Senin, 07 Agustus 2017

Mengurus Sim Card yang Hilang di Grapari Telkomsel

Pergi ke suatu tempat yang walaupun terdengar familiar ternyata nggak memudahkan segalanya. Apalagi kalau petunjuknya cuma mal prumpung. Alis saya kontan berkerut memang sejak kapan di prumpung ada mal?

Sering dengar memang nggak menjamin kita jadi paham, tahu mungkin. Dan sebetulnya, saya pernah beberapa kali melewatinya hanya saja saya jarang memperhatikan. Tapi, nggak perlu sebingung itu. Selama masih bisa bertanya dan ada plang, insyaAlloh aman.

Entah sudah berapa orang yang kami tanyai, dan semakin bertanya saya semakin bingung karena petunjuknya berbeda-beda. Mungkin sampai satu jam kami muter-muter mencari mal prumpung itu, sampai akhirnya ketemu juga gedung yang dimaksud setelah melipir tanya sama babang gojek yang juga lagi melipir (mungkin lagi janjian sama calon penumpang).

Alhamdulillah, sampai juga dan ternyata nggak terlalu jauh -- hanya memang macetnya nggak tahan. Qodarulloh, setelah sampai grapari telkomsel prumpung tidak bisa melayani permintaan kami karena petugasnya sedang rapat atau training ke luar. Kami dirujuk untuk langsung ke grapari pusat yang terdapat di Bassura City lantai 1.

Perjalanan ke Bassura juga penuh tantangan. Dekat sih sebenarnya, cuma jalannya harus lawan arah -_- kata babang2 ojek yang lagi kumpul-kumpul di pinggir jalan. Kalau mau mutar bisa juga tapi bakalan jauh dan macet juga. Pilihannya cuma dua itu, kata mereka. Dan saya pilih yang lawan arah karena waktu semakin siang.

Jadi, misi kami hari itu adalah meminta nomor hp mama saya yang raib bersama dengan telepon genggamnya. Sampai di Bassura, kami langsung tanya di mana grapari telkomsel oleh sekuriti yang dijawab ada di lantai satu. Karena masih cukup pagi sampai di sana, mal tampaknya belum lama buka (masih sedikit toko yang buka) dan antrian di grapari alhamdulillah tidak begitu banyak.

Saya membagi dua biar cepat selesai, mama mengurus nomornya sementara saya mengurus upgrade kartu papa ke 4g.  Untuk mengganti 4g, saya sudah pernah mengurus di grapari medan merdeka, gedung Alia. Prosesnya mudah dan gratis. Hanya saja memang antriannya panjang sekali di sana. Tapi nggak akan membosankan kok karena tempatnya nyaman dan pelayanannya cukup baik.

Kalau di Bassura, mereka bilang penggantiannya gratis (berlaku juga untuk mengganti nomor yang hilang) hanya saja kami diminta mengisi pulsa minimal 20 ribu. Mama saya mengambil nomor antrian karena akan dilayani CS di dalam, sementara saya mengantri di luar karena mesin pelayanan upgrade kartu dan lainnya berada di depan gerai.

Saya selesai lebih dulu (antrian hanya 3-4 orang saja) dan langsung mendatangi mama untuk melihat apakah semuanya berjalan baik-baik saja. Ternyata, mereka meminta 5 nomor telepon yang paling sering dihubungi beserta namanya dan foto kopi ktp. Setelah saya menuliskan nomor2 yang diminta, mas-nya memroses penggantian kartu yang hilang (sepertinya langsung upgrade 4g juga), lumayan lama tapi tidak sampai satu jam seingat saya.

Sambil menunggu, kami foto2 dulu. Selesai foto2, mas-nya tampaknya nggak lama juga selesai memroses kartu mama yang hilang entah dimana. Pulsanya langsung diisikan, kami membayar dua puluh ribu dan kartu dengan nomor yang hilang juga sudah dipasangkan. Alhamdulillah. Selesai sudah misi kami hari itu.

Setelah selesai, kami memutuskan melihat-lihat mal yang terbilang baru ini dan tidak menemukan yang menarik (kecuali satu baju yang menurut saya bagus tapi harganya sungguh tidak bersahabat). Pun termasuk makanannya. Hari semakin siang waktu kami keluar Bassura setelah dhuhur, dan kami langsung melanjutkan perjalanan ke rawamangun. Sepertinya makan soto di Locale akan menjadi penutup perjalanan kami hari itu.



























Senin, 31 Juli 2017

Paspor di pending karena syarat opsional?


Sebelum melakukan sesuatu, mengambil sebuah keputusan, pernahkah kau bertanya alasannya - - mengapa kau harus melakukannya, mengambil keputusan tersebut?

Jujur, saya terkadang tidak. Ini bisa benar bisa juga salah, tergantung bagaimana cara kita melihatnya.

Seperti hari ini, yah, sebetulnya saya sudah pernah memikirkannya sekalipun tidak begitu lama dan dalam kalau saya ingin membuat paspor.

Kamu membuatnya hanya karena ingin? Oh, dangkal sekali. Tapi, kali ini keadaannya memang seperti itu. Setelah membaca beberapa tulisan, mendengar cerita beberapa teman, keinginan membuat paspor terbit begitu saja.

Ingin karena saya berharap dengan adanya paspor, saya bisa bepergian. Bisa ke tempat-tempat nun jauh di sana yang sudah lama menghuni kepala saya yang sibuk.

Alhamdulillah, setelah menunggu kurang lebih sembilan jam, status pengajuan paspor saya pending.

Ingin bertanya kenapa bisa? Apa yang mustahil di negeri ini, hampir tidak ada kawan.

Saya diminta kembali esok pagi oleh petugas yang harus masuk dan bertanya dulu ke dalam dengan seseorang yang dipanggilnya 'ibu' setelah saya menanyakan sebuah pertanyaan biasa.

"Saya pengin bikin paspor yang 24, bisa kan mbak? "

Saya bertanya begitu karena di formulir yang saya isi, tersedia pilihan 24 juga 48 hal yang berarti kita bebas menentukan mau membuat yang mana dari keduanya.

Petugas perempuan yang melayani saya seakan terkejut, tidak percaya dan berkata pada saya dengan nama yang cukup mengintimidasi.

"Yakin mau bikin yang 24 hal? Ke beberapa negara dan Arab nanti sulit masuk, lho."

"Ada yang bisa masuk, kan?" Tanya saya.

