Sabtu, 11 Juli 2020

Yoan (Cerita Pendek)


Yoan tidak bahagia. Tidak mendekati sedikit, bahkan. Orang lain mungkin akan berkata, Yoan bukan tidak bahagia melainkan kurang rasa syukurnya. Orang memang seperti itu. Seperti Yoan yang kerap mengomentari penampilan perempuan lain yang lewat di depan matanya (sekalipun di dalam hati), pun begitu orang-orang.

Yoan memang tidak memliki segalanya, mobil-mobil mewah, baju-baju bermerk, sepatu atau tas dari kulit buaya atau intan berlian permata. Tapi setidaknya, kini Yoan memiliki laki-laki untuk ia nikahi. Baju baru untuk ia pakai saat ia kawin nanti, atau cincin emas yang didapatnya saat dilamar laki-laki yang mungkin kurang beruntung itu, beberapa waktu yang lalu.

Beberapa waktu yang lalu, sebelum Yoan tidak bisa kembali menjadi dirinya yang dulu.

Kamis, 02 April 2020

Bicara Bucin

Foto: idtimes.com/instagram rara sekar

Pernah bucin? pernahlah. Haha. Bangga banget kayaknya ya, saya. Ya nggak apa2lah, selama kita tahu alasan bucinnya itu karena apa dan untuk siapa. Kalau bucin buat pasangan yang nggak sah, janganlah, ya. Tapi, kalau mau juga ya, silakan aja. Saya bisa apa melarang anda untuk bucin sama gebetan yang nggak peka2 sama perasaan kita yang udah nggak tahu berapa banyak ngode tapi nggak ketakol2 itu kodean.
#Icanfeelyoubro

Gue inget banget dulu saking sukanya sama artis, gue ikutin itu mereka konser sampai ke Ancol. Seriusan. Jadi, waktu itu ceritanya gue masih kerja gitu di Utara Jakarta situ. Nah, malamnya itu ada konser band2 yang gue suka gila, Padi sama Peterpan (waktu itu masih Peterpan, ya belom ada Noah2an).

Karena nggak ada yang bisa nemenin, jadilah itu gue ke Ancol sendirian, dong. Gila kan, dipikir2 sekarang, gue kok bisa berani banget gitu, ya pergi kesana sendirian, malem2 pula. Lo tahu sendiri kan acara2 musik kayak gitu kan biasanya digelarnya malem gitu. Mana ngangkot pula. Kalau sekarang sih, gue baru ngebayanginnya aja udah merinding, kecuali kalau gue ada tugas, ya misal ngeliput itu pun dengan catatan tertentu, pastinya.

Ya udah, nontonlah gue sampai itu acara selesai, sampai akhirnya pas giliran pulang, gue naik angkot kan tuh, mana waktu itu seinget gue angkotnya sepi gitu, cuma berapa orang. Gue duduk di depan, dan you know what, alhamdulillah gue bisa turun dan sampai dengan selamat meskipun hp yang waktu itu gue pinjem punya kakak apa bokap gue, ya raib gitu. Hilang dan nggak bisa gue temuin sampai gue di rumah.

Gokil banget sih dipikir2 gue bisa sampai segitunya. Kalau bucin sama cowok sih, seinget gue pernah nggak, ya? kayaknya pernah, deh. Tapi, karena gue tipe perempuan yang udah cukup melihat orang yang gue suka dari kejauhan, jadi gue pernah sampai nyari rumah dia gitu, dan ya udah gitu aja ngeliat rumah dia dari kejauhan gitu aja udah bahagia.

Walaupun gue juga nggak yakin itu rumah dia beneran atau nggak karena gue dapet alamat rumahnya dari gebetan cowok itu yang sekelas sama gue. Dalem banget, kan? Halo, Ami, apa kabar? gue harap dia sehat2 aja, sih dan bahagia sama keluarga kecilnya (kalau sudah berkeluarga). Kalau belum, kita meet up, yuk?
#eh

Itu aja, sih. Kalau ngoleksi poster, stiker gitu2 sih kayaknya mah normal, ya. Gue dulu ngoleksi gitu lengkap nggak, ya kasetnya BSB sama Padi, karena memang dari semuanya gue paling suka sama mereka2 itu.

Sekarang, bukan bucin kali, ya tapi lebih ke mengagumi, jadi gue suka banget gitu sama beberapa orang ini. Nggak tahu kenapa, gue ngerasain ketulusan dan kebaikan dari karya2 yang mereka buat.
1. Fadly Padi
2. Ari Lesmana Fourtwnty
3. Vincent Rompies
4. Kharis Junandaru Silampukau

Sementara di nama perempuannya, gue senang dan kagum banget sama Rara, you know, kakaknya Isyana. Rara itu, buat gue mewakili perempuan masa kini, yang bukan cuma down to earth, tapi juga berpikiran terbuka dan sangat peduli pada negara juga bangsanya. Rara itu apa yang dibilang kecantikan yang hakiki. Nggak perlu make up buat cuma dipuji cantik sama orang. Kadang, kita perlu menyelam lebih dalam, untuk melihat keindahan yang sesungguhnya.

Rabu, 01 April 2020

BENERAN MAU MASUK LONDON SCHOOL? PIKIRIN LAGI DEH



Kalau sekarang gue disodorin pertanyaan kayak gini, jawaban gue definitely, No thanks! terlebih sekarang dimana currency nggak ada benarnya, dan rupiah juga makin anjlok. Dan sejak dulu, karena selain pakai rupiah, LS itu juga pakai poundsterling, dan kalian tahu sendiri poundsterling itu nggak pernah kecil dari dulu.

Jadi, kalau bisa masuk uni lain, gue akan langsung memilih kampus lain, kecuali memang pada saat kesempatan itu datang kembali, gue dalam kondisi seperti Ria Ricis atau Atta yang bisa beli ina itu tanpa babibu.

Anehnya, gue dulu itu kayak nggak pernah ada terlintas keinginan masuk ke kampus macam UI dan teman2nya yang kalau kata orang, kalau datang meminang anak orang udah pasti langsung disuruh ijab qobul esok harinya. Calon mantu idaman banget gitulah, gue dengar2 sih. Walaupun gue nggak setuju sama hal itu dan itu sah2 saja.

Setelah gue pikir2 sekarang, harga kuliah disana itu beneran nggak masuk di akal terlebih buat keluarga kita yang biasa2 saja. Tapi, mungkin itulah kekuatan orang tua yang pengin anaknya cuma dapat yang terbaik, dan serius gue sih jadi kayak punya beban sendiri kalau sampai saat ini dan mungkin nggak akan bisa membalas semua jasa kedua orang  tua gue yang udah rela berkorban supaya gue bisa kuliah dengan aman dan sentosa.

Kita sih, sebagai anak2 waktu itu mana kepikiran gimana susahnya orang tua buat nyari uang kita buat kuliah, ya kan? padahal, kalau sekarang ini, di tengah situasi seperti sekarang ini, gue agak nyesek dan mau nangis pas nemuin kwitansi bayaran kuliah gue dulu, yang jumlahnya udah bisa buat modal nikah, mak. Heuheueheuheuehue.
#mewekbombay

Kan lumayan, bang buat nambah2in modal nikah, yak. Tapi, semua sudah  terjadi, dan kita nggak boleh melihat ke belakang untuk menyesali, ya lads. Buat muhasabah atau pengingat diri, boleh banget, karena biar gimana pun, kita mungkin akan melakukan hal yang sama kalau kita suatu saat diberi amanah menjadi orang tua.

Buat adik2 nih yang punya kesempatan bisa sampai di bangku kuliah, tolonglah, manfaatkanlah kesempatan itu untuk belajar baik2. Belajarlah yang baik ya, dik adik, raih prestasi setinggi mungkin, berorganisasilah, berkegiatanlah sesibuak yang kalian bisa, isi hari2 kalian dengan kegiatan yang positif sampai kalian nggak punya waktu buat julidin kehidupan orang lain, teman kalian sendiri apalagi orang yang nggak kalian kenal.

Dengan begitu, kalian bisa membuat setidaknya orang tua kalian tersenyum bangga, dan haru karena usaha mereka tidak sia2, memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak2nya. Gue nyesal banget dulu cuma jadi kupu2 gitu. Gue pernah jadi panitia gitu, tapi ya nggak maksimal. Cuma gitu aja, nggak gue seriusi, sampai akhirnya, gue nggak punya pengalaman berorganisasi, yang dimana bisa ngasih gue minimal kesempatan untuk berani bicara di muka umum. Sesuatu yang sangat gue hindari selama ini.

Semoga, kita semua bisa mengambil hikmahnya ya, karena gue yakin, skenario Alloh itu adalah skenario paling baik dari yang terbaik, dan Alloh itu nggak akan pernah dzolim sama hamba-Nya. Mungkin gue nggak bisa beliin nyokab ini itu kayak Ria Ricis, ngajak orang tua jalan2 ke LN kayak Atta, tapi, deep down here, in my bottom of my heart, gue berharap bisa membersamai mereka hingga ke Surga Alloh SWT.

Aamiin allohumma aamiin...














Di Rumah Aja (Part 2)

Sejak sebelum #dirumahaja dianjurkan, gue basically udah di rumah aja otomatis karena belum kerja lagi. Gue mau kerja lagi dan yah, kemarin memang penginnya di rumah dulu, breaklah dari rutinitas yang kadang suka bikin pengin gue lari ke hutan belok ke pantai. Dan kenyataannya, memang akan terasa sangat membosankan kalau lo nggak mengkhususkan diri untuk melakukan sesuatu yang produktif.

Kegiatan apa yang menurut kita bisa menjadi produktif balik ke masing2 pribadi lagi, dan kadang memang susah banget buat melihat apa yang menurut orang lain produktif suka kita pandang sebagai sesuatu, yang...emang nggak ada kerjaan lain yang bisa lo kerjain, ya?

Ini bisa banget jadi menyebalkan, kalau mau lo buat begitu. Tapi, kok kayaknya buang waktu dan energi banget mikiran hal2 yang nggak seharusnya lo pikiran karena ada hal lain yang jauh lebih penting yang harusnya lebih mendapat perhatian, kayak kenapa lo udah lama banget ngejomblo, gitu. #krik

Gue sendiri merasa senang bisa ngerjain hal2 baru, yang sebenarnya nggak baru2 amat tapi, mungkin karena bukan hal yang sering gue kerjain jadi terasa baru gitu aja buat gue. Walaupun judulnya cuma bantuin nyokab, tapi serius sih, ternyata kalau ada kegiatan yang seperti tiada berujung itu adalah kegiatan rumah tangga seperti memasak dan teman2nya.

Makanya, kenapa pekerjaan menjadi istri juga seorang ibu begitu mulianya di dalam Islam karena memang Alloh menginginkan posisi yang terbaik untuk wanita, dimuliakan di bumi dan di langit. Dan kalau kita nggak berusaha mengerti konsep ini di dalam Islam, kehidupan rumah tangga itu bisa banget kita rasakan sebagai beban yang seperti derita tiada akhir.

Sounds like drama? beneran banget bisa jadi drama ya kalau itu tadi, kita nggak berusaha mencari ilmu tentang seperti apa kehidupan berumah tangga. Gue pribadi juga nggak ngerti, kenapa si akang mau2an sama gue yang cuma bisa masak nasi sama air ini. Semoga bukan cuma sekadar lip serv ice, ya karena ya memang kita belum kenal satu sama lain. Kita bahas ini lain waktu, ya insyaAlloh.

Selain (bantuin nyokab) masak, gue juga bisa olah tubuh gitu bareng ponakan, main voli. Main voli di dalam rumah? serius? yes, seriuslah. Mosok becanda, sih. Ya, walau rumah kita alhamdulillah segini2nya, kita akalin aja gimana caranya bisa tetap berkeringat dengan main voli yang lumayan bikin badan capek setelahnya. Haha. Maklum, jarang olahraga kan eike.

