pakai.

Untuk aksesoris, saya berusaha meminimalisir pemakaian karena biasanya suka hilang (seperti bros) entah dimana. Kadang, pas keluar kereta kerudung sudah tidak jelas bentukkannya. Haha.

Untuk kerudung, kalau bisa pakai yang jeblus sih saya prefer pakai itu karena praktis, efisien dan nyaman saja di kepala.

Dulu banget, saya masih suka pakai yang ala2 tutorial gitu (pentul dimana2) sampai akhirnya saya merasa tidak praktis kalau harus menghabiskan waktu berjam2 hanya untuk pakai kerudung.

Meni risih pisanlah pokoknya. Apalagi kalau pas lagi ditunggu orang, deuh mendingan pakai yang simpel2 saja, serius. Kecuali, kamu sudah ahli dalam pemakaiannya. Itu sah2 saja, tentunya.

Perhiasan juga kalau bisa diusahakan diminimalisir, apalagi kalau kamu pergi sendirian jarak jauh pula. Sangat tidak recommended untuk pakai perhiasan yang berlebihan.

Kemarin, sewaktu saya keluar dari stasiun saya merasa ada orang yang gerak geriknya mencurigakan. Kalau saya jalan, dia jalan. Akhirnya, karena feeling tidak enak, saya memutuskan untuk berhenti dan minum sekalipun saya tidak begitu haus.

Tempatnya masih ramai posisinya karena masih di depan stasiun. Di situasi seperti ini, kita harus bisa mengandalkan insting atau intuisi kita yang bila mengatakan ada sesuatu yang tidak beres, disitulah kita harus tenang dulu.

Karena kalau panik, kita biasanya jadi sulit berpikir jernih. Akhirnya setelah minum, saya langsung jalan tancap gas tanpa menoleh lagi (hanya sekali). Waktu nengok sekali itu, saya ingin cek orang itu masih mengikuti saya tidak.

Alhamdulillah, mungkin karena tidak terkejar, dia jadi kehilangan jejak saya. Saya sih masih merasa was2 sepanjang perjalanan menuju moda transportasi yang lain.

Jangan lupa untuk terus berdoa minta perlindungan Alloh Swt. Karena memang siapa lagi yang mampu melindungi kita dari marabahaya selain Alloh sang maha pencipta dan pemilik langit dan bumi?

Ini sudah jam 8, dan belum ada satupun yang datang.

Kalau kamu, tipe yang mana?

GANASNYA GERBONG PEREMPUAN

Assalammu'alaikum,

Apa kabar sholihat? Semoga dalam keadaan sehat jasmani dan rohani, ya. Kali ini saya mau cerita (masih) seputar naik kereta api krl commuterline.

Buat kamu yang mobilitasnya pakai krl mungkin sudah tahu banget ya, gimana kerasnya perjuangan bisa masuk ke gerbong perempuan.

Kali ini, saya mau sharing soal gerbong paling ganas sejabodetabek; Gerbong Perempuan!

1. Ganas
Kalau kamu tidak sanggup untuk berjibaku dengan ratusan perempuan lainnya, sebaiknya kamu lupakan ide untuk mengantri di gerbong perempuan.

Gerbong ini bisa dibilang lumayan nyaman, tapi kamu harus usaha maksimal dulu, mengatur starategi matang agar bisa ikut masuk ke dalam gerbong ini.

2. Berisik (Heboh?)
Well, kalau soal yang satu ini kayaknya tidak perlu dibahas panjang lebar, ya. Namanya perempuan kalau sudah kumpul, bayangkan sendiri saja, deh.

3. Semerbak
Kalau pagi hari, di gerbong ini kita bisa dapat wewangian gratis. Macam2 pemakaiannya. Ada yang tipis saja tapi menyengat, ada yang karena pakainya mungkin terlalu banyak, kadang jadi bikin mual.

Nyamannya di sini, aromanya masih lumayan manusia dibanding di gerbong campuran.

4. Sewot
Pernah menemukan sesama penumpang perempuan adu urat di kereta? Selamat, berarti anda berada di alam nyata. Haha. Yah, kadang kita suka menemukan penumpang yang sewot sendiri. Atau senggol tampol.

Kegencet sedikit, sewot. Ngambek. Kebayang tidak sih, betapa tidak enaknya kita segerbong sama orang yang kita sewotin sepanjang perjalanan hingga di stasiun tujuan kita?

Jujur, saya pernah mengalaminya dan sangat tidak enak rasanya. Mari saling menghargai dan memaklumi, karena kereta milik kita semua (bukan iklan).

5. HP
Yang ini, agak sedikit annoying situasinya kalau ada yang mengambil hp (dengan kondisi dia dimana tasnya dimana) - kecuali untuk hal yang darurat, hanya untuk main game atau cek sosmed. Atau bahkan shopping online. Gggrrr!!!

Marilah kita sadar untuk menjaga kenyamana sesama penumpang, ladies karena transportasi publik itu ada hak penumpang lain yang perlu kita jaga.

6. Tidur (atau pura2)
Ini sebetulnya bisa ditemukan di gerbong campuran. Hanya saja jadi lebih berasa nyess kalau kejadiannya di gerbong perempuan.

Tidur di saat ada penumpang lain yang lebih membutuhkan duduk dibanding kita. Melakukan ini perlu latihan yang keras dan sungguh2. Melawan ego (nafsu) memang tidak mudah, tapi tetap harus kita upayakan secara maksimal, ladies.

7. Bertahan
Kalau ada yang bilang, itu di tengah masih kosong, tuh. Masuk ke dalam dong, mbak! Yep, sounds familiar, bukan?

Biasanya yang nahan dan tidak mau masuk lebih dalam itu yang turun di stasiun transit (paling banyak Manggarai). Berada dekat pintu seakan menjadi sebuah prestasi yang patut dipertahankan.

Well, itulah sekelumit dinamika naik commuterline. Mungkin, kalian ada pengalaman yang jauh lebih ganas dari ini, ladies?

Minggu, 14 April 2019

Cara Pandang

Sudah hampir jam 8, belum ada satupun yang datang. Alhamdulillah perjalanan krl lancar pagi ini. Sempat ditahan karena masih proses normalisasi, namun tidak lama.

Sudah masuk minggu tenang. Sepanjang perjalanan tadi, saya tidak memperhatikan apakah spanduk masih ada yang terpasang. Semoga tidak. Kalaupun masih ada, saya pikir tidak akan banyak pengaruhnya.

Kita semua, sedang berjalan menuju apa yang sudah digariskan Alloh Swt. Ada yang masih ingin berkuasa, tidak ingin turun dari kekuasaan, memberikan kesempatan kepada mungkin yang lebih baik darinya.

Ada yang belum pernah naik, maju ingin setidaknya berbuat sesuatu untuk bangsa dan negara Indonesia tercinta. Siapapun punya hak dan kesempatan yang sama, walau pada akhirnya jutaan manusia di bumi tidak punya kuasa menentukan hasil akhir.

Saya berpikir, jika ada pemimpin yang seperti Umar bin Khattab yang hanya mengambil apa yang dia perlukan, bukan aji mumpung, pastilah saya akan memilih calon pemimpin yang setidaknya paling mendekati.

Menjadi pemimpin pertanggungjawabannya sungguh berat di sisi Alloh Swt. Pantaslah para sahabat tak ada yang tergiur sekalipun telah diberi mandat untuk memegang sebuah jabatan bergengsi di pemerintahan.

Sebuah pertaruhan yang bahkan tidak akan pernah bisa digantikan oleh seisi bumi sekalipun.

Dulu, hidup sangat sederhana. Sawah dan rumput mudah ditemui, jalanan tidak membuat pusing kepala. Kereta, sekalipun tak ber ac tapi saya masih bisa dengan mudahnya menemukan senyum pedagang yang menjajakan barang dagangannya di atas kereta.

Mereka terlihat sangat bahagia. Sekalipun mungkin tak ada yang membeli barang dagangannya hari itu. Sekarang, hanya satu yang dikeluhkan orang-orang yang saya temui; semua serba sulit!