Petugas itu tidak menjawab tapi kembali mengatakan yang intinya paspor 24 hal akan menyulitkan saya jika bepergian ke beberapa negara.

Petugas kemudian menanyakan kemana saya akan pergi, dengan siapa, dari kantor atau sendiri dan berakhir dengan meminta saya kembali lagi esok pagi setelah membawa surat persetujuan dari orang tua.

Saya mengantri dari pagi di Imigrasi kelas I Jakarta Timur dan diminta kembali lagi setelah syarat opsional saya dapatkan.

Selasa, 25 Juli 2017

Slip merah atau slip biru?

Biasanya apa reaksi kalian begitu melihat seragam coklat-coklat lengkap dengan rompi hijau dari kejauhan? langsung jalan minggir, melipir mepet mobil terus langsung bablas begitu ada kesempatan? Saya melakukan itu tiap kali ada di momen itu.

Bertemu bapak-bapak berseragam coklat terlebih di awal bulan memang bukan sesuatu yang menyenangkan, bisa merusak mood malah, apalagi kalau hari itu pas hari Senin. Komplit! Kita-kita yang kesehariannya membawa kendaraan sendiri (entah itu roda dua atau empat) pastinya sudah paham kapan waktu-waktu, di mana bapak-bapak (biasanya bertampang sangar, bodi keker, maskeran, bermata jeli) itu berada (bisa menemukan kita).

Anehnya, tidak jarang sekalipun kita berusaha menghindar, ngeles semaksimal mungkin mereka bisa muncul dan menemukan kita begitu saja. Bahkan di  tempat yang menurut kita paling mustahil sekalipun, mereka bisa menemukan (memberhentikan kita dengan paksa awalnya) kita.

Contohnya beberapa waktu yang lalu saya pulang dari bepergian bersama mama kita mampir ke tip top dulu karena saya harus beli camilan buat ke Jogja. Jadi, waktu itu saya yang biasanya ngambil rute kawasan pulo gadung, kali itu ambil arah Klender.

Di jalan sempat ada perasaan gimana gitu tapi saya cuekkin karena kayaknya nggak ada alasan untuk berpikir yang nggak-nggak. Dan benar, pas di jalan dekat-dekat buaran (I Gusti Ngurah Rai) ada  razia. Nggak tiba-tiba karena saya rasa mereka sudah beberapa lama di sana (dan sedang menilang beberapa tentu saja pengendara roda dua).

Saya coba pakai jurus yang saya bilang sebelumnya, dan yah, kamu tahu, nggak berhasil. Dua orang bapak-bapak berbadan besar dan bertampang sangar (jauh dari kata ramah dan pengayom masyarakat) tampak begitu bernafsu memberhentikan saya.

Tanpa tedeng aling-aling (nggak pakai penjelasan apa dan kenapa apalagi salam senyum sapa) setelah berhasil memberhentikan saya, satu orang terus melihat ke arah saya (terasa sekali mengintimidasi) dan karena saya malas berhadapan lama-lama, saya langsung mengeluarkan surat-surat yang diperlukan.

Aman, saya pikir. Semua lengkap, dan apa-apa yang harus saya lakukan dengan motor sudah saya lakukan alhamdulillah. Harusnya bapak-bapak ini memberi tahu alasan mengapa mereka memberhentikan saya, misal jelas-jelas tidak pakai helm, tidak ada plat, atau modif motor secara berlebihan.

Ini terkesan asal memberhentikan yang penting stop dulu baru cari-cari kesalahan kemudian. Yah, itu kesan yang saya tangkap dari apa yang saya amati selama ini. Sim ok, agak lama pas di stnk, dibolak-balik dengan teliti, dan...

"Ini pajaknya telat ya." kata (kita panggil saja pp) pp entah sebuah pertanyaan atau pernyataan.

Saya mengangguk karena memang saya lihat tertera bulan lima (dua bulan) di sana. Saya kaget juga kok bisa ya saya telat (ini di luar dari kebiasaan). Tapi, yah, mau gimana lagi. Saya berusaha sabar walau waktu itu sempat tidak terima juga karena saya kemudian dikasih slip biru dengan denda tilang yang disilang (denda maksimal saya baru tahu kelak) sebesar Rp 500 ribu.

Pasti ada hikmahnya pikir saya, dan yah, kalau tidak ditilang kemarin, mungkin sampai saat ini saya tidak tahu kalau pajak motor saya sudah terlambat dua bulan. Jadi, setelah mengambil napas (sempat terpikir minta slip merah tapi pp sudah keburu balik badan begitu sim saya dikantonginya) kami pun berlalu meninggalkan tkp. Mama diam saja, tidak bisa berkata apa-apa karena memang mungkin sudah waktunya keluar uang untuk bayar denda tilang.

Di blanko biru yang saya dapat ditulis lengkap tanggal sidang, nominal denda, nama petugas yang menilang dan lokasi sidang. Karena saya sedang berada di daerah Jaktim waktu ditilang, sidang ditulis di PN Jaktim yang berada tidak jauh dari Walikota Jaktim.

si slip biru dengan denda maksimal 500 ribu
Sampai di rumah, saya langsung browsing apa dan bagaimana prosedur tilang slip biru. Dulu sempat baca karena sempat viral juga kalau ditilang minta slip biru (lupa karena apa). Ada beberapa blog yang bahas pengalamannya ditilang (kebanyakkan slip merah) dan kalau nggak kena tilang mungkin saya nggak akan kepikir untuk mampir baca, ya.

Pengalamannya lucu-lucu jadi menghibur juga, ada yang ditilang sampai sejuta karena kesalahan sepele (lupa karena apa), pas duit lagi cekak, anak sekolah yang belum punya sim bahkan ktp -_- sampai yang nggak pakai helm (padahal belum lama keluarin motor dari kantor mau beli makan siang karena dekat). Membaca pengalaman mereka semua saya jadi bersyukur ternyata saya tidak sendiri, walau pasal yang dikenakan tidak nyambung (pasal 288 ayat 1), perasaan nggak rela ditilang tiba-tiba jadi perlahan berkurang.

Ok. Fix. Makin banyak yang saya baca saya makin bingung. Tanya-tanya pengalaman teman, temannya teman juga nggak membuahkan hasil yang memuaskan (simpang siur), sampai akhirnya saya baca ulang pas pagi hari H saya mau tebus barbuk, saya memutuskan untuk langsung datang ke Kejari Jaktim. Alhamdulillah tempatnya nggak jauh, Cipinang lampu merah kedua ambil belok kiri, saya sudah bisa melihat Kejari dari kejauhan (jazakillah khoiran untuk orang-orang baik yang saya tanya dan menjelaskan dengan baik di mana Kejari berada). 