Kemarin2 kita juga main badminton loh, tapi sekarang vakum karena belum bisa beli kok lagi. Khususnya gue yang biasa provide, sekarang karena tantenya lagi bokek jadi persediaan kok kosong. Siapa tahu, setelah ini ada yang mau provide ngendorse kok gitu buat gue main sama ponakan gue. #ngarepajaterus

Gue sama ponakan juga jadi punya waktu buat belajar dengan metode cerdas cermat gitu. Yang tadinya jarang kita lakukan, sekarang2 ini jadi kita lakukan hampir setiap malam, kecuali tadi malam karena gue berasa capek banget abis bantuin nyokab masak pesenan pepes, pempek sama nyoba bikin camilan telur gabus gitu.

Sebisa mungkin sih, karena ini waktu yang sangat jarang banget kita temukan khususnya bagi para orang tua yang bekerja, jadi put your gadget away. Taruh itu gadget kita jauh2, dan coba deh rasakan kebahagiaan sederhana yang selama ini mungkin sudah kita lupakan dan diam2 kita rindukan, waktu kumpul berkualitas bareng keluarga.

Serius, bahagia itu sederhana. Dan jika hanya waktu yang kita punya, akankah kita mengabaikannya begitu saja? sementara ia kelak akan diminta pertanggunganjawabnya.


















Jumat, 27 Maret 2020

Di Rumah Aja


Sebagai anak yang memang doyan menghabiskan waktu di rumah, anjuran di rumah aja bukan suatu beban yang gimana2. Apalagi kalau kita punya seabrek agenda atau kegiatan, khususnya yang lagi nganggur di rumah, ya mau ngapain aja di rumah -makin menyenangkanlah itu hari walau dihabiskan seharian di rumah.

Selain nonton sendiri dan nonton film kesukaan kita, kita juga bisa manfaatin waktu buat nobar dan saling merekomendasikan film yang bagus buat ditonton bareng keluarga. Baca juga gitu. Dan membaca blog, bisa jadi salah satu alternatif yang menyenangkan, karena blog itu kan bisa dibilang siaran langsunglah, karena ceritanya langsung ditulis oleh yang mengalami.

Kita juga bisa cari kajian baik itu yang non streaming atau streaming dan didengarkan bareng keluarga, selain menyenangkan juga mendapat pahala apalagi kalau bisa langsung kita praktekkan. Alhamdulillah. Kajian ini menyenangkan, sih menurut saya, apalagi kalau bahasan yang lagi dibahas memang sesuatu yang saya butuhkan atau sedang saya cari2 jawabannya.

Kayak lately, saya lagi sering bertanya pada diri sendiri, sudah siap belum ya saya berumah tangga? karena kok makin kesini, ide menikah dan hidup dengan orang asing yang belum saya ketahui sebelumnya terdengar menjadi semakin mengerikan. Kita bahas ini lain kali deh, insyaAlloh.

Kita lanjut lagi ke kegiatan yang bisa kita lakukan selama #dirumahaja yang variannya cukup banyak, sebenarnya. Saya sama ponakan saya biasa main basket, voli, juga bulu tangkis di rumah. Dulu sih kita lumayan sering main di luar rumah, apalagi bulu tangkis karena semenyenangkan itu kita bisa melakukan kegiatan yang bukan cuma bikin kita sehat tapi juga kita sukai.

Kita juga biasa ngerjain games gitu, kayak cerdas cermat yang kita kasih nilai biar makin semangat dan seru ngerjainnya. Kalau semua itu udah kita kerjain, biasanya gue langsung ndusel2 main sama ponakan gue yang gemeshnya nggak abis2. Ini serius sih bikin bahagia banget, dan hati jadi plong kalau udah main sama mereka berdua.

Jadi, nggak ada lagi yang namanya garing atau lumutan karena #dirumahaja.

Kalau kamu, gimana?




Is He The One?


Setiap orang, punya kesukaannya masing2. Setiap orang, punya ruang nyamannya sendiri. Setiap orang, ingin diperhatikan dan (kalau boleh) dipuji. Entah sejak kapan, belakang saya jadi lebih suka (tertarik) dengan tema2 keluarga dibanding jalan2. Kalau jalan2 dengan keluarga, lain lagi. I don't know. Mungkin, karena lahir dan dibesarkan di keluarga yang nggak terlalu dekat, saya jadi lebih punya banyak waktu di kamar. Menyendiri, sepi di sini aku benci. Ingin bingar hatiku ambyar. Hah, lupakan saja, Pulgoso!

Sebenarnya, saya nggak tahu mau cerita apa. Mungkin karena saya merasa nggak ada yang menarik buat diceritakan, seperti anaknya Pak Ian Rompies, saya jadi suka malas cerita ke orang lain. Di samping memang, nggak bagus juga kalau tiap ketemu orang, kita cerita. Walaupun mungkin, ada saja tipe yang katanya nggak bisa kalau diem gitu aja kalau ketemu orang, apalagi dalam jumlah besar kayak sunatan massal.

Kalau ada hal yang paling absurd yang pernah saya alami, mungkin adalah keadaan saya yang tiba2 dikenalin, tiba2 dilamar, dan tiba2 pernikahan harus diundur karena kondisi yang nggak memungkinkan. Disamping keuangan kami yang alhamdulillah kosongan, kondisi dunia juga sedang berduka. Kalau bisa dapat endorse-an kayak artis2 yang nikahnya disupport brand, enak kali, ya. Haha. Well, ngarep dulu aja. Siapa tahu, nanti ada brand yang tiba2 khilaf ngendorse in nikahan kita. Ye nggak, kang?

Pertanyaan is he/she the one, di usia yang sekarang, saya rasa semakin nggak relevan. Walau dulu saya pernah beranggapan, nikah itu merepotkan, dan ternyata, memang merepotkan (bikin pusing tujuh keliling), sekarang, saya cuma berharap, jika ada kebaikan di dalam pernikahan ini, semoga Alloh mudahkan jalannya.