Sabtu, 13 April 2019

Tips Aman dan Nyaman Ber-Commuter Ria


Sebenarnya, saya merasa tulisan ini tidak begitu penting-penting amat karena mungkin sebagian dari pembaca sudah paham banget atau gapelah istilahnya naik kereta. Saya mau bahas ini karena kemarin, saya dan jutaan orang lainnya dipaksa terlambat datang ke kantor karena KAI dengan sangat berbaik hati sedang melakukan uji coba double track (DDT) Jatinegara-Cakung.

Uji coba ini, kabarnya akan berlangsung hingga tanggal 13 April (which is today) dan semoga beneran selesai hari ini, ya biar besok pelayanan KAI bisa kembali seperti semula. Walaupun kondisi perkeretaan kita masih sangat jauh dari kata sempurna, dan harus segera dibenahi oleh manajemen KAI, commuter masih bisa diandalkan untuk mobilitas kita sehari-hari.

Pilihan moda transportasi kita memang tidak begitu banyak, namun dengan hadirnya MRT dan LRT, semoga bisa memberi kita alternatif angkutan umum ya, baik itu untuk PP kantor-rumah maupun sekadar jalan-jalan bersama orang terkasih. 

Jadi, ceritanya itu kemarin saya sampai stasiun Klender Baru sekitar 06.30 an. Saya sengaja berangkat lebih pagi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kejadian kemarin. Selain itu, alasan kenapa saya lebih suka jalan lebih pagi karena saya jadi tidak perlu buru-buru untuk sampai di tempat tujuan. Saya bisa jalan lebih santai, atau cepat untuk membakar sedikit kalori. Lumayan banget kan jalan cepat dari stasiun ke kantor, apalagi buat yang jarang olahraga macam saya (jangan dicontoh, ya).

Dengan begini, kita bisa sekalian refleksi bahwa ternyata betapa besar karunia yang telah Alloh berikan pada kita. Udara gratis (sekalipun tercemar polusi), tanah yang subur, pohon yang hijau di kiri dan kanan jalan, semua itu kadang luput untuk kita syukuri. Nah, termasuk kejadian kemarin. Rasanya sayang banget kalau kejadian kemarin tidak kita petik hikmahnya.

Sibuk mengeluh tidak akan mengubah apapun, gals. Jadi, mari kita menjadi bagian dari yang mengubah negara ini menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali dengan terus memperbaiki diri. Karena kalau bukan kita, siapa lagi? karenanya sejatinya perubahan itu dimulai dari sendiri dan dilakukan sekarang juga (tidak ditunda-tunda).

Pas saya pulang, entah ada hubungannya dengan keterlambatan parah paginya (saya baru sampai kantor jam 10 lewat) atau tidak, stasiun Manggarai jadi jauh lebih sepi dari yang biasanya. Walau saya tidak kebagian kereta Bekasi yang sudah saya kejar sejak saya turun dari kereta Bogor (kejam sekali masinisnya pintu langsung ditutup walau saya sudah lari-lari dan sampai di depan pintu kereta), kereta Bekasi berikutnya datang tak begitu lama. Kurang lebih 5-10 menit jarak tunggunya. Bisa jadi lebih sih karena saya sibuk mengorek tas, mencari sesuatu untuk dimakan dan ini menyebabkan saya sedikit lupa akan waktu menunggu (atau mungkin karena saya sudah terbiasa menunggu jo.

Waktu itu antrian di gerbong perempuan tidak lumayan padat seperti biasanya. Mungkin, ada yang trauma naik kereta karena keterlambatan luar biasa di pagi harinya. Tapi, mungkin jika keadaan sudah kembali normal, commuters akan kembali pada moda transportasi sejuta umat ini. Kita tidak punya begitu banyak pilihan, bukan?

Buat yang punya uang lebih, naik kendaraan yang lebih privat mungkin bisa jadi pilihan utama, ya. Tapi, buat kita-kita yang kantongnya cekak, keberadaan commuter line tidak bisa dinafikkan menjadi pilihan mobilitas sehari-hari, selain transjakarta tentunya. Apalagi, transjakarta sekarang sudah masuk hingga ke perumahan, saya jadi bisa menghemat tenaga serta uang untuk sampai di rumah.

Kali ini, saya mau sharing sedikit tips buat yang mungkin lagi mencari moda transportasi yang paling baik buat berangkat ke kantor, sekolah, dan lain-lain. Buat yang tempat aktifitasnya dilalui transjakarta dan kereta, dua moda transportasi itu sudah pasti jadi pilihan yang patut dipertimbangkan. Karena saya belum mencoba MRT atau LRT, saya belum bisa merekomendasikan kedua angkutan ini.

Yang mau saya sharing mungkin lebih kepada tips cara aman dan nyaman naik commuter line karena saya biasa menggunakan moda angkutan publik yang satu ini. Trans juga, hanya saja lebih sering kereta. Selain murah, jarak tempuh yang dicapai lebih singkat sekalipun harus mengalami ditahan di beberapa stasiun, saya bisa sampai lebih cepat ke rumah dibanding naik trans (atau angkutan sejenis). Kasusnya kalau kereta dalam keadaan normal, ya. Tidak mengalami gangguan atau kerusakan.


Tips dan Trik

Tips yang pertama, usahakan untuk tahu berapa lama jarak tempuh kita ke tempat tujuan. Karena jadwal kereta kita yang tidak jelas dan belum stabil kedatangan serta keberangkatannya, mengetahui berapa lama perjalanan kita menuju lokasi membantu kita untuk mempersiapkan segalanya. Sedia payung sebelum hujanlah. Yang kedua, usahakan pakai baju juga sepatu yang senyaman mungkin. Buat ladies yang mau pakai heels ke kantor, baiknya dibawa dulu saja di dalam tas (baru dipakai pas sampai di stasiun atau kantor).

Bajunya kalau bisa yang simpel saja, tidak menjulur hingga ke tanah, dan tidak tipis atau transparan karena untuk beberapa kasus, bisa saja baju kita robek atau jadi perhatian kaum adam (kalau tipis) karena kita pasti bakal jadi pusat perhatian karena baju kita yang tembus pandang itu (yah, begitulah). Untuk sepatu, kalau bisa pakai kets saja atau sneakers, atau kalau mau pakai sepatu gunung juga boleh. Sandal jepit tidak disarankan sih, karena bisa saja putus sewakt lagi mengejar kereta atau berjuang masuk ke dalam kereta.

Tips yang ketiga, usahakan sarapan sebelum jalan. Ini penting banget karena mengejar kereta itu bukan perjuangan yang mudah, kawan! kamu bisa mempertimbangkan mencari calon pasangan yang sudah biasa naik kereta pulang pergi (bukan sesekali, ya apalagi cuma pas jalan-jalan saja itu juga sebulan sekali). Paling tidak minum susu plus ngeroti lah kalau yang tidak biasa makan berat pagi hari.

Tips berikutnya, kalau mau nyaman sebaiknya kita punya tiket sendiri (bukan THB) yang bisa kita isi ulang kapan saja kita mau (pas duit ada), karena ini bisa mengurangi jumlah antrian calon penumpang yang juga lumayan banyak (dan lama pastinya). Apalagi di beberapa stasiun yang sudah pakai vending machine, yang masih gaptek dan tidak tahu cara pakainya juga masih ada (termasuk saya). Makanya kadang petugas ada yang diselipin satu, jaga kandang biar bisa membantu kita-kita yang tidak biasa pakai alat canggih macam vending machine itu.

Tips yang kelima, kalau sudah punya tiket sendiri, isi ulangnya jauh-jauh hari kalau bisa. Kadang, kita suka lupa buat isi ulang, menunda-nunda dengan alasan bisa besok kan. Eh tidak tahunya pas mau dipakai sisa uang di kartu kita tidak cukup bahkan untuk masuk ke satu stasiun. Belum lagi kalau kita masih harus nyambung dengan angkutan lainnya. Misal dari kereta ke trans atau sebaliknya. Oh ya, soal ini juga sebaiknya pemda mulai memikirkan bagaimana agar transportasi kita terintegrasi satu angkutan dengan lainnya.