Dan kamu tahu apa? saya pikir di depan pintu masuknya lagi ada apa rame-rame gitu, nggak tahunya antrian pelanggar -_-

*tersenyum kecut*

antrian buat dapat nomor panggil

suasana antrian dipanggil setelah dapat nomor panggil
Nyali saya jadi ciut, apa mungkin saya selesai sebelum jam satu, err...ok, jam dualah maksimal karena saya kerja shift siang hari itu. Ya sudahlah, daripada kelamaan mikir, saya langsung ikut antri di barisan paling belakang. Sebelumnya saya sudah fotokopi satu lembar slip birunya (just in case dan dari blog yang saya baca disarankan begitu).

Saya antri di belakang pemudi dan pemuda yang juga baru datang sama saya seperti saya (kami parkir sebelahan), dan yang cowok kelak pergi (tampaknya untuk fotokopi), dan saya manfaatin waktu itu buat tanya-tanya sama sang perempuan yang ditinggal pergi. Pertanyaan standarlah, dan ternyata casenya sama (ada teman senangnya) kalau dia juga belum bayar ke bank BRI (karena belum juga dapat no briva).

Tadinya saya sempat khawatir kalau harus bayar ke BRI dulu, tapi dari beberapa blog yang saya baca (sedikit tapi tampak meyakinkan), saya yakin-yakinkan kalau bisa langsung bayar di Kejari. Afirmasi positif. Meski sempat galau juga karena waktu tanya bapak-bapak, tiga orang ada yang balik badan gitu setor ke BRI dulu (nggak tahu ini inisiatif mereka saja atau memang disuruh petugas).

Berbekal sharing sama adik perempuan tadi (saya panggil adik karena dia panggil saya ibu dan dari tampilannya khas mahasiswi gitu) dan kelak yang lain, saya maju terus untuk menyelesaikan apa yang sudah saya mulai hari ini.

Setelah antri selama dua jam kurang lebih, saya dapat nomor panggil (antrian nomor panggil waktu itu di loket 1&2) juga. Ada yang bisa tebak saya dapat nomor berapa?


Dari berapa nomor? waktu itu saya lihat ada yang pegang nomor 537 *nelen ludah* dan ternyata kejaksaan melayani sampai 800 pelanggar setiap harinya. Dan hari itu kejaksaan kelihatannya over kuota, karena setelah saya (akhirnya berhasil) mendapatkan sim saya kembali, antriannya makin makin panjang. Bejubel, empel-empelan yang langsung mengingatkan saya pas naik cl di gerbong perempuan.

Sudah dapat nomor panggil selesai dong?

Sama sekali tidak. Itu nomor panggil saja, ya bukan nomor urut dilayani. Jadi, setelah dapat nomor panggil kita (masih) harus menunggu sampai nomor kita dipanggil. Dan dipanggilnya itu ajaibnya suka-suka bapaknya saja (nggak berurutan, loncat-loncat, longkap, dsb). Jadi nggak jaminan juga kalau yang datang pagi bisa pulang pagi lagi (kecuali nomor 1).

Bisa saja yang datang pagi atau duluan baru dipanggil siang atau bahkan sore hari. Seperti saya, antri nomor panggil dari jam sembilan kurang baru dipanggil sekitar setengah tiga. Berbekal pengetahuan setelah baca-baca di blog, saya usahain tidak berdiri jauh-jauh dari loket setelah dapat nomor panggil. Yang lain juga begitu (sudah pada pengalaman kayaknya). Mulai dari berdiri, duduk di motor orang di parkiran, berdiri lagi sampai bolak-balik warung kopi (habis dua es kopi plus es teh poci), nomor saya nggak dipanggil juga. Padahal waktu itu waktu sudah hampir mendekati jam dua belas. Dan nggak lama, adzan pun berkumandang.

mendadak sepi karena disela jam istirahat
Untuk mendinginkan kepala dan suasana yang siang itu teriknya masyaAlloh, setelah sharing sama mbak-mbak, saya titip minta tolong didengarkan kalau-kalau nomor 219 dipanggil. Alhamdulillah mbak itu mau, dan saya pun langsung jalan ke gedung sebelah karena musholanya ada di sana. Waktu itu pintunya masih dikunci, dan baru dibuka setelah saya selesai.

Nah, pas saya sudah di dalam, sayup-sayup saya dengar 219 dipanggil. Deg banget, agak galau sih tapi ya sudahlah lebih penting laporan dulu, itu masih bisa nanti pikir saya. Dan benar saja, setelah selesai laporan saya menunggu (lagi dan lagi) sampai setengah tiga, nomor saya baru dipanggil.

*Alhamdulillah*

ada delapan loket tapi hanya loket 6&8 saja yang melayani pembayaran denda tilang

Saya lupa beli camilan dan minuman dulu sebelum kesini (yakali sempat mikirin camilan), tapi sekalipun lupa atau nggak sempat nggak usah khawatir karena di sisi kanan loket ada dua warung dan satu mini market yang bisa hampiri begitu lapar dan haus menyapa. Toilet juga ada meski kondisinya cukup mengenaskan. Karena lagi panas, saya pesan es pakai kopi dan langsung habis dalam waktu kurang dari setengah jam. Jam sebelas, antara haus sama ngantuk saya pesan es kopi lagi (kali ini coba di warung yang kedua) dan ternyata harganya lebih mahal seribu.

Biar nggak bosan dan nggak mati kutu kalau nggak bawa apa-apa selain hp yang lobet, makanan dan minuman ringan, buku bacaan, kamu bisa ajak ngobrol sesama pelanggar. Kemarin sih jadi kayak berasa lagi nongkrong di kafe gitu karena babang-babang ojek online asyik ngopi-ngopi sama bapak-bapak yang lain yang saling tukar pengalaman ditilang. Dengarin saja juga seru, kok nambah pengetahuan juga. Siapa tahu pengalamannya serupa sama kita.

Alhamdulillah, nggak begitu lama setelah saya pesan es teh, nomor 219 akhirnya dipanggil. Pakai toa sih, tapi nggak gitu kencang suaranya, itu sebabnya kenapa pelanggar pada berkumpul memenuhi sisi depan, samping kiri kanan loket.

disteples pakai stepler besar (ki-ka) sim-nya
Bergegas, saya langsung menuju loket 8 begitu nomor 219 dipanggil.

"enam puluh satu ribu" kata bapak petugas di dalam loket

Saya kasih pecahan lima puluh, lima ribu (2 lembar) dan seribuan sehingga berjumlah persis yang diminta. Ini memudahkan kita juga karena khawatir mereka tidak siap kembalian (dan ribet kalau lagi ramai), karena ada yang merelakan membayar lebih empat ribu biar cepat selesai.

Alhamdulillah jumlah yang harus saya bayar sesuai dengan hasil sidang putusan PN di web mereka (saya belum membayar ke BRI sampai jumlah denda resminya dirilis di PN dan Kejari).yaitu enam puluh satu ribu.

dari web PN Jaktim
dari web Kejari Jaktim

Apapun, sebelum berkendara kalau tidak mau ditilang, ada baiknya kita menyiapkan segala sesuatunya sebelum jalan. Termasuk pergi yang dekat-dekat, even cuma buat beli makan siang pakailah atribut keselamatan berkendara. Ini penting bukan karena biar nggak kena tilang saja, tapi juga buat keselamatan diri kita sendiri. Kalaupun semua surat sudah lengkap, teknis nggak ada masalah dan masih bisa ditilang juga, doakan saja pp-nya yang baik-baik, karena doa akan kembali kepada pemberi doa.



 


Jumat, 21 Juli 2017

Short trip to Jogja (5-end)

Buat yang sudah bolak-balik Jogja, pasti sudah hafal ya sama Puncak Becici, Hutan Pinus, Goa Jepang, Bhumi Merapi. Atau...belum? sama sih. Saya baru tahu malah. Kalau dengar sih selentingan gitu, sudah. Pernah baca juga meski selintas soal Hutan Pinus dan Puncak Becici yang instragamable abis, goa pindul yang jauhnya tidak ketolongan, Gunung Api Purba yang ternyata masih sepi padahal tempatnya itu subhanalloh, benar-benar indah dan mengagumkan.

Berkat Firly yang nekat kesana berdasarkan tulisan di plang, kami sampai juga setelah menempuh kurang lebih 25 km arah Gunung Kidul. Kami melewatkan Hutan Wisata Kaliurang, Kaliadem, Taman Pelangi, Kebun Buah Mangunan, Imogiri sampai kuliner di sepanjang jalan Taman Siswa -- semata karena waktu yang tidak memungkinkan.

view dari Puncak Becici. indah, ya?

Imogiri saja yang satu area dengan Hutan Pinus dan Puncak Becici tak kami sambangi karena saya sudah pernah kesana, dan nampaknya Firly tidak begitu tertarik setelah saya brief singkat tentang kompleks makam raja-raja Mataram tersebut.

Kabar baiknya, kami tidak melewatkan kulineran di angkringan yang legendaris dan hits di berbagai kalangan. Malam pertama di Jogja, kami sempatkan mampir di angkringan Lik Man yang tidak begitu jauh dari stasiun Tugu (sebelah utara) dan memesan kopi joss yang sudah dikelola tiga generasi.

Saya pesan kopi joss yang dicampur dengan susu putih sementara Firly kopi joss murni, dalam artian tidak dicampur apapun. Kopi joss itu aslinya kopi hitam biasa, saya tidak tanya kopi merk apa yang digunakan oleh anak Lik Man (generasi ke-3) yang dimasukkan arang setelah diaduk dengan sempurna.


Kopi joss terasa sempurna bila kita menikmatinya pada malam hari, di bawah terang rembulan dan bersama orang-orang terkasih. Yang lucu, karena jalan menuju angkringan ini harus melewati rel kereta api, jadi kami harus jalan, memberhentikan dan mendorong motor sampai di ujung rel (setelah tanya-tanya, ragu-ragu beberapa lama dan melihat bapak-bapak mendorong motornya dengan mata kepala sendiri) dan baru bisa menyalakan dan menjalankannya setelah agak jauh dari rel.
 
Nah, pas saya mau naik kembali ke boncengan, Firly sempat meminta saya untuk naik agak sedikit ke depan karena sudah masuk trotoar yang agak tinggi gitu. Dan tanpa melihat ke belakang, Firly langsung jalan dong dan baru berhenti di belokan angkringan setelah merasa tidak ada respon dari saya yang dia ajak bicara di sepanjang jalan -_-

Setelah parkir, kami langsung memesan kopi joss, nasi kucing dan gorengan sebagai lauknya. Tadinya Firly sempat mendengar kami harus membayar selama kami masih duduk di sana, which is nggak mungkin banget kata saya sama Firly. Mungkin, membayar itu yang kemudian kami pahami adalah memberi pengamen lintas generasi yang nggak kunjung berhenti manggung selama kami menikmati suasana malam di kota Yogyakarta.

Selamat menikmati DI Yogyakarta...

Puncak Becici



Pantai Parangtritis




Goa Pindul








 Gunung Api Purba




Benteng Vredeburg 



video

Sabtu, 15 Juli 2017

Short trip to Jogja (part 4)


Perjalanan ke Jogja kemarin sebetulnya bukan perjalanan yang direncanakan, dalam artian benar-benar direncanakan. Kalau pengin ke Jogjanya memang sudah sejak dulu kala. Qodarullah nggak ketemu timing yang pas. Sampai akhirnya libur lebaran, Firly mengabarkan kalau dia libur sampai tanggal 17.

Saya sendiri bisa dibilang tidak ada libur (panjang seperti orang-orang pada umumnya), alhamdulillah. Dapat libur itu satu hari, persis di hari Idul Fitri. Esoknya sudah harus masuk sekalipun cuma monitoring dan kontroling. Terus saya kepikiran kenapa kita nggak manfaatin waktu liburan si Firly, ya. Terus kan sudah lama kita punya wacana pengin kesana, kesitu, kemari yang nggak pernah ada realisasinya.

Hahaha.

Karena biasanya untuk bisa benar-benar jalan itu kan yang susah mas-sin waktunya. Apalagi kalau jalannya ngelibatin banyak orang, beugh. Wassalam. Nggak tahu kapan terwujudnya wacana-wacana maha besar itu.

Ya sudah. Firly sudah pasti libur sampai tanggal yang sudah ditentukan sekolahnya, tinggal saya. Alhamdulillah teman yang mengajukan cuti pertama sudah akan pulang minggu ini, jadi saya langsung start ambil cuti berikutnya. Nggak usah banyak-banyaklah, lima plus satu hari libur kayaknya cukup buat eksplor singkat Jogja. Lagian saya juga cuma penasaran sama goa pindul saja kemarin, err... sama hutan pinus yang kayaknya kok catchy banget gitu karena kabarnya sering dipakai buat foto-foto pre-wed.

Kalau kita bang, foto-fotonya nanti saja ya, abis akad (ajiye). Ok sip. Cuti approved, tiket sudah ditangan, tinggal cap cus. Matahari belum keluar dari peraduannya ketika saya menginjakkan kaki di stasiun Lempuyangan. Waktu sudah menunjukkan  hampir pukul enam saat itu. Mata saya membuka persis waktu kereta perlahan berhenti di stasiun yang biasa dijadikan tempat singgah selain stasiun Tugu (Yogyakarta).

Sebenarnya kalau mau langsung ke malioboro lebih dekat jika kita turun di stasiun Tugu. Masalahnya, saya dapat tiket yang berhenti di Lempuyangan, ac eko yang menurut saya sudah cukup bagus. Kereta berangkat (mataram premium) malah lebih bagus dari kereta pulang; bogowonto. Apapun, buat saya yang suka bolak balik toilet, kebersihan toilet jadi salah satu faktor yang cukup penting dalam perjalanan yang memakan 8-9 bahkan 10 jam berkereta.

Well, overall, sudah ada peningkatan baik dari segi pelayanan dan fisik kereta secara tiket kereta subsidi kabarnya akan kembali naik. Semoga sebanding ya dengan penyesuaian harga yang entah kapan diberlakukan.

nunggu Firly sambil sarapan nasi bekel dari rumah
Karena saya suka berkereta, saya jadi tidak keberatan menunggu Firly lama-lama di stasiun. Stasiun dan kereta membawa ingatan saya pada seorang penulis yang gemar menggunakan kereta dan stasiun sebagai latar belakang ceritanya, entah pendek atau panjang. Saya tidak tahu kabarnya sekarang. Saya harap ia baik saja seperti yang terakhir kali. Semoga.

Harusnya saya menyempatkan diri untuk mengelilingi stasiun ini, tapi, karena sudah lelah, setelah mengisi perut, saya hanya menghabiskan waktu dengan duduk. Asyik memandangi lalu lalang orang. Ada yang nampak santai, ada yang tergesa, ada yang tampak sibuk bicara dalam bahasa Jepang dengan seorang rekannya di telepon genggamnya yang (tampak) tua.

Lalu saya teringat telepon genggam saya low batt. Saya memasukkan kabel charger ke telepon dan menyambungkannya ke power bank karena saya harus standby mengingat kabar dari Firly yang sudah sampai di Jogja sejak kemarin siang belum juga tiba. Firly mampir ke Magelang dulu, menginap di rumah seorang kawan dekatnya dan baru kembali ke Jogja pagi ini, sekitar pukul enam lebih sedikit untuk bertemu saya di Lempuyangan.

Sekitar pukul delapan, barulah Firly mengabarkan kalau dia sudah sampai dan menunggu di pintu luar barat. Saya menutup telepon genggam, menghirup udara stasiun lama sebelum mengucapkan sayonara dan perlahan meninggalkan stasiun untuk melanjutkan perjalanan.

Firly datang dengan dua tas. Dan dia sudah berhasil membawa motor sejauh ini, (mungkin ini yang pertama kalinya) di Jogja yang dia book hasil dari rekomendasi adiknya yang kuliah di Jogja. Motor yang tidak diisi lebih dulu oleh pemiliknya itu kemudian kami sewa untuk tiga hari ke depan. Dan eksplor Jogja pun kami mulai dengan mencari pom bensin terdekat yang ternyata tidak bisa kami temukan di sini, melainkan harus menuju kota  dulu. 
 
Berbekal pengetahuan yang minim tentang kota Jogja, kami membelah kota yang anginnya begitu kencang menerpa di bulan Juli dengan perasaan bahagia tak terkira. Ini merupakan solo trip pertama kami.

Biar bagaimanapun, ini kali pertama saya dan Firly menjalani sebuah perjalanan luar kota secara bersama-sama. Kalau dalam kota sih, waktu Firly ke Jakarta kami sering pergi bersama. Tapi di luar kota, semuanya akan menjadi berbeda. Konon kabarnya, kita baru bisa mengetahui watak seseorang setelah melakukan safar bersama, meminjamkan uang, dan tinggal bersama dalam satu atap.   
 
Karena masih ada sisa-sisa masa libur lebaran, jalanan Jogja jadi mengingatkan saya akan Jakarta. Macet meskipun tidak di sepanjang jalan (kecuali dalam kota ya), kondisi jalan relatif ramai lancar. Masih bisa jalan, berhenti sesekali. Kami mencoba menikmati pemandangan (saya khususnya yang dibonceng) sisi kiri dan kanan Jogja yang dipenuhi bangunan-bangunan unik dan etnik.Atau sesuatu yang hijau, begitu segar dipandang mata.

Aah. Di Jakarta saya hanya bisa menemui yang hijau-hijau seperti ini di jalan baru, tak jauh dari rumah. Itu pun tak seberapa luasnya, tapi cukuplah sebagai pelepas penat tatkala menjumpainya.

Sambil memikirkan rute perjalanan hari ini, kami memutuskan untuk mencari penginapan lebih dulu. Kami menghabiskan waktu kurang lebih dua jam sebelum akhirnya melipir di Sosrowijayan (Hotel Indonesia) karena diberi tahu oleh seorang bapak-bapak waktu kami isi bensin eceran, kalau kami bisa mendapatkan kamar murah di sana.


Kamar Penuh

Saya memang pernah baca sekilas tentang penginapan ini, hanya sekilas. Sementara yang lain, saya sudah membaca beberapa reviewnya. Namun, bunk bed, yogya bnb tidak berhasil kami temukan karena kami kesulitan mencari jalan kesana (yogya bnb). Untuk bunk bed (tidak begitu jauh dari malioboro) hanya tersisa satu kamar (share dorm) isi 4 bed dengan kamar mandi luar.

Harganya masih mahal (95/bed), kata saya pada Firly. Kami tidak jadi mengambil bunk bed dan berjalan dengan gontai ke bawah dan berharap ada keajaiban yang terjadi. Waktu kami ke bunk bed kondisi Hotel Indonesia sudah full. Seluruh kamarnya sudah terisi. Saya sampaikan kalau ada yang check out kami mau mengambil satu kamar untuk dua orang.

Mas-nya mengerti. Sebetulnya, waktu kami sampai di sana masih ada satu kamar kosong. Saya lupa ini yang 105/80 ribu. Tak berapa lama, seorang wanita datang dan mengatakan bahwa ia telah lebih dulu (entah datang atau bookingnya) dan kamar tersebut kemudian tentu saja diberikan pada wanita itu.

Saya akan mereview Hotel Indonesia di post yang lain, ya. Kami memutuskan berkeliling Sosrowijayan dan tidak menemukan sedikit sreg dengan satu penginapan pun. Begitu ada yang kami rasa cocok di depan penginapan tersebut sudah ada tulisan 'kamar penuh'.

Kami keluar gang-gang kecil di Sosrowijayan, disapa pemilik penginapan yang menawarkan kamar yang masih tersedia yang kami tolak dengan mengucapkan terima kasih sambil berlalu. Saya tertawa, Firly juga dan harapan kami masih sama kalau di HI nanti ada tamu yang check out siang ini.

Dan alhamdulillah, memang ada tamu yang check out. Tapi kamar yang 105, kata mas-nya yang sabar melayani kami yang sudah speechless belum kunjung mendapat penginapan.

Kamar mandi dalam kan, ya?

Iya.

Ya udah. Kita ambil ya, mas.

Lalu Firly pun mengisi formulir dan saya menyerahkan ktp karena identitas Firly sudah diserahkan saat rentatl motor pagi tadi.

Tapi cuma bisa satu malam ya, mbak. Besok sudah ada yang book.

Kami berdua lalu saling melirik dan mengangguk. Soal besok biarlah menjadi misteri. Yang pasti kami bersyukur siang itu sudah mendapat kamar yang bisa langsung check-in, walau baru bisa masuk setelah jam 12 tapi nggak masalah juga karena kita memang mau langsung caw. Setelah menitipkan gembolan, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini kami memutuskan berkeliling dalam kota dulu saja sambil membuat rencana untuk esok hari.


Dalam kota cukup banyak tempat yang bisa didatangi, misal di sepanjang malioboro ini saja kita akan melewati pasar beringharjo, vredeburg (yang masuknya cuma bayar 3 ribu) sampai nol kilometer yang mana Firly belum kesampaian untuk foto di sana.

Fokus kita luar kota gitu, mana saja yang penting sampai. Haha. Random banget. Firly bahkan bawa motor ke tempat yang nggak ada di iten yang dibikinin mbak Eva (jazakillah khoiran mbak Eva). Jadi, kemarin itu Firly jalan based on plang. Alhamdulillah sampai juga di gunung api purba, dan malah endingnya jadi menyenangkan sih karena ternyata pas kita sampai di sana pengunjungnya kayak cuma 5 orang saja. Kami berdua, dua orang yang juga baru datang di depan kami, dan seorang mbak-mbak yang datang dan terlihat sendiri waktu kami pergi.

Tidak tahunya di dalam ada dua orang lagi yang sudah mau turun (ketemu di pos 1), 2 orang yang lagi break di gazebo dan 2 orang bule yang nyapa kita dan kita sapa balik dengan bahasa seadanya. Bulenya baru datang pas kita mau balik. Sayang banget.

pos 1-nya saja begini, gimana pos-pos berikutnya?



Jalur ke gunung api purba ini lumayan ekstrem. Kalau ke goa pindul ekstrem di jauhnya saja sih, tapi ada part pas mau dekat-dekat jalannya grajulan parah gitu. Alhamdulillah motor baik-baik saja setelah dari sana. Saran buat yang mau ke gunung api pakai outfit yang nyaman ya, yang ringan dan nggak terbang-terbang gitu biar nggak nyangkut pas naik turun di tangga atau bahkan kesandung batu.

Bawa minum sudah pasti, jaga kebersihan, manner sama partner kali, ya. Karena kalau naik sendirian pas dapat spot ok kan jadi nggak ada yang bisa motoin. Ini kita ke gunung api purba itu di hari ke dua, barengan sama puncak becici, goa pindul. Semua yang saya sebutin itu mostly ada di gunung kidul, dan itu jauh pakai banget. Must prepare banget deh kalau mau kesana. Minimal camilan sama minum karena kalau cape nyetir gitu bisa melipir sebentar sambil menikmati semilir angin dan memandangi indahnya ciptaan Alloh SWT yang ada di sepanjang jalan.  

Terus motor harus ditanya banget kondisinya karena kan mau dipakai jalan jauh gitu, jas hujan sama helm juga dipastiin kondisinya bagus karena kemarin saya dapat helm yang kondisinya kurang. Bensin dipenuhin saja karena kalau sudah masuk desa itu susah banget nemuin pom bensin, yang eceran juga jarang yang jual. Lain halnya kalau di kota, ya lumayan banyak.

Di Jogja itu adzan lebih cepat dari Jakarta, dan dia sudah panas even baru jam tujuh setengah delapan. Panas tapi anginnya kencang gitu, jadi panas dingin gitu gimana sih. Kalau di kota nggak sedingin kayak waktu saya stay di rumah teman di Bantul. Masih bisa mandi pagilah. Hahaha. Kalau waktu di Bantul, err... mandi sih. Sehari sekali >-< cukuplah.

bawa ban segede gini sendiri, dan..masih jauh nggak sih goa pindulnya?






 -- bersambung di postingan berikutnya, insyaAlloh --
 






Jumat, 14 Juli 2017

Short trip to Jogja (part 3)

Sabtu itu (tanggal 8 Juli) saya punya waktu seharian untuk ngapa-ngapain. Tapi, paginya saya masih leyeh-leyeh. Sudah packing sih malamnya, packing singkat alias kurang niat gitu karena masih ada beberapa barang yang belum dimasukkin -- seperti peralatan mandi dkk, make up (sekalipun cuma bedak sama lipstik) ke ransel hitam yang setia menemani saya kemana saja.

Tadinya malah mau nyempetin ke tip top buat belanja camilan gitu buat makan di kereta, tapi setelah dipikir lagi,... ya kok rasanya tidak praktis banget secara belanjanya juga paling cuma 20-30 ribu gitu. 50 ribu paling maksimal lah. Cape di jalan saja kan. Jadi, saya belanja di minimarket tempat mesen tiket kemarin, dan anehnya saya beli minum botolan yang gede gitu. Padahal kan bisa saja beli pas di stasiun.

So weird, kan?

Iyain saja biar cepat. Sambil menanti kepastian dari partner perjalanan saya yang sudah harus masuk tanggal 17 atau 18 sih, Fir? saya coba cari penginapan yang murah dan bagus gitu. Saya cari beberapa rekomendasi blogger yang pergi dengan bujet minimalis juga kayak konsep perjalanan kita nanti. Makin dicari makin pusing. Akhirnya saya cuma dapat sekitar 3-4 penginapan yang saya ss biar bisa dilihat lagi nanti pas di sana. Pengin dihubungi galau, khawatir ternyata ada teman Firly yang bersedia menampung kita. Apalagi book kan?

Ya sudah. Sampai sorenya, pas mau jalan ke stasiun (minta diantar ponakan yang rewel banget minta cepat-cepat karena katanya mau pergi juga), kabar itu tidak datang juga. Yo wislah. Tidak mungkin kan kita tidak jadi jalan gitu cuma gara-gara tidak tahu mau tidur di mana selama di Jogja nanti. Itu bisa diurus nantilah, pikir saya. Yang penting, sekarang saya harus cepat-cepat jalan ke stasiun karena saya tidak mau ketinggalan kereta seperti waktu yang lalu. Waktu jalan pertama kali ke Jogja bareng teman-teman di kantor yang lama.

Ditinggal kereta itu pedih, kawan. Cuma karena selisih beberapa menit, bahkan detik, kuda besi itu dengan teganya jalan tanpa melihat ke belakang. Ah. Sudahlah. Yang sudah pernah merasakan pasti tahulah ya gimana perihnya.

Tulisan ini kayaknya sih akan menjadi panjang, jadi buat yang mau lanjut bisa ambil camilan dulu, bikin kopi atau cokelat hanget dulu dan baru kembali setelah semuanya dirasa siap.

Pas mau berangkat itu, tahu nggak apa yang berat? ninggalin mbul yang belum mandi, yang suka bikin orang rumah sebel karena suka pee sama poo di dalam rumah, yang suka bikin saya ketawa-ketawa sendiri melihat tingkahnya yang silly. Lainnya sih biasa saja. Haha. Nggak juga sih. Lagian saya kan cuma mau ke Jogja tiga hari tiga malam saja.

Saya nggak bilang sama mama kalau di sana belum tahu mau stay di mana. Paling kasih garis besarnya saja kalau kita mau ke malioboro dan ada kemungkinan menginap di daerah sekitaran sana. Itu saja, sih. Pas ditanya mau kemana saja, yang nyengir lebar. Belum tahu juga. Itenerary yang dibuatin mbak Eva sudah sampai, alhamdulillah. Tinggal lihat saja nanti selama di sana sempatnya kemana saja.

Ok. Jadi sudah siap menyimak perjalanan saya selama di kota gudeg?

It all starts here.

Stasiun Lempuyangan dini hari

"Kereta anda telah tiba pada tujuan akhir perjalanan. Stasiun Lempuyangan."

Saya lupa redaksi persisnya, tapi kurang lebih informasinya seperti itu yang keluar entah darimana. Karena suara ini juga, saya terbangun setelah mengalami tidur yang panjang. Jadi, kereta saya itu berangkat jam sembilan lebih satu menit. Telat satu menit saja, kelar hidup. Tapi, kalau si kereta yang telat, no problemo. Semua baik-baik saja.

Saya sampai stasiun pas maghrib gitu. Diantar ponakan sampai ke dalam, saya yang nyuruh karena saya malas bawa gembolan sana sini. Jadi, dia masuk bayar parkir sama kayak parkir satu jam di stasiun padahal cuma drop saya sama gembolan saya saja. Haha.

So mean.

Keadaan stasiun sore itu ramai, sudah pasti. Oleh orang-orang yang juga bawa gembolan yang sama atau bahkan lebih banyak dari saya. Yang cuma bawa ransel doangan gitu juga ada, sih. Tapi bisa dihitunglah. Sekalipun cuaca masih sangat panas sore itu, saya tetap jaketan. Saya langsung jalan pelan sambil diam-diam mengamati fashion orang-orang di stasiun.

Penting banget, kan?

Tidak, kok. Mana sempatlah. Yang ada saya langsung buru-buru ke sebuah ruangan kaca gitu yang nggak jauh dari tempat saya di drop, masuk ke sana dan ambil no antrian sekalipun feeling saya mengatakan kalau itu bukan tempat yang tepat. Tapi, saya masuk juga dan tetap ambil no antrian. Setelah itu baru nanya sama seorang bapak yang lagi antri juga dan sibuk sama hp-nya.

Misi, pak kalau saya mau print tiket di sini bisa?

Oh, di sana mbak. Mbak lurus saja, nanti dekat atm ada tempat buat print tiket.

Di sana ada petugasnya kan ya, pak?

Ada. Nanti mbak tanya lagi di sana, ya.

Iya. Makasih ya, pak.

Percakapan aslinya sih nggak sepanjang itu. Diburu waktu karena belum maghriban juga, saya lari-lari kecil buat sampai ke tempat yang dimaksud si bapak. Sampai di sana, nggak lihat petugas KAI, saya minta bantuin sama satpam baju biru gitu. Yang suka bolak balik di dalam krl. Satpamnya bilang, itu mbak bisa minta tolong sama petugasnya, kata bapaknya. Dan mata saya pun langsung mencari petugas yang dimaksud yang berbaju putih yang tadi ketutupan sama calon penumpang.

Saya harus nunggu karena petugas itu juga lagi bantuin calon penumpang yang lain. Dua orang, satu ibu-ibu dan satu mas-mas gitu. Setelah selesai, tiket yang saya beli di minimarket yang sudah dipegang petugasnya langsung dimasukkan gitu ke komputer di depannya. Yang dimasukkan ternyata kode bookingnya yang tertera paling atas.

Tidak lama. Srrrt! kertas dengan warna oranye-oranye keluar gitu dari mesin yang ada samping atau bawahnya, sih. Lupa. Saya bersorak girang dalam hati, senang karena ternyata nggak harus antri lama buat print tiket. Lain halnya kalau saya yang coba print sendiri itu tiket -_- wallahua'lam selesai jam berapa.