Ada yang bilang, karena jodohlah kita bertemu. Bukan kita bertemu karena berjodoh. Apa bedanya? coba tanya pada rumput yang bergoyang.



Wawancara di HHP

Jadi, beberapa waktu yang lalu, gue sempat kaget juga dihubungi HHP di suatu siang yang random. Karena nggak ada yang kebetulan di dunia ini, di telepon HHP pastilah skenario terbaik Alloh SWT. Berhubung gue belum kerja lagi, jadi nggak ada salahnya gue memenuhi panggilan interview dari HHP.

Yang menghubungi itu langsung pihak HRD nya. Buat tes tahap pertama, mereka pakai jasa Experd gitu, yaitu tes psikotest. Tahapannya, kalau kamu lolos psikotest ini, kamu akan dipanggil lagi untuk wawancara langsung di kantor HHP yang kantornya goks banget, sih.

Nah, di tahap ini kemarin, gue sempat diinfo soal berapa gaji yang bakal diterima. Gede banget, menurut gue karena selain di lukot penempatannya, juga tanggung jawab kerjaannya nggak sepele. Tapi, gue nggak bisa bilang worth it atau nggak karena gue belum pernah mengalaminya.

Buat yang lagi coba apply2 ke konsultan hukum besar, coba aja dan siapkan bekal yang cukup, biar pas dipanggil, kamu minimal nggak akan menyesal karena sudah melakukan yang terbaik. Menyoal masuk atau nggak, nggak usah khawatir, karena kalau dia adalah rezekimu, dia pasti akan mendatangimu, sekalipun kamu tolak kedatangannya.

Ganbatte!!

Selasa, 24 Maret 2020

Cara Membuat Sertifikat Layak Kawin







Rasanya Kerja di Konsultan Hukum

Sebelum di rumah aja, gue sempat kerja di konsultan hukum lagi yang kerjaannya nggak berhubungan langsung dengan klien. Beda dengan kantor yang sebelumnya, di Kantor Pengacara.Co, di kantor yang terakhir, gue dipercaya megang satu website gitu.

Gimana rasanya? luar biasa, sih. Kalau lulusan hukum aja macam Fathia aja keluar, gue malah masuk. Selain media, industri yang perlu ketahanan dan otak yang luar biasa itu adalah berbagai profesi terkait hukum, menurut gue. Karena, walau gue nggak bersinggungan langsung, tapi gue melihat bagaimana rekan2 seperti pengacara itu berkutat dengan waktu dan bahan2 dari klien yang harus diolah sebelum masa tenggat berakhir.

Apa yang ada di pikiran kamu waktu dengar hukum di Indonesia? mahal? korup? kkn? mungkin semua itu benar adanya. Yang pasti, gue pernah menanyakan komitmen kantor gue yang pertama, bahwa mereka nggak akan pernah coba2 main di bawah meja. Walaupun praktek itu bukan rahasia lagi, tetap aja kadang kita suka nggak habis pikir, kok ada ya orang yang mau main belakang?

Gue belajar banyak di bidang ini, salah satunya bahwa pengacara itu juga cuma manusia biasa. Mereka, layaknya manusia yang lain juga punya kekurangan, keterbatasan, dan mau nggak mau kita harus bisa mengambil sisi positif dari setiap kejadian yang terjadi.

Nggak seperti kantor gue yang pertama, kantor yang kedua lebih terasa suasana individunya karena setiap perusahaan punya culturenya masing2. Dan dimana kita berpijak, di situ langit dijunjung. Yang pasti, kerja di kantor hukum itu juga sama kayak di kantor2 lain. Ada drama2nya juga, kadang bisa lebih sadis malah, tergantung di kantor mana lo berteduh.

Plusnya ada nggak? selain kantornya yang bagus, dan biasanya fasilitasnya lumayan lengkap, kalau beruntung, lo bisa dapet gebetan pengacara yang selain potensial juga kalau masih single, kabar baiknya bisa lo kecengin. Eh.


Mempersiapkan Dokumen Pernikahan

Foto: pixabay.com

Ternyata benar adanya, mempersiapkan pernikahan itu nggak semudah beli cilok atau batagor di abang2 pinggiran kesayangan. Sebenarnya nikah itu mudah, yang ribet itu gengsi. Gue nggak tahu sih perempuan kebanyakkan kayak gimana, tapi, gue sendiri membayangkan kalau gue nikah nanti, gue pengin sesederhana mungkin. Kalau bisa cuma di KUA aja, that would be good.

Tapi, hidup nggak semudah itu, Fernando. Karena katanya, nikah itu nggak cuma ngomongin tentang kamu dan si dia, tapi juga Pak RT dan keluarga. Lah. Maksudnya, keluarga kedua belah pihak. Buat yang keluarganya manut alias menyerahkan kepada calon kedua mempelai sih, mantaplah itu.

Buat yang nggak, selamat ya! anda layak dapat pujian karena, kebanyakkan rasanya memang ortu2 kita nggak pengin anaknya nikah gitu aja. Yang terpenting sih, yang harus banget diingat bahwa nikah itu nggak wajib dibikin resepsi wah gitu. Kalau mampu dan mau, monggo. Itu lain lagi ceritanya.

Buat yang lagi bingung setelah lamaran mau ngapain, ya diobrolin lagi sama calon pasangan abis itu mau ngapain. Apakah mau langsung nikah (di KUA aja) atau nabung dulu sampai uangnya cukup buat ngadain resepsi. Ini pilihan yang sebenarnya mudah, ya. Tapi, ya dengan alasan di atas tadi, hal yang terlihatnya mudah jadi lebih seperti fatamorgana.

Daripada pusing, siapin dulu deh dokumen atau surat2 yang dibutuhkan buat acara kamu nanti. Ini gue share pengalaman sendiri, ya dengan posisi KTP pihak laki2 DKI. Pertama, kamu perlu menyambangi rumah Pak RT yang rumahnya pasti masih dekat sama rumah kamu, ya sepelemparan batu gitu, paling. Main2lah sambil tanya2 kabar, karena pasti, kalau nggak bikin surat2 macam gini, kamu hampir dipastikan nggak akan pernah menyentuh rumah Pak RT.

Surat dari Pak RT ini namanya surat pengantar gitu yang isinya nanti juga harus mencantumkan ttd plus cap basah Pak RW kamu yang tercinta. Sebelum maju ke RT, gue ke Kelurahan dulu buat tanya2 kira2 apa aja yang dibutuhkan buat melangsungkan pernikahan. Untung petugasnya nggak nanya, calonnya udah ada, mbak? karena Ibu petugas langsung nanya, baru nikah? yang langsung gue jawab dengan anggukan malu2.

Terus petugas nulisin gitu syarat2 yang perlu gue bikin sebelum dateng ke Kelurahan lagi. Ditulisinnya di kertas bekas gitu, kecil lagi. Aku berasa kotor banget karena dikasih kertas cuilan macam itu. Hih. Sesensitif itu emang anaknya.

Gue udah pernah dengar sih, kalau beberapa tahun ke belakang, capeng itu perlu ngurus yang namanya surat layak kawin, yang sifatnya anjuran tapi macam BPJS gitu yang harus nggak harus dibuat. Tapi, karena diminta sebagai salah satu surat yang diperlukan Kelurahan, jadilah gue langsung menuju Puskesmas Kecamatan Cakung sesuai arahan yang ditulis petugas di kertas remahan astor.

Oh ya, di Kelurahan gue juga langsung dikasih surat pernyataan belum pernah menikah kalau kita belum pernah menikah sebelumnya (status single). Surat ini nanti kamu bawa lagi (setelah diisi tentunya) beserta surat2 lain yang dipersyaratkan, ya.

Apa saja? 

1. Pengantar RT/RW
2. Foto Copy KTP Pemohon
3. Foto Copy KK Pemohon
4. Surat Pernyataan Belum Pernah Menikah (Jejaka/Perawan)
5. Sertifikat Layak Kawin dari Puskesmas

Dan sampainya di Puskesmas Kecamatan, karena sudah siang (kelewat siang), petugas di sana yang nggak gittu ramah nyuruh gue buat baca kertas yang ditempel di meja informasi. Sampai akhirnya ada sekuriti perempuan yang ramah, yang dengan berbaik hati membantu gue yang sudah seperti anak ayam kehilangan induknya.

Biar nggak ngabisin waktu, gue foto aja kertas2 itu, dan beberapa hari setelahnya baru gue kesana lagi buat ngurus yang namanya  surat (sertifikat) layak kawin. Kita bahas sertifikat ini di tulisan berikutnya, ya. Stay tune!






Lamaran atau Khitbah


Lebih susah mana, jawab pertanyaan ini atau pertanyaan guru matematika di sekolah? jawabannya boleh kamu kirim sekarang, ya atau simply jawab dalam hati aja kalau hilalnya belum kelihatan.

Apapun kondisi kamu saat ini, berada dalam state ini membuktikan kalau kamu dan pasangan sudah siap melangkah ke jenjang yang lebih serius; pernikahan. Kata ini pastinya terdengar mengerikan, ya buat mereka yang merasa, sejenis boba apa pernikahan itu? gue aja begitu waktu gue masih unyu2 kemarin.

Kata, akhirnya dilamar juga pasti jadi kata yang tiba2 jadi kata yang paling sering lo dengar di hari lo dilamar sang pujaan hati, sampai akhirnya tengah malam, pas lo udah sendirian di dalam kamar, mungkin timbul pertanyaan; is he the one?

Kita bahas itu lain kali, ya. Sekarang ini gue mau bahas dulu, apa aja sih yang perlu kita siapkan kalau kita mau lamaran. Nggak ada pola yang pasti, sih dalam hal ini. Tergantung dari kebiasaan setempat. Pastinya, selain harus ada pihak yang melamar dan dilamar, dan ini pastinya udah diobrolin kedua belah pihak sebelumnya, harusnya sih acara lamaran bisa berjalan dengan lancar ya, insyaAlloh.

Kalau mau lamaran, harus pake konsep gitu nggak sih? jawabannya nggak harus. Kalau mau, boleh aja. Dibicarakan dulu deh tuh sama calon pasangan, mau kayak gimana sih konsepnya acara lamaran nanti.

Lamarannya di rumah siapa? di rumah perempuan. Karena laki2 biasanya yang datang ke rumah perempuan untuk melamar secara resmi dengan membawa serta keluarga besar.

Bawa apa aja pas lamaran? ini juga tergantung keinginan kedua belah pihak, apakah ada yang perlu dibawa, misal hantaran/seserahan, makanan, dll, atau nanti aja pas mau dilaksanakan akad.

Harus bawa cincin? nggak harus. Ini juga balik lagi ke kesepakatan kedua belah pihak, mau pakai cincin atau nggak karena memang cincin ini bukan lambang sahnya sebuah lamaran. Simbol aja atau formalitas, tanda kalau pihak perempuan sudah dilamar pihak laki2.

Gue sendiri kemarin cuma gue aja yang pakai cincin berhubung dana terbatas. Ini bisa banget diobrolin, dan harus diobrolin jauh2 hari sebelum lamaran mau dilaksanakan karena terkait budget ya alias uang yang harus dipersiapkan.

Ini juga berlaku untuk hari h kalian nanti. Jadi, daripada nanti pusing pas mau dekat2 acara, jadi mending walau belum keliatan mau nikahnya sama siapa, nggak ada salahnya mulai menyisihkan pemasukan dari sekarang biar nanti bisa sedikit bernapas pas udah dipertemukan jodohnya. Aamiin ya Alloh.

Kemarin, gue nggak pakai konsep apa2. Semuanya spontan (uhuuyy) gitu aja karena memang kita berdua selain nggak punya dana berlebih, memang pengin yang sederhana aja. Rasanya warung nasi Padang ini (sederhana) agak sedikit sulit kita terapkan, ya di acara pernikahan. Tapi bukannya mustahil juga, kalau kalian bisa memberikan pengertian tentang mengapa kalian pengin acara spesial kalian itu dibuat kalau bisa sesederhana dan seintim mungkin. Mau coba?

Yang malah sibuk pasang dekor itu adik gue sama istrinya, cuma dekor simpel gitu sama tulisan standar engagement terus inisial nama karena kalau nama panjang kan lumayan, ya biayanya. Maklum sobat kismin kan, kita. Udah gitu bakal kepanjangan juga di tembok rumah kita yang juga sederhana. Alhamdulillah.

Untuk masak, nyokab dibantu sama satu adik nyokab yang datang khusus jauh2 dari Depok dan nginap dari malam sebelumnya. Kalau mau simpel dan ada budgetnya, bolehlah pesan makanan dari catering yang kalian suka. Dekor juga gitu. Tapi, kalau mau lebih hemat dan bisa dikerjain sendiri (dan mau repot), ngerjain sendiri adalah jawabannya.

Buat acaranya sendiri karena kita nggak pakai vendor apapun, jadi ya standar aja. Habis sedikit perkenalan dan menyatakan maksud serta jawaban, kita langsung mempersilakan para tamu untuk makan makanan yang sudah disediakan.

Soal berapa banyak orang yang harus diundang waktu lamaran balik ke kalian sendiri. Gue sendiri kemarin nggak ngundang banyak orang, paling beberapa teman nyokab yang memang udah sering bantuin nyokab kalau ada acara. Sementara dari pihak laki2, hanya membawa 3 orang saja. Jadi total 4 orang gitu dari keluarga laki2.

Lalu, setelah lamaran apa? kita bahas di kesempatan berikutnya ya, insyaAlloh. Stay tune!













Sabtu, 21 Maret 2020

Being Judgemental dan Rasanya Dihakimi

Foto: pixabay.com

Di tengah kegalauan apapun yang lagi kamu alami saat ini, ketahuilah, kamu nggak sendiri. Melihat apa yang terjadi di belahan dunia, yang sakit itu manusia, bukan sosial medianya. Yang sakit itu perilaku manusia, yang menuruti kemauan setan untuk menjerumuskan manusia ke neraka jahanam.

Di tengah keadaan gue yang menganggur sudah 4 bulan saat ini, gue harusnya bersyukur karena masih diberi kesehatan. Masih diberi kenikmatan untuk bisa berbakti sama orang tua, walau gue belum bisa lagi bantu mereka sedikit2, seenggaknya, kita yang belum lagi diberi amanah bekerja kembali, bisa membaktikan diri kepada kedua orang tua dan lingkungan kita, serta agama dengan cara2 lain yang kita bisa.

Sebelumnya, gue pernah menganggur selama hampir 2 tahun. Selama menganggur itulah, gue mengenal dunia perblogan, dan gue bersyukur karenanya. Gue jadi mengenal dunia blogger yang ternyata, juga nggak seterang itu meskipun nggak gelap2 banget. Gue jadi bisa kenal blogger kece macam Mbak Astri, Teh Ani, dkk yang sudah membantu blogger lain untuk menemukan career path mereka sebagai full time blogger.

Gue belum sampai kesana, menjadikan blog sebagai ladang penghasilan utama, tapi, gue ingin bisa terus berbagi melalui blog ini walau nggak menghasilkan secara ekonomi. Karena dari awal, bukan itu tujuan gue menulis. Sebenarnya, gue udah lama mutusin buat berhenti nulis. Gue merasa perlu mengambil jarak dengan dunia tulis menulis (khususnya cerpen), karena gue merasa mungkin gue nggak benar2 berbakat di dunia ini. Lagi2 suara2 negatif itu datang tiap kali gue ngalami perasaan nggak enak di hati.

Setiap manusia, punya jalannya masing2. Jangan pernah mencoba untuk membandingkan hidup kita, anak2 kita dengan kehidupan orang lain, anak2 orang lain. Gue kadang suka sedih, ada orang tua yang maksain anaknya buat bisa berprestasi (ranking) di sekolah, sementara orang tuanya semasa sekolah nggak pernah juara. Anak itu bukankah hasil dari kedua orang tuanya? bukankah buah jatuh nggak jauh dari pohonnya?

Kenapa kita, sebelum memberi komentar/opini, berpikir seribu kali, apakah komentar gue ini nanti bisa menyakiti hati, menyinggung orang lain. Karena memang, hati itu harusnya kita sendiri yang mengontrol, tapi justru karena itu, bukankah kita sama sekali nggak bisa mengendalikan apa yang orang lain pikirkan?

Kalau ada peribahasa sedia payung sebelum hujan, mungkin ini menjadi tepat untuk berpikir seribu kali sebelum memberikan komentar terhadap apapun itu. Berpendapat akan sesuatu boleh dan sah saja, tapi, pastikan kita melihatnya dari segala sisi, kalau bisa berusaha menempatkan diri kita pada orang yang akan kita komentari, it would be good.

Kalau suka sama seseorang, janganlah membela ia matia2an. Pun kalau membenci, bencilah seadanya, ala kadarnya. Kecuali rasa cinta kita kepada baginda Nabi, itu adalah sesuatu yang sudah nggak bisa dipertanyakan, terlebih ini sudah masuk kepada ranah keyakinan yang dilindungi UU. Gue nggak akan membahas hal itu kali ini.

Manusia itu makhluk yang lemah, sangat lemah. Hati anak manusia itu berada diantara jari jemari Alloh SWT. Siapalah kita yang hanya numpang tinggal di bumi milik Alloh yang oleh karenanya, kita sangat tidak pantas mengakui kalau kita ini kuat, berkuasa, dan berhak menguasai segala sesuatu. Jadi pemimpin itu berat, dan setiap dari kita itu adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungan jawab di hari perhitungan nanti.

Buat siapapun di luar sana yang saat ini lagi merasa galau, mungkin kesepian, I feel you. Gue sendiri sering banget ngerasa galau dan jadi tambah sering menyendiri semenjak sering banget dapat pertanyaan, kamu kapan nikahnya sih? kok sendiri aja dari dulu? nggak ada apa cowok yang mendekati barang satu pun? ya ampun, mak itu mulut lemes amat, yak?!

Kita semua punya masalah yang bikin kita galau, seremeh apapun menurut orang, bisa jadi justru main issue buat kita. Gue sih dulu jujur baperan banget, dikit2 ngerasa iri kenapa ya teman kantor gue itu lebih sering diperhatiin bos, si ono begini, si itu begitu, sampai akhirnya gue ditampar akan fakta bahwa ya mereka memang berada pada posisi berhak untuk mendapatkannya karena itu sudah bagian dari rezeki yang Alloh takdirkan untuk mereka.

Ngomong kayak gini kedengarannya gampang, serius tapi buat bisa sampai tahap mikir kayak gini aja yang prosesnya bisa jadi berdarah2. Lo pernah nggak sih ngerasa sudah nggak sanggup buat ngapa2in lagi, cuma bisanya rebahan (bukan pengin ya) saking banyaknya hal yang bersliweran di kepala dan hidup lo?

Mungkin ada yang lagi galau, kenapa ya gue masih jomblo sampai di usia yang sekarang ini? sama, itu gue juga alami saat ini. Mungkin ada sebagian dari kita yang bilang kalau nikah di usia tertentu, khususnya buat perempuan itu telat banget. Namun, ketahuilah, bahwa nggak ada yang telah di kamusnya Alloh.

Biar nggak baper, kita pake hitungan atau kamusnya Alloh aja deh. Karena hitungan manusia itu nggak akurat, cuma sebatas prediksi, dan manusia itu nggak punya andil apa2 terhadap kehidupan kita. Maksud gue, kalau Alloh nggak mengizinkan, mau manusia itu sejulid apapun sama hidup lo, kalau Alloh nggak menginginkan kejulidan itu berefek atau berdampak pada hidup lo, ya nggak akan pernah terjadi.

Tapi, kita juga diberi pilihan oleh Alloh, untuk menjadi orang yang julid tersebut atau menjadi orang yang berusaha untuk terus belajar dan memperbaiki diri. Karena namanya manusia, kita nggak akan pernah lepas dari yang namanya berbuat dosa. Nggak ada manusia yang sempurna. Jadi, berhentilah untuk terus berusaha menjadi orang yang sempurna, entah itu di kehidupan nyata atau sosial media.

Kenapa gue suka sama vlognya Radit akhir2 ini, atau Nessie, atau Radifan, atau Dovi, atau banyak lagi karena mereka berusaha untuk jadi diri mereka sendiri. Kita nggak perlu selalu menuruti perkataan netijen yang budiman, karena memang netijen bisa apa kalau di belakang kita mengalami sesuatu? bayari cicilan kita juga nggak, kan?

Jadi, stop baperan sama omongan orang. Ini berlaku buat diri gue sendiri juga. Kita semua pasti pernah berada di the lowest moment of our life. Yang terpenting bukan gimana kita jatuh, tapi bagaimana kita mengatasi/berusaha untuk bangkit dari kejatuhan tersebut.

Kedengaran dewa banget? ya terserah situ, sih. Kalian berhak punya pendapat masing2. Kalian berhak untuk bilang A,B,C,D tapi pastikan aja, itu kalian simpan buat diri kalian sendiri. Berpendapat boleh, but make sure, kita jangan pernah punya jiwa judgemental karena dihakimi itu rasanya benar2 nggak enak. Dan kalau kita nggak mau mendapatkan hal yang serupa, make sure we don't do such things.














Mengambil Hikmah dari Corona

Belakangan, gue lagi suka banget selain mantengin tonight show, gue juga lagi kayak apa ya, yah senang aja nyimak konten2 milik Nessi Judge, Hansol (for some reason, lately karena dia punya ponakan yg lucunya nggak ketulungan yaitu Elsa - anyeong Elsa), dan yang paling baru itu Ewing HD, dan Hirotada Radifan (yang mewakili emak2 gangges).

Dan kayaknya, gue juga suka sama beberapa video Chandra Liow, dan gue menyadari bahwa ternyata gue mulai agak sedikit enek sama youtuber yang spesialisasinya di mukbang macam Tanboy Kun yang dulu sempat sih gue lihat2 meski nggak lama.

Setelah gue nyimak casenya Kate Yup, gue ngerasa kalau media sosial itu punya ceritanya sendiri. Gue sendiri, pernah mencoba untuk menjaga jarak dengan sosial media, sekalipun gue tahu pengaruhnya nggak gitu signifikan karena teman gue di sosmed juga cuma itu2 aja.

Teman2 gue di sosmed, ya mereka yang aslinya temenan sama gue in real life. Dan gue sama sekali nggak sedih dihadapkan pada kenyataan, bahwa, ya ampun, temen lo kok sedikit banget, sih? kalau sedikit, terus kenapa gitu? ada masalah? sebenarnya gue paling males meladeni pertanyaan2 kayak gini yang lebih bernada tendensius alias kepo macam pertanyaan klasik, kapan kawin? kapan punya anak? kapan nambah anak? S1 kok nganggur? 

Memang nggak bisa dipukul rata, cuma kalau kita jeli, kita bisa merasakan kok mana yang dateng dari hati yang tulus karena dia benar2 peduli sama (kondisi) kita atau ya cuma pengin basa basi doang atau purely kepo.

Dan gue, entah kenapa merasa bersyukur waktu nganggur ini, gue bisa nyimak banyak banget channel2 yang secara nggak langsung relate gitu sama fase kehidupan gue yang sekarang. Gue ketemu channelnya Mbak Analisa, Mbak Prita yang gue udah tahu dari kapan tahu sebenarnya, dan channel2 lain macam Do You See What I see sampai Dongeng Tengah Malam, yang bikin gue nggak sabar buat dengarin, apa nih cerita yang baru dari mereka?

Di masa2 kayak sekarang ini, dimana bukan hanya negara kita tapi juga banyak negara di dunia lagi diuji sama Corona, memelihara kewarasan bukan lagi hal yang bisa kita anggap sambil lalu, karena serius deh gue nggak ngerti lagi sama orang2 di luar sana (khususnya di sosmed) yang kerjaannya malah bikin suasana makin nggak kondusif.

Tapi, ya sudahlah. Kita doakan saja, mereka diberikan Alloh kesadaran untuk bisa kembali ke jalan yang benar, karena biar gimanapun, isi sosial media itu kan tanggung jawab yang punya akun. Kita jangan sampai masuk ke dalam jebakan betmen, dan malah memberi mereka panggung dan namanya jadi besar sehingga punya pengaruh sendiri buat orang2 yang nggak bisa mengakses informasi secara benar dan akurat.

Karena gue belum bisa nge youtube, biarlah gue mencoba berkarya melalui tulisan di blog ini, dan gue berharap, masing2 dari kita dapat saling peduli satu sama lain, berbagi karena berbagi itu sejatinya kita perlukan bukan buat orang lain, tapi buat diri kita sendiri.














Kamis, 19 Maret 2020

Menjadi Seorang Introvert (Part 1)

Foto: pixabay.com

Belakangan, gue baru sadar kalau bikin konten youtube itu ternyata nggak gampang. Diperlukan banyak usaha buat bikin satu video, yang mungkin menurut kita yang nonton, begini aja videonya? yah, komentar orang memang bisa beragam. Dan gue baru menyadari, kalau kita berkarya atau berhenti berkarya cuma karena komentar orang, rasanya buang2 waktu aja.

Jujur, gue sebenarnya paling nggak nyaman kalau harus bicara di depan banyak orang. Dan mungkin, dengan bikin youtube, gue paling nggak bisa mulai belajar untuk membuka pikiran, bahwa nggak ada yang salah untuk mencoba memperbaiki yang kalau mau dibilang kekurangan gue ini, dengan banyak2 ngomong di depan kamera.

Dan gue belum melakukannya. Well, gue udah pernah coba beberapa kali, dan semuanya berakhir dengan, kayaknya aneh deh. Jadi, gue hapus. Aneh, memang. Tapi, seintrovert itulah gue. Buat orang yang nggak kenal, atau bahkan yang seharusnya tahu gue, keintrovertan gue ini dianggap sebagai sesuatu yang mungkin nggak normal. Karena gue nggak bergaul seperti orang pada umumnya.

Gue sempat berpikiran, apakah mungkin gue perlu membicarakan ini secara serius ke psikolog atau psikiater yang tentu saja langsung gue pikirkan ulang, karena kalian tahu sendiri, harga pergi kesana itu mahalnya nggak ketulungan. Nggak bakal cover buat kantong2 rakyat jelata macam gue.

Yang bisa gue lakukan saat ini gue berusaha untuk nggak mendiagnosa pribadi gue sendiri secara serampangan. Gue nggak pernah sih berusaha nyari tahu apa ada kemungkinan kalau gue "sakit" yang nanti bisa berimbas ke sugesti diri, yang efeknya mungkin bisa jauh lebih buruk.

Setelah gue melihat obrolan raditya dika dengan andovi, chandra liaw, mata gue jadi mulai terbuka, bahwa setiap orang sebenarnya rentan buat kena yang namanya depresi. Dan gue, kadang bingung harus berbuat apa kalau depresi lagi pdkt.

Gue nggak minta untuk dipahami, dimengerti dengan lebih mendalam. Bohong aja kalau gue nggak pengin dapat perhatian, tapi gue cuma pengin kita semua bisa menghargai, mengerti bahwa masing2 manusia lahir dengan keunikannya masing2.

Stempel yang kita berikan, lebih sering pada orang terdekat kita, bisa jadi yang membuat kita melahirkan seorang manusia yang semula unik menjadi makhluk paling mengerikan di muka bumi. Tanpa kita sadari, stempel nakal, bodoh, nggak becus, bego, dan seribu satu kata2 negatif lain yang sudah kita anggap biasa, menempel dan terngiang di kepala anak2 kita. Dan kita, nggak akan pernah tahu kalimat2 negatif itu membawa mereka kemana.

Gue bahagia bisa menemukan akun2 kreatif inspiratif milik Nessi Judge sampai RJL. Terakhir, gue lagi senang ngulik2 video Ewing HD berkat komen salah satu mungkin neror di kolom komentar videonya Nessi. Siapapun itu kamu di luar sana, makasih ya!

Dari Nessi, gue jadi bisa melihat, betapa manusia bisa jauh lebih mengerikan dari setan jika otaknya menjadi rusak, entah itu oleh keluarga terdekatnya atau lingkungan. Yang paling menyedihkan dan tragis, youtuber yang merasa kesepian dan iri sama teman2nnya yang kayaknya hidupnya bahagia, gampang banget buat berteman, punya pacar sementara dia, nggak ada satupun perempuan yang mau mendekati dia.

Youtuber itu berakhir dengan menembak dirinya sendiri setelah menembak beberapa orang yang tinggal di dekat tempat tinggalnya karena mungkin, menurutnya orang2 itu nggak ada yang peduli sama sekali terhadap dirinya, rasa kesepiannya.

Jadi, teman2, mulai dari sekarang, tolong, lebih bijaklah untuk mengeluarkan kata2. Kata2 yang mungkin terdengar ringan, biasa (karena kita membiasakannya) bisa jadi nggak biasa untuk orang lain. Kita harus mulai bisa lebih sensitif, berpikir ulang sebelum mengucapkan kata2 agar tidak ada orang yang kita lukai dengan ucapan kita.

Karena kita, bisa saja berada di tempat orang2 yang tanpa kita sadari tersakiti oleh ucapan2 yang menjadi stempel oleh orang lain.



Yoan (Cerita Pendek)

Yoan tidak bahagia. Tidak mendekati sedikit, bahkan. Orang lain mungkin akan berkata, Yoan bukan tidak bahagia melainkan kurang rasa syuku...