Sebelum memulai tips yang pertama dan seterusnya, pastinya diawali berdoa dulu, ladies. Jangan lupa membaca doa keluar rumah karena kita tidak pernah tahu apa yang akan kita alami ketika kita keluar dari rumah. Tips berikutnya, usahakan untuk disiplin. Disiplin ini luas banget spektrumnya. Semuanya diawali dari diri kita sendiri.

Disiplin ini bisa mulai dari waktu kita mengantri, mendengarkan arahan petugas, membuang sampah di tempat sampah yang telah disediakan, menghormati hak sesama penumpang hingga peka terhadap keadaan sekitar. Biasanya sih karena sudah  saking terbiasanya dengan rutinitas, kepekaan kita jadi berkurang. Diantara kita mungkin masih suka menemukan penumpang yang tidak peka dengan kebutuhan serta hak penumpang lainnya. Ada penumpang yang masih lenggang duduk di kursi prioritas.

Kalau penumpang sudah mempunyai kesadaran yang tinggi, sekalipun kereta dalam keadaan penuh, kita pasti malu untuk menempati hak orang lain. Bangku prioritas itu memang ditujukan untuk mereka yang berhak, seperti ibu hamil dan menyusui, lansia, penyandang disabilitas, sampai orang tua yang membawa balita dan orang yang kurang sehat (sakit).

Seperti kemarin waktu perjalanan pulang, penumpang kereta bahu membahu mencarikan minyak kayu putih sampai kantong kresek ketika menemukan penumpang yang sakit (mual dan mau muntah). Saya tidak berada di dekat penumpang yang sakit tersebut, tapi, ternyata masih banyak penumpang kereta yang peduli dengan keadaan sekitarnya. Dan ini, entah bagaimana membuat saya terharu.

Mereka bahkan sampai memanggil petugas yang berjaga di dalam kereta untuk melihat kondisi penumpang yang sakit tersebut. Petugas pun dengan sigap langsung datang dan memberikan bantuan yang bisa ia berikan. Ini menyentuh, sungguh. Betapa kita dengan segala rutinitas seperti lupa untuk saling menyapa, peduli satu dengan lainnya. Kita sibuk (atau menyibukkan diri?) dan lebih memilih tenggelam di dunia maya dalam genggaman kita. Padahal sejatinya, kita punya orang untuk kita ajak bicara sewaktu menunggu antrian, ketika kereta lama ditahan, atau ketika bete menyerang waktu menunggu kereta yang tak kunjung tiba.

Tips selanjutnya, perhatikan dengan seksama detail stasiun karena setiap stasiun berbeda dengan stasiun lainnya. Misalnya saja jarak antara peron dengan kereta, di Sudirman jaraknya itu lumayan jauh. Dan kereta berhenti di tempat yang cukup berbahaya untuk penumpang turun (gerbong wanita paling depan) karena biasanya penumpang melewati jalan sempit yang terdapat persis di samping pintu masinis.

Baiknya kita memang memutar, mengambil jalan ke arah kanan untuk kemudian menuju ke eskalator. Ini lebih aman dan rasanya, jalan itu memang bukan ditujukan bagi penumpang untuk mencapai eskalator. Tips nyaman sebenarnya mudah saja, hormati hak sesama penumpang, dengan begitu bukan hanya kita yang merasa nyaman, tetapi juga orang lain. Kita tidak mesti jadi sinis, bete, atau melanggar hak orang lain ketika menemukan penumpang yang menerobos antrian, misal, atau mendorong dengan serampangan saat mau masuk atau keluar kereta.

Yang jelas, kita harus memahami apa yang perlu dan tidak perlu kita lakukan ketika berada di area publik. Karena boleh dan tidak boleh masih bisa kita langgar, menyadari perlu atau tidaknya bagi kita melakukan sesuatu menjadi rem tersendiri bagi kita untuk bertindak yang kurang bermanfaat. Baik untuk diri kita sendiri maupun orang lain.