Jadi, daripada ragu dan kelamaan mikir gimana cara kerjanya itu mesin, mending minta bantuan saja. Petugasnya juga ada dan mau kok dimintain tolong. Sekalipun cuma satu orang, membantulah. Semoga ke depan bisa disediain lebih banyak petugas standby di sana, ya karena lumayan lama lho kalau kita nggak ngerti cara ngoperasiinya. Apalagi kalau pas buru-buru atau mepet waktu boarding.

Beugh. Jangan coba-coba dah. 

Pas saya tanya bisa print-in sekalian tiket pulangnya, si masnya bilang nggak bisa, mbak. Di print di stasiun kepulangan bisanya.

Saya ber-oh-ria dan langsung cap cus meninggalkan si mas untuk kemudian mengantri salat, tentu saja setelah mengucapkan makasih yo, mas. Ciao!

Yah gitu, deh. Tempat salatnya kecil buat menampung calon penumpang hari ini. Antrian wudunya mengular sampai keluar pintu toilet, belum lagi masuk ke dalam musholanya harus melalui antrian cowok yang juga nggak kalah panjang. Ternyata, tempat wudhu perempuan di dalam gitu.

Ya sudah. Setelah semua selesai, saya ngetem duduk di depan mushola sambil nunggu isya. Jadi pas di kereta nanti tinggal bobo cantik, pikir saya. Kenyataannya, saya memang bobo cantik. Bahkan saking pulasnya, saya baru bangun saat pemberitahuan dilayangkan dari speaker dan menggema di stasiun tujuan perjalanan saya di trip kali ini.

Stasiun Lempuyangan. 


 








Short trip to Jogja (part 2)

Sudah lama saya tidak mengalami rasa deg-deg-an, terlebih ketika berhadapan dengan layar komputer -- selain ketika deadlock dan deadline menjelang. Dan perasaan semacam ini, Alloh berikan kembali waktu saya kejar-kejaran dengan mas-mas di minimarket... ehm, tunggu. Maksud saya berkejaran dengan waktu yang terus berjalan seiring semakin berkurangnya tiket kereta api rute Ps.Senen-Lempuyangan dan arah sebaliknya.

"Book yang itu, mas. Cepet!" saya ngomongnya sih santai, cuma memang agak ditekan biar mas-nya juga bisa merasakan ketegangan yang sedang saya rasakan ketika begitu banyak hal yang bergelayut di benak saya saat itu.

Alhamdulillah. Setelah berjibaku beberapa lama dengan sistem yang lemotnya bikin adik lelah, tiket Lempuyangan-Ps.Senen berhasil diamankan mas minimarket yang berulangkali menanyakan no ktp dan no hp walaupun sudah diketiknya berkali-kali.

Payah kali adik, bang.

Selesai di print, langsung saja saya kasih mas-nya 350 ribu sesuai yang diminta dan langsung tancap gas. Sampai di sini saya lupa surat cuti saya sudah disetujui atau belum (atau bahkan sudah dikasih atau belum) karena pikiran saya sedang banyak cabangnya saat itu. Tiket sudah di tangan, alhamdulillah. Itenerary belum ada, tempat menginap gratis negatif karena kabar dari Firly soal ini belum juga tiba.

Terus, jadi jalan juga?

Alhamdulillah...


Nungguin, ya?

Jadi.

Nekat, ya? memang Jogja itu kota kecil apa? di sana belum tahu mau tidur dimana, mau kemana, bahkan bedain arah utara selatan barat sama timur saja saya tak bisa. Itu sempurnanya, yah, atau seninya dalam sebuah perjalanan, kata saya mencoba menghibur Firly dan tentu saja, diri saya sendiri.

Saya rasa saya memerlukannya.

Saya bukan tipe yang merasa harus selalu menyediakan kompas, peta, pisau lipat dan kawan-kawannya hanya agar semata perjalanan menjadi terasa lebih menenangkan. Tapi saya juga tidak sesembrono dan tidak sepedulian itu. Paling tidak, kami telah sepakat untuk jalan apa adanya, alias jalan minimalis dengan segala konsekuensinya.

Tanpa diucapkan, kami berdua sepakat untuk sharing cost karena biar bagaimanapun bersama itu membuat beban yang semula terasa memberatkan dada menjadi sedikit jauh lebih ringan dirasa. Itu sebabnya kenapa memilih partner perjalanan itu sangat penting karena kamu akan melalui hari-hari bersamanya, dimana kita jauh dari keluarga, jauh dari adik yang bisa kita minta jemput kapan saja, jauh dari papa yang bisa kita minta isikan pulsa, jauh dari mama yang bisa mijitin kapan saja pening menyapa.


Sampai sini saja, saya dibuat merenung betapa peran keluarga ternyata sangat besar. Betapa kita mungkin begitu sering meremehkan, menganggap adik atau kakak kita annoying karena suka banget minta dijemput tanpa peringatan lebih dulu. Suka menghabiskan makanan yang sudah kita simpan baik-baik di area yang paling remote dari kulkas kita yang isinya kebanyakkan belanjaan si mama.

Begitu jauh sedikit, saya jadi mewek. Meskipun tidak nangis bombay, tapi saya rasa saya jadi mengerti kenapa beberapa tahun belakangan ini saya lebih senang berada di rumah. Ok. Soal ini bisa kita bahas di lain kesempatan, ya. Semoga. Tidak janji juga.

Yang pasti, saya dan Firly sudah siap lahir batin untuk dilamar melakukan perjalanan singkat ke Jogja. Kenapa singkat? ya karena memang hanya tiga hari. Tiga malam. Setidaknya begitu yang tertera di tiket yang saya booking dadakan.

Kenapa Jogja?

Kenapa tidak? banyak alasan yang bisa kita buat kenapa kita harus datang ke Jogja. Salah satunya, mungkin kamu bisa menemukan jodohmu waktu lagi makan bubur ayam di malioboro atau waktu lagi asyik foto-foto di spot-spot favoritmu di sudut-sudut kota Jogja yang...

Romantis!

Apa yang terbayang di benakmu waktu mendengar Jogja?

Kalau mau tahu saya kemana saja, menginap di mana, menghabiskan berapa rupiah selama (tiga hari) di sana -- tungguin, ya. InsyaAlloh saya post di postingan berikutnya.

*s&k berlaku*