Senin, 04 Desember 2017

Serba Tanggung Catatan Usai Menonton Film Chrisye


Tidak ada kerusuhan sekalipun tamu undangan harus menunggu cukup lama sebelum pintu pertunjukkan dibuka. Hanya ada dua pintu yang tersedia di Epicentrum XXI siang itu (1/12), dan itu, kadang merepotkan.

Ada cukup banyak film yang mau diputusin sementara mereka seperti tak punya cukup ruang untuk memutarnya. Kamu bisa menyebutnya ironis atau biasa saja, terserah yang mana yang kamu suka. Kamu bebas memilihnya.

Tapi, siang di menjelang sore itu, tamu undangan sepertinya tak punya banyak pilihan selain menunggu dengan sabar bersama angin yang embusannya membuat mata mengantuk, dan peluh yang turun tanpa diminta.

Tidak seperti seorang rekan yang mendapat undangan khusus, screening kali ini, saya mendaftar via bloggercrony dan beruntung betul mendapat kiriman email.

Saya harus mengucapkan terima kasih untuk bloggercrony, karena yah, beberapa hari ke depan saya membutuhkan alasan untuk benar-benar bisa pergi ke luar. Dan mendatangi acara-acara seperti ini jelas-jelas alasan yang lebih dari cukup untuk mendapat lampu hijau keluar rumah. 

Tadinya, saya berencana untuk tidak membawa kendaraan, namun, setelah beberapa lama menunggu, transjakarta tak juga kunjung datang sementara waktu terus berjalan. Perlahan, mentari semakin meninggi, terus merangkak hingga tak menyisakan ruang untuk bayang-bayang singgah lebih lama.

Saya kembali berjalan ke rumah sembari memikirkan akan seperti apakah film Chrisye yang diperankan Vino Bastian nanti. Sampai saat itu saya tidak tahu kalau istri almarhum diperankan oleh Velove Vexia.

Cukup mengejutkan, entah ini menjadi sebuah strategi atau apa, yang pasti saya kurang bisa menikmati akting Velove Vexia sebagai Damayanti Noor yang saya rasakan kering dan tak berkembang. 

Marsha Timothy atau Tika Bravani rasanya lebih pas memerankan tokoh Yanti yang optimis, kebalikkan dari Chrisye yang cenderung tak percaya akan kemampuannya sendiri.

Bisa dipahami mengapa Yanti ingin mengangkat cerita dari sisi lain Chrisye yang selama ini kita kenal sebagai penyanyi dengan segala keunikan dan kekhasannya.

Yanti percaya, kehidupan Chrisye sebagai penyanyi sudah banyak diketahui publik, tidak begitu halnya dengan Chrisye sebagai seorang ayah, suami, dan anak. Sisi inilah yang ingin dimunculkan Yanti dalam film Chrisye, film biopik yang diproduksi MNC Pictures dan Vito Global Visi dengan Rizal Mantovani sebagai sang sutradara.

Selain Gie dan Habibie dan Ainun, Chrisye menjadi film biopik lain yang meninggalkan rasa yang berbeda setelah menyimak nya, setidaknya di beberapa bagian.


Film biopik, memungkinkan kita sebagai penonton mengenal lebih jauh sosok sang tokoh utama yang sangat mungkin tidak kita ketahui secara luas .

Betapa Chrisye begitu terikat dengan rokok, sepi, dan rasa kosong yang menghantuinya sekalipun segala sesuatunya berjalan dengan lancar.

Film ini bercerita tentang Chrismansyah Rahadi sebagai manusia yang juga melalui berbagai macam rintangan kehidupan yang membuatnya jatuh bangun, bangkit, hingga kembali ke pangkuan Sang Ilahi pemilik segala sesuatu.

Film ini tidak luar biasa, sedikit mengecewakan bisa dibilang karena yah, seharusnya kita bisa mendapati sesuatu yang lain dari sosok Chrisye yang pendiam, dingin dan tertutup.

Namun, saya cukup terhibur dengan adanya Dwi Sasono yang berperan sebagai Guruh Sukarno dan Andi Arsyl sebagai Erwin Gutawa yang which is, oh, saya tidak sanggup mengatakannya.

Sungguh.

Kalau Dwi saya kira cukup sukses memikat hati saya, paling tidak dengan perannya sebagai Guruh yang kamu semua sudah tahu seperti apa, tapi Andi Arsyl sebagai Erwin?

Saya percaya ini tidak bercanda. Segala sesuatunya saya rasa sudah dipertimbangkan (mungkin). Tapi ini juga bisa menjadi nilai lebih. Ini bukan film komedi, tapi penonton berhasil dibuat tertawa begitu para pemain yang saya sebutkan tadi disorot kamera.

Film Chrisye akan tayang serempak pada 7 Desember 2017. Luangkanlah sedikit waktu untuk menyaksikannya bersama orang-orang terkasih.

Kadang, sesekali kamu perlu melihat setelah mendengar, membaca sesuatu. Apapun itu, lakukanlah sekalipun hal itu terasa sulit atau bahkan tidak mungkin menurut (kemampuan) kita.








  

Jumat, 10 November 2017

Aston Hotel Marina Ancol Genjot Produk Lokal di Usianya yang ke-9


Been a long time. Feels like a year did not hear anything from blogger world. Well, saya tetap keep up kok dengan event-event yang bertebaran di sosial media. Tapi, sekarang ini saya harus selektif. Harus begitu, karena kalau nggak hampir semua event yang menurut saya keren pengin saya ikuti (seperti yang lalu-lalu-apalagi yang berbayar-haha). Dan itu nggak akan bisa karena saya masih punya kewajiban ngantor.

Dan kemarin (10/11), senang rasanya mendengar dari teman blogger yang baru saya temui di event itu kalau beberapa dari mereka ternyata juga berstatus sebagai pegawai. Ada yang ibu rumah tangga, ini kayaknya paling banyak. Mamah-mamah muda, nggak asing dong ya dengan yang satu ini. Tapi, yang satu ini, bukan mamah-mamah muda yang punya baby sitter, khadimat buat ngurus dapur, kebun, dan lainnya. Ini mamah-mamah muda yang berusaha untuk tetap eksis dan hidup dengan menulis (nge-blog).

Soal itu, kita skip dulu. Selain karena yang mengadakan acara Hotel Aston, saya kira ada cukup banyak alasan bagi saya untuk datang ke acara ulang tahun Hotel Aston Marina Ancol yang ke-9 yang jatuh pada tanggal 30 Oktober yang lalu. Salah satunya karena undangannya datang dari Blogger Crony (makasih mas Sato dan mbak Wawa untuk kebaikannya memilih saya).

Sebagaimana ulang tahun, nggak akan meriah kalau nggak ada rangkaian acara untuk memperingati ulang tahun hotel berbintang 4 yang terletak di lokasi yang strategis di belahan Utara Jakarta ini. Tanggal 10 kemarin, merupakan opening dari rangkaian acara yang akan berakhir tanggal 12 November.

Siapa saja bisa ikut memeriahkan dan bergabung di rangkaian acara ini, karena Aston mengadakan bazaar dan mengambil tema 'I Love Local Product' yang digelar di lobby hotel dan sekitarnya selama 3 hari ke depan.

Di bazaar ini, Aston menggandeng beberapa UKM asuhan Inacraft, anak-anak muda dan usaha sampingan karyawan. Sepertinya, semua serba lokal atau berhubungan dengan produk-produk lokal. Seperti misalnya peragaan busana di opening kemarin malam, Aston menggaet Ethys Mayoshi, seniman batik yang sudah melakukan survei bersama Dinas Pariwisata DKI Jakarta mengenai setiap daerah memiliki desain batik tersendiri. Pun Jakarta, dengan batik Enjoy Jakartanya punya kekhasan dalam desainnya, yaitu gedung-gedung Jakarta dan juga batik Gobang Jakarta dengan motif 13 flora dan fauna Jakarta, tentunya.


Selain itu, ada juga lomba menghias cupcake, cooking class untuk para tamu yang gemar memasak yang akan diuji memasak chicken bomb ball dan sate lilit. Juga ada sampling berbagai produk dan nggak ketinggalan workshop beauty class oleh Martha Tilaar dan Aubeau bagi pengunjung dan staff hotel. Dan, hmm, satu lagi, nggak boleh ketinggalan coffee clinic yang menghadirkan ahli kopi dari Javabika yang akan memberikan kita ilmu seputar kopi.


Jadi, ada yang mau ke Aston Marina Ancol weekend ini?

Senin, 07 Agustus 2017

Mengurus Sim Card yang Hilang di Grapari Telkomsel

Pergi ke suatu tempat yang walaupun terdengar familiar ternyata nggak memudahkan segalanya. Apalagi kalau petunjuknya cuma mal prumpung. Alis saya kontan berkerut memang sejak kapan di prumpung ada mal?

Sering dengar memang nggak menjamin kita jadi paham, tahu mungkin. Dan sebetulnya, saya pernah beberapa kali melewatinya hanya saja saya jarang memperhatikan. Tapi, nggak perlu sebingung itu. Selama masih bisa bertanya dan ada plang, insyaAlloh aman.

Entah sudah berapa orang yang kami tanyai, dan semakin bertanya saya semakin bingung karena petunjuknya berbeda-beda. Mungkin sampai satu jam kami muter-muter mencari mal prumpung itu, sampai akhirnya ketemu juga gedung yang dimaksud setelah melipir tanya sama babang gojek yang juga lagi melipir (mungkin lagi janjian sama calon penumpang).

Alhamdulillah, sampai juga dan ternyata nggak terlalu jauh -- hanya memang macetnya nggak tahan. Qodarulloh, setelah sampai grapari telkomsel prumpung tidak bisa melayani permintaan kami karena petugasnya sedang rapat atau training ke luar. Kami dirujuk untuk langsung ke grapari pusat yang terdapat di Bassura City lantai 1.

Perjalanan ke Bassura juga penuh tantangan. Dekat sih sebenarnya, cuma jalannya harus lawan arah -_- kata babang2 ojek yang lagi kumpul-kumpul di pinggir jalan. Kalau mau mutar bisa juga tapi bakalan jauh dan macet juga. Pilihannya cuma dua itu, kata mereka. Dan saya pilih yang lawan arah karena waktu semakin siang.

Jadi, misi kami hari itu adalah meminta nomor hp mama saya yang raib bersama dengan telepon genggamnya. Sampai di Bassura, kami langsung tanya di mana grapari telkomsel oleh sekuriti yang dijawab ada di lantai satu. Karena masih cukup pagi sampai di sana, mal tampaknya belum lama buka (masih sedikit toko yang buka) dan antrian di grapari alhamdulillah tidak begitu banyak.

Saya membagi dua biar cepat selesai, mama mengurus nomornya sementara saya mengurus upgrade kartu papa ke 4g.  Untuk mengganti 4g, saya sudah pernah mengurus di grapari medan merdeka, gedung Alia. Prosesnya mudah dan gratis. Hanya saja memang antriannya panjang sekali di sana. Tapi nggak akan membosankan kok karena tempatnya nyaman dan pelayanannya cukup baik.

Kalau di Bassura, mereka bilang penggantiannya gratis (berlaku juga untuk mengganti nomor yang hilang) hanya saja kami diminta mengisi pulsa minimal 20 ribu. Mama saya mengambil nomor antrian karena akan dilayani CS di dalam, sementara saya mengantri di luar karena mesin pelayanan upgrade kartu dan lainnya berada di depan gerai.

Saya selesai lebih dulu (antrian hanya 3-4 orang saja) dan langsung mendatangi mama untuk melihat apakah semuanya berjalan baik-baik saja. Ternyata, mereka meminta 5 nomor telepon yang paling sering dihubungi beserta namanya dan foto kopi ktp. Setelah saya menuliskan nomor2 yang diminta, mas-nya memroses penggantian kartu yang hilang (sepertinya langsung upgrade 4g juga), lumayan lama tapi tidak sampai satu jam seingat saya.

Sambil menunggu, kami foto2 dulu. Selesai foto2, mas-nya tampaknya nggak lama juga selesai memroses kartu mama yang hilang entah dimana. Pulsanya langsung diisikan, kami membayar dua puluh ribu dan kartu dengan nomor yang hilang juga sudah dipasangkan. Alhamdulillah. Selesai sudah misi kami hari itu.

Setelah selesai, kami memutuskan melihat-lihat mal yang terbilang baru ini dan tidak menemukan yang menarik (kecuali satu baju yang menurut saya bagus tapi harganya sungguh tidak bersahabat). Pun termasuk makanannya. Hari semakin siang waktu kami keluar Bassura setelah dhuhur, dan kami langsung melanjutkan perjalanan ke rawamangun. Sepertinya makan soto di Locale akan menjadi penutup perjalanan kami hari itu.



























Senin, 31 Juli 2017

Paspor di pending karena syarat opsional?


Sebelum melakukan sesuatu, mengambil sebuah keputusan, pernahkah kau bertanya alasannya - - mengapa kau harus melakukannya, mengambil keputusan tersebut?

Jujur, saya terkadang tidak. Ini bisa benar bisa juga salah, tergantung bagaimana cara kita melihatnya.

Seperti hari ini, yah, sebetulnya saya sudah pernah memikirkannya sekalipun tidak begitu lama dan dalam kalau saya ingin membuat paspor.

Kamu membuatnya hanya karena ingin? Oh, dangkal sekali. Tapi, kali ini keadaannya memang seperti itu. Setelah membaca beberapa tulisan, mendengar cerita beberapa teman, keinginan membuat paspor terbit begitu saja.

Ingin karena saya berharap dengan adanya paspor, saya bisa bepergian. Bisa ke tempat-tempat nun jauh di sana yang sudah lama menghuni kepala saya yang sibuk.

Alhamdulillah, setelah menunggu kurang lebih sembilan jam, status pengajuan paspor saya pending.

Ingin bertanya kenapa bisa? Apa yang mustahil di negeri ini, hampir tidak ada kawan.

Saya diminta kembali esok pagi oleh petugas yang harus masuk dan bertanya dulu ke dalam dengan seseorang yang dipanggilnya 'ibu' setelah saya menanyakan sebuah pertanyaan biasa.

"Saya pengin bikin paspor yang 24, bisa kan mbak? "

Saya bertanya begitu karena di formulir yang saya isi, tersedia pilihan 24 juga 48 hal yang berarti kita bebas menentukan mau membuat yang mana dari keduanya.

Petugas perempuan yang melayani saya seakan terkejut, tidak percaya dan berkata pada saya dengan nama yang cukup mengintimidasi.

"Yakin mau bikin yang 24 hal? Ke beberapa negara dan Arab nanti sulit masuk, lho."

"Ada yang bisa masuk, kan?" Tanya saya.

Petugas itu tidak menjawab tapi kembali mengatakan yang intinya paspor 24 hal akan menyulitkan saya jika bepergian ke beberapa negara.

Petugas kemudian menanyakan kemana saya akan pergi, dengan siapa, dari kantor atau sendiri dan berakhir dengan meminta saya kembali lagi esok pagi setelah membawa surat persetujuan dari orang tua.

Saya mengantri dari pagi di Imigrasi kelas I Jakarta Timur dan diminta kembali lagi setelah syarat opsional saya dapatkan.

Selasa, 25 Juli 2017

Slip merah atau slip biru?

Biasanya apa reaksi kalian begitu melihat seragam coklat-coklat lengkap dengan rompi hijau dari kejauhan? langsung jalan minggir, melipir mepet mobil terus langsung bablas begitu ada kesempatan? Saya melakukan itu tiap kali ada di momen itu.

Bertemu bapak-bapak berseragam coklat terlebih di awal bulan memang bukan sesuatu yang menyenangkan, bisa merusak mood malah, apalagi kalau hari itu pas hari Senin. Komplit! Kita-kita yang kesehariannya membawa kendaraan sendiri (entah itu roda dua atau empat) pastinya sudah paham kapan waktu-waktu, di mana bapak-bapak (biasanya bertampang sangar, bodi keker, maskeran, bermata jeli) itu berada (bisa menemukan kita).

Anehnya, tidak jarang sekalipun kita berusaha menghindar, ngeles semaksimal mungkin mereka bisa muncul dan menemukan kita begitu saja. Bahkan di  tempat yang menurut kita paling mustahil sekalipun, mereka bisa menemukan (memberhentikan kita dengan paksa awalnya) kita.

Contohnya beberapa waktu yang lalu saya pulang dari bepergian bersama mama kita mampir ke tip top dulu karena saya harus beli camilan buat ke Jogja. Jadi, waktu itu saya yang biasanya ngambil rute kawasan pulo gadung, kali itu ambil arah Klender.

Di jalan sempat ada perasaan gimana gitu tapi saya cuekkin karena kayaknya nggak ada alasan untuk berpikir yang nggak-nggak. Dan benar, pas di jalan dekat-dekat buaran (I Gusti Ngurah Rai) ada  razia. Nggak tiba-tiba karena saya rasa mereka sudah beberapa lama di sana (dan sedang menilang beberapa tentu saja pengendara roda dua).

Saya coba pakai jurus yang saya bilang sebelumnya, dan yah, kamu tahu, nggak berhasil. Dua orang bapak-bapak berbadan besar dan bertampang sangar (jauh dari kata ramah dan pengayom masyarakat) tampak begitu bernafsu memberhentikan saya.

Tanpa tedeng aling-aling (nggak pakai penjelasan apa dan kenapa apalagi salam senyum sapa) setelah berhasil memberhentikan saya, satu orang terus melihat ke arah saya (terasa sekali mengintimidasi) dan karena saya malas berhadapan lama-lama, saya langsung mengeluarkan surat-surat yang diperlukan.

Aman, saya pikir. Semua lengkap, dan apa-apa yang harus saya lakukan dengan motor sudah saya lakukan alhamdulillah. Harusnya bapak-bapak ini memberi tahu alasan mengapa mereka memberhentikan saya, misal jelas-jelas tidak pakai helm, tidak ada plat, atau modif motor secara berlebihan.

Ini terkesan asal memberhentikan yang penting stop dulu baru cari-cari kesalahan kemudian. Yah, itu kesan yang saya tangkap dari apa yang saya amati selama ini. Sim ok, agak lama pas di stnk, dibolak-balik dengan teliti, dan...

"Ini pajaknya telat ya." kata (kita panggil saja pp) pp entah sebuah pertanyaan atau pernyataan.

Saya mengangguk karena memang saya lihat tertera bulan lima (dua bulan) di sana. Saya kaget juga kok bisa ya saya telat (ini di luar dari kebiasaan). Tapi, yah, mau gimana lagi. Saya berusaha sabar walau waktu itu sempat tidak terima juga karena saya kemudian dikasih slip biru dengan denda tilang yang disilang (denda maksimal saya baru tahu kelak) sebesar Rp 500 ribu.

Pasti ada hikmahnya pikir saya, dan yah, kalau tidak ditilang kemarin, mungkin sampai saat ini saya tidak tahu kalau pajak motor saya sudah terlambat dua bulan. Jadi, setelah mengambil napas (sempat terpikir minta slip merah tapi pp sudah keburu balik badan begitu sim saya dikantonginya) kami pun berlalu meninggalkan tkp. Mama diam saja, tidak bisa berkata apa-apa karena memang mungkin sudah waktunya keluar uang untuk bayar denda tilang.

Di blanko biru yang saya dapat ditulis lengkap tanggal sidang, nominal denda, nama petugas yang menilang dan lokasi sidang. Karena saya sedang berada di daerah Jaktim waktu ditilang, sidang ditulis di PN Jaktim yang berada tidak jauh dari Walikota Jaktim.

si slip biru dengan denda maksimal 500 ribu
Sampai di rumah, saya langsung browsing apa dan bagaimana prosedur tilang slip biru. Dulu sempat baca karena sempat viral juga kalau ditilang minta slip biru (lupa karena apa). Ada beberapa blog yang bahas pengalamannya ditilang (kebanyakkan slip merah) dan kalau nggak kena tilang mungkin saya nggak akan kepikir untuk mampir baca, ya.

Pengalamannya lucu-lucu jadi menghibur juga, ada yang ditilang sampai sejuta karena kesalahan sepele (lupa karena apa), pas duit lagi cekak, anak sekolah yang belum punya sim bahkan ktp -_- sampai yang nggak pakai helm (padahal belum lama keluarin motor dari kantor mau beli makan siang karena dekat). Membaca pengalaman mereka semua saya jadi bersyukur ternyata saya tidak sendiri, walau pasal yang dikenakan tidak nyambung (pasal 288 ayat 1), perasaan nggak rela ditilang tiba-tiba jadi perlahan berkurang.

Ok. Fix. Makin banyak yang saya baca saya makin bingung. Tanya-tanya pengalaman teman, temannya teman juga nggak membuahkan hasil yang memuaskan (simpang siur), sampai akhirnya saya baca ulang pas pagi hari H saya mau tebus barbuk, saya memutuskan untuk langsung datang ke Kejari Jaktim. Alhamdulillah tempatnya nggak jauh, Cipinang lampu merah kedua ambil belok kiri, saya sudah bisa melihat Kejari dari kejauhan (jazakillah khoiran untuk orang-orang baik yang saya tanya dan menjelaskan dengan baik di mana Kejari berada). 

Dan kamu tahu apa? saya pikir di depan pintu masuknya lagi ada apa rame-rame gitu, nggak tahunya antrian pelanggar -_-

*tersenyum kecut*

antrian buat dapat nomor panggil

suasana antrian dipanggil setelah dapat nomor panggil
Nyali saya jadi ciut, apa mungkin saya selesai sebelum jam satu, err...ok, jam dualah maksimal karena saya kerja shift siang hari itu. Ya sudahlah, daripada kelamaan mikir, saya langsung ikut antri di barisan paling belakang. Sebelumnya saya sudah fotokopi satu lembar slip birunya (just in case dan dari blog yang saya baca disarankan begitu).

Saya antri di belakang pemudi dan pemuda yang juga baru datang sama saya seperti saya (kami parkir sebelahan), dan yang cowok kelak pergi (tampaknya untuk fotokopi), dan saya manfaatin waktu itu buat tanya-tanya sama sang perempuan yang ditinggal pergi. Pertanyaan standarlah, dan ternyata casenya sama (ada teman senangnya) kalau dia juga belum bayar ke bank BRI (karena belum juga dapat no briva).

Tadinya saya sempat khawatir kalau harus bayar ke BRI dulu, tapi dari beberapa blog yang saya baca (sedikit tapi tampak meyakinkan), saya yakin-yakinkan kalau bisa langsung bayar di Kejari. Afirmasi positif. Meski sempat galau juga karena waktu tanya bapak-bapak, tiga orang ada yang balik badan gitu setor ke BRI dulu (nggak tahu ini inisiatif mereka saja atau memang disuruh petugas).

Berbekal sharing sama adik perempuan tadi (saya panggil adik karena dia panggil saya ibu dan dari tampilannya khas mahasiswi gitu) dan kelak yang lain, saya maju terus untuk menyelesaikan apa yang sudah saya mulai hari ini.

Setelah antri selama dua jam kurang lebih, saya dapat nomor panggil (antrian nomor panggil waktu itu di loket 1&2) juga. Ada yang bisa tebak saya dapat nomor berapa?


Dari berapa nomor? waktu itu saya lihat ada yang pegang nomor 537 *nelen ludah* dan ternyata kejaksaan melayani sampai 800 pelanggar setiap harinya. Dan hari itu kejaksaan kelihatannya over kuota, karena setelah saya (akhirnya berhasil) mendapatkan sim saya kembali, antriannya makin makin panjang. Bejubel, empel-empelan yang langsung mengingatkan saya pas naik cl di gerbong perempuan.

Sudah dapat nomor panggil selesai dong?

Sama sekali tidak. Itu nomor panggil saja, ya bukan nomor urut dilayani. Jadi, setelah dapat nomor panggil kita (masih) harus menunggu sampai nomor kita dipanggil. Dan dipanggilnya itu ajaibnya suka-suka bapaknya saja (nggak berurutan, loncat-loncat, longkap, dsb). Jadi nggak jaminan juga kalau yang datang pagi bisa pulang pagi lagi (kecuali nomor 1).

Bisa saja yang datang pagi atau duluan baru dipanggil siang atau bahkan sore hari. Seperti saya, antri nomor panggil dari jam sembilan kurang baru dipanggil sekitar setengah tiga. Berbekal pengetahuan setelah baca-baca di blog, saya usahain tidak berdiri jauh-jauh dari loket setelah dapat nomor panggil. Yang lain juga begitu (sudah pada pengalaman kayaknya). Mulai dari berdiri, duduk di motor orang di parkiran, berdiri lagi sampai bolak-balik warung kopi (habis dua es kopi plus es teh poci), nomor saya nggak dipanggil juga. Padahal waktu itu waktu sudah hampir mendekati jam dua belas. Dan nggak lama, adzan pun berkumandang.

mendadak sepi karena disela jam istirahat
Untuk mendinginkan kepala dan suasana yang siang itu teriknya masyaAlloh, setelah sharing sama mbak-mbak, saya titip minta tolong didengarkan kalau-kalau nomor 219 dipanggil. Alhamdulillah mbak itu mau, dan saya pun langsung jalan ke gedung sebelah karena musholanya ada di sana. Waktu itu pintunya masih dikunci, dan baru dibuka setelah saya selesai.

Nah, pas saya sudah di dalam, sayup-sayup saya dengar 219 dipanggil. Deg banget, agak galau sih tapi ya sudahlah lebih penting laporan dulu, itu masih bisa nanti pikir saya. Dan benar saja, setelah selesai laporan saya menunggu (lagi dan lagi) sampai setengah tiga, nomor saya baru dipanggil.

*Alhamdulillah*

ada delapan loket tapi hanya loket 6&8 saja yang melayani pembayaran denda tilang

Saya lupa beli camilan dan minuman dulu sebelum kesini (yakali sempat mikirin camilan), tapi sekalipun lupa atau nggak sempat nggak usah khawatir karena di sisi kanan loket ada dua warung dan satu mini market yang bisa hampiri begitu lapar dan haus menyapa. Toilet juga ada meski kondisinya cukup mengenaskan. Karena lagi panas, saya pesan es pakai kopi dan langsung habis dalam waktu kurang dari setengah jam. Jam sebelas, antara haus sama ngantuk saya pesan es kopi lagi (kali ini coba di warung yang kedua) dan ternyata harganya lebih mahal seribu.

Biar nggak bosan dan nggak mati kutu kalau nggak bawa apa-apa selain hp yang lobet, makanan dan minuman ringan, buku bacaan, kamu bisa ajak ngobrol sesama pelanggar. Kemarin sih jadi kayak berasa lagi nongkrong di kafe gitu karena babang-babang ojek online asyik ngopi-ngopi sama bapak-bapak yang lain yang saling tukar pengalaman ditilang. Dengarin saja juga seru, kok nambah pengetahuan juga. Siapa tahu pengalamannya serupa sama kita.

Alhamdulillah, nggak begitu lama setelah saya pesan es teh, nomor 219 akhirnya dipanggil. Pakai toa sih, tapi nggak gitu kencang suaranya, itu sebabnya kenapa pelanggar pada berkumpul memenuhi sisi depan, samping kiri kanan loket.

disteples pakai stepler besar (ki-ka) sim-nya
Bergegas, saya langsung menuju loket 8 begitu nomor 219 dipanggil.

"enam puluh satu ribu" kata bapak petugas di dalam loket

Saya kasih pecahan lima puluh, lima ribu (2 lembar) dan seribuan sehingga berjumlah persis yang diminta. Ini memudahkan kita juga karena khawatir mereka tidak siap kembalian (dan ribet kalau lagi ramai), karena ada yang merelakan membayar lebih empat ribu biar cepat selesai.

Alhamdulillah jumlah yang harus saya bayar sesuai dengan hasil sidang putusan PN di web mereka (saya belum membayar ke BRI sampai jumlah denda resminya dirilis di PN dan Kejari).yaitu enam puluh satu ribu.

dari web PN Jaktim
dari web Kejari Jaktim

Apapun, sebelum berkendara kalau tidak mau ditilang, ada baiknya kita menyiapkan segala sesuatunya sebelum jalan. Termasuk pergi yang dekat-dekat, even cuma buat beli makan siang pakailah atribut keselamatan berkendara. Ini penting bukan karena biar nggak kena tilang saja, tapi juga buat keselamatan diri kita sendiri. Kalaupun semua surat sudah lengkap, teknis nggak ada masalah dan masih bisa ditilang juga, doakan saja pp-nya yang baik-baik, karena doa akan kembali kepada pemberi doa.



 


Jumat, 21 Juli 2017

Short trip to Jogja (5-end)

Buat yang sudah bolak-balik Jogja, pasti sudah hafal ya sama Puncak Becici, Hutan Pinus, Goa Jepang, Bhumi Merapi. Atau...belum? sama sih. Saya baru tahu malah. Kalau dengar sih selentingan gitu, sudah. Pernah baca juga meski selintas soal Hutan Pinus dan Puncak Becici yang instragamable abis, goa pindul yang jauhnya tidak ketolongan, Gunung Api Purba yang ternyata masih sepi padahal tempatnya itu subhanalloh, benar-benar indah dan mengagumkan.

Berkat Firly yang nekat kesana berdasarkan tulisan di plang, kami sampai juga setelah menempuh kurang lebih 25 km arah Gunung Kidul. Kami melewatkan Hutan Wisata Kaliurang, Kaliadem, Taman Pelangi, Kebun Buah Mangunan, Imogiri sampai kuliner di sepanjang jalan Taman Siswa -- semata karena waktu yang tidak memungkinkan.

view dari Puncak Becici. indah, ya?

Imogiri saja yang satu area dengan Hutan Pinus dan Puncak Becici tak kami sambangi karena saya sudah pernah kesana, dan nampaknya Firly tidak begitu tertarik setelah saya brief singkat tentang kompleks makam raja-raja Mataram tersebut.

Kabar baiknya, kami tidak melewatkan kulineran di angkringan yang legendaris dan hits di berbagai kalangan. Malam pertama di Jogja, kami sempatkan mampir di angkringan Lik Man yang tidak begitu jauh dari stasiun Tugu (sebelah utara) dan memesan kopi joss yang sudah dikelola tiga generasi.

Saya pesan kopi joss yang dicampur dengan susu putih sementara Firly kopi joss murni, dalam artian tidak dicampur apapun. Kopi joss itu aslinya kopi hitam biasa, saya tidak tanya kopi merk apa yang digunakan oleh anak Lik Man (generasi ke-3) yang dimasukkan arang setelah diaduk dengan sempurna.


Kopi joss terasa sempurna bila kita menikmatinya pada malam hari, di bawah terang rembulan dan bersama orang-orang terkasih. Yang lucu, karena jalan menuju angkringan ini harus melewati rel kereta api, jadi kami harus jalan, memberhentikan dan mendorong motor sampai di ujung rel (setelah tanya-tanya, ragu-ragu beberapa lama dan melihat bapak-bapak mendorong motornya dengan mata kepala sendiri) dan baru bisa menyalakan dan menjalankannya setelah agak jauh dari rel.
 
Nah, pas saya mau naik kembali ke boncengan, Firly sempat meminta saya untuk naik agak sedikit ke depan karena sudah masuk trotoar yang agak tinggi gitu. Dan tanpa melihat ke belakang, Firly langsung jalan dong dan baru berhenti di belokan angkringan setelah merasa tidak ada respon dari saya yang dia ajak bicara di sepanjang jalan -_-

Setelah parkir, kami langsung memesan kopi joss, nasi kucing dan gorengan sebagai lauknya. Tadinya Firly sempat mendengar kami harus membayar selama kami masih duduk di sana, which is nggak mungkin banget kata saya sama Firly. Mungkin, membayar itu yang kemudian kami pahami adalah memberi pengamen lintas generasi yang nggak kunjung berhenti manggung selama kami menikmati suasana malam di kota Yogyakarta.

Selamat menikmati DI Yogyakarta...

Puncak Becici



Pantai Parangtritis




Goa Pindul








 Gunung Api Purba




Benteng Vredeburg 



Sabtu, 15 Juli 2017

Short trip to Jogja (part 4)


Perjalanan ke Jogja kemarin sebetulnya bukan perjalanan yang direncanakan, dalam artian benar-benar direncanakan. Kalau pengin ke Jogjanya memang sudah sejak dulu kala. Qodarullah nggak ketemu timing yang pas. Sampai akhirnya libur lebaran, Firly mengabarkan kalau dia libur sampai tanggal 17.

Saya sendiri bisa dibilang tidak ada libur (panjang seperti orang-orang pada umumnya), alhamdulillah. Dapat libur itu satu hari, persis di hari Idul Fitri. Esoknya sudah harus masuk sekalipun cuma monitoring dan kontroling. Terus saya kepikiran kenapa kita nggak manfaatin waktu liburan si Firly, ya. Terus kan sudah lama kita punya wacana pengin kesana, kesitu, kemari yang nggak pernah ada realisasinya.

Hahaha.

Karena biasanya untuk bisa benar-benar jalan itu kan yang susah mas-sin waktunya. Apalagi kalau jalannya ngelibatin banyak orang, beugh. Wassalam. Nggak tahu kapan terwujudnya wacana-wacana maha besar itu.

Ya sudah. Firly sudah pasti libur sampai tanggal yang sudah ditentukan sekolahnya, tinggal saya. Alhamdulillah teman yang mengajukan cuti pertama sudah akan pulang minggu ini, jadi saya langsung start ambil cuti berikutnya. Nggak usah banyak-banyaklah, lima plus satu hari libur kayaknya cukup buat eksplor singkat Jogja. Lagian saya juga cuma penasaran sama goa pindul saja kemarin, err... sama hutan pinus yang kayaknya kok catchy banget gitu karena kabarnya sering dipakai buat foto-foto pre-wed.

Kalau kita bang, foto-fotonya nanti saja ya, abis akad (ajiye). Ok sip. Cuti approved, tiket sudah ditangan, tinggal cap cus. Matahari belum keluar dari peraduannya ketika saya menginjakkan kaki di stasiun Lempuyangan. Waktu sudah menunjukkan  hampir pukul enam saat itu. Mata saya membuka persis waktu kereta perlahan berhenti di stasiun yang biasa dijadikan tempat singgah selain stasiun Tugu (Yogyakarta).

Sebenarnya kalau mau langsung ke malioboro lebih dekat jika kita turun di stasiun Tugu. Masalahnya, saya dapat tiket yang berhenti di Lempuyangan, ac eko yang menurut saya sudah cukup bagus. Kereta berangkat (mataram premium) malah lebih bagus dari kereta pulang; bogowonto. Apapun, buat saya yang suka bolak balik toilet, kebersihan toilet jadi salah satu faktor yang cukup penting dalam perjalanan yang memakan 8-9 bahkan 10 jam berkereta.

Well, overall, sudah ada peningkatan baik dari segi pelayanan dan fisik kereta secara tiket kereta subsidi kabarnya akan kembali naik. Semoga sebanding ya dengan penyesuaian harga yang entah kapan diberlakukan.

nunggu Firly sambil sarapan nasi bekel dari rumah
Karena saya suka berkereta, saya jadi tidak keberatan menunggu Firly lama-lama di stasiun. Stasiun dan kereta membawa ingatan saya pada seorang penulis yang gemar menggunakan kereta dan stasiun sebagai latar belakang ceritanya, entah pendek atau panjang. Saya tidak tahu kabarnya sekarang. Saya harap ia baik saja seperti yang terakhir kali. Semoga.

Harusnya saya menyempatkan diri untuk mengelilingi stasiun ini, tapi, karena sudah lelah, setelah mengisi perut, saya hanya menghabiskan waktu dengan duduk. Asyik memandangi lalu lalang orang. Ada yang nampak santai, ada yang tergesa, ada yang tampak sibuk bicara dalam bahasa Jepang dengan seorang rekannya di telepon genggamnya yang (tampak) tua.

Lalu saya teringat telepon genggam saya low batt. Saya memasukkan kabel charger ke telepon dan menyambungkannya ke power bank karena saya harus standby mengingat kabar dari Firly yang sudah sampai di Jogja sejak kemarin siang belum juga tiba. Firly mampir ke Magelang dulu, menginap di rumah seorang kawan dekatnya dan baru kembali ke Jogja pagi ini, sekitar pukul enam lebih sedikit untuk bertemu saya di Lempuyangan.

Sekitar pukul delapan, barulah Firly mengabarkan kalau dia sudah sampai dan menunggu di pintu luar barat. Saya menutup telepon genggam, menghirup udara stasiun lama sebelum mengucapkan sayonara dan perlahan meninggalkan stasiun untuk melanjutkan perjalanan.

Firly datang dengan dua tas. Dan dia sudah berhasil membawa motor sejauh ini, (mungkin ini yang pertama kalinya) di Jogja yang dia book hasil dari rekomendasi adiknya yang kuliah di Jogja. Motor yang tidak diisi lebih dulu oleh pemiliknya itu kemudian kami sewa untuk tiga hari ke depan. Dan eksplor Jogja pun kami mulai dengan mencari pom bensin terdekat yang ternyata tidak bisa kami temukan di sini, melainkan harus menuju kota  dulu. 
 
Berbekal pengetahuan yang minim tentang kota Jogja, kami membelah kota yang anginnya begitu kencang menerpa di bulan Juli dengan perasaan bahagia tak terkira. Ini merupakan solo trip pertama kami.

Biar bagaimanapun, ini kali pertama saya dan Firly menjalani sebuah perjalanan luar kota secara bersama-sama. Kalau dalam kota sih, waktu Firly ke Jakarta kami sering pergi bersama. Tapi di luar kota, semuanya akan menjadi berbeda. Konon kabarnya, kita baru bisa mengetahui watak seseorang setelah melakukan safar bersama, meminjamkan uang, dan tinggal bersama dalam satu atap.   
 
Karena masih ada sisa-sisa masa libur lebaran, jalanan Jogja jadi mengingatkan saya akan Jakarta. Macet meskipun tidak di sepanjang jalan (kecuali dalam kota ya), kondisi jalan relatif ramai lancar. Masih bisa jalan, berhenti sesekali. Kami mencoba menikmati pemandangan (saya khususnya yang dibonceng) sisi kiri dan kanan Jogja yang dipenuhi bangunan-bangunan unik dan etnik.Atau sesuatu yang hijau, begitu segar dipandang mata.

Aah. Di Jakarta saya hanya bisa menemui yang hijau-hijau seperti ini di jalan baru, tak jauh dari rumah. Itu pun tak seberapa luasnya, tapi cukuplah sebagai pelepas penat tatkala menjumpainya.

Sambil memikirkan rute perjalanan hari ini, kami memutuskan untuk mencari penginapan lebih dulu. Kami menghabiskan waktu kurang lebih dua jam sebelum akhirnya melipir di Sosrowijayan (Hotel Indonesia) karena diberi tahu oleh seorang bapak-bapak waktu kami isi bensin eceran, kalau kami bisa mendapatkan kamar murah di sana.


Kamar Penuh

Saya memang pernah baca sekilas tentang penginapan ini, hanya sekilas. Sementara yang lain, saya sudah membaca beberapa reviewnya. Namun, bunk bed, yogya bnb tidak berhasil kami temukan karena kami kesulitan mencari jalan kesana (yogya bnb). Untuk bunk bed (tidak begitu jauh dari malioboro) hanya tersisa satu kamar (share dorm) isi 4 bed dengan kamar mandi luar.

Harganya masih mahal (95/bed), kata saya pada Firly. Kami tidak jadi mengambil bunk bed dan berjalan dengan gontai ke bawah dan berharap ada keajaiban yang terjadi. Waktu kami ke bunk bed kondisi Hotel Indonesia sudah full. Seluruh kamarnya sudah terisi. Saya sampaikan kalau ada yang check out kami mau mengambil satu kamar untuk dua orang.

Mas-nya mengerti. Sebetulnya, waktu kami sampai di sana masih ada satu kamar kosong. Saya lupa ini yang 105/80 ribu. Tak berapa lama, seorang wanita datang dan mengatakan bahwa ia telah lebih dulu (entah datang atau bookingnya) dan kamar tersebut kemudian tentu saja diberikan pada wanita itu.

Saya akan mereview Hotel Indonesia di post yang lain, ya. Kami memutuskan berkeliling Sosrowijayan dan tidak menemukan sedikit sreg dengan satu penginapan pun. Begitu ada yang kami rasa cocok di depan penginapan tersebut sudah ada tulisan 'kamar penuh'.

Kami keluar gang-gang kecil di Sosrowijayan, disapa pemilik penginapan yang menawarkan kamar yang masih tersedia yang kami tolak dengan mengucapkan terima kasih sambil berlalu. Saya tertawa, Firly juga dan harapan kami masih sama kalau di HI nanti ada tamu yang check out siang ini.

Dan alhamdulillah, memang ada tamu yang check out. Tapi kamar yang 105, kata mas-nya yang sabar melayani kami yang sudah speechless belum kunjung mendapat penginapan.

Kamar mandi dalam kan, ya?

Iya.

Ya udah. Kita ambil ya, mas.

Lalu Firly pun mengisi formulir dan saya menyerahkan ktp karena identitas Firly sudah diserahkan saat rentatl motor pagi tadi.

Tapi cuma bisa satu malam ya, mbak. Besok sudah ada yang book.

Kami berdua lalu saling melirik dan mengangguk. Soal besok biarlah menjadi misteri. Yang pasti kami bersyukur siang itu sudah mendapat kamar yang bisa langsung check-in, walau baru bisa masuk setelah jam 12 tapi nggak masalah juga karena kita memang mau langsung caw. Setelah menitipkan gembolan, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini kami memutuskan berkeliling dalam kota dulu saja sambil membuat rencana untuk esok hari.


Dalam kota cukup banyak tempat yang bisa didatangi, misal di sepanjang malioboro ini saja kita akan melewati pasar beringharjo, vredeburg (yang masuknya cuma bayar 3 ribu) sampai nol kilometer yang mana Firly belum kesampaian untuk foto di sana.

Fokus kita luar kota gitu, mana saja yang penting sampai. Haha. Random banget. Firly bahkan bawa motor ke tempat yang nggak ada di iten yang dibikinin mbak Eva (jazakillah khoiran mbak Eva). Jadi, kemarin itu Firly jalan based on plang. Alhamdulillah sampai juga di gunung api purba, dan malah endingnya jadi menyenangkan sih karena ternyata pas kita sampai di sana pengunjungnya kayak cuma 5 orang saja. Kami berdua, dua orang yang juga baru datang di depan kami, dan seorang mbak-mbak yang datang dan terlihat sendiri waktu kami pergi.

Tidak tahunya di dalam ada dua orang lagi yang sudah mau turun (ketemu di pos 1), 2 orang yang lagi break di gazebo dan 2 orang bule yang nyapa kita dan kita sapa balik dengan bahasa seadanya. Bulenya baru datang pas kita mau balik. Sayang banget.

pos 1-nya saja begini, gimana pos-pos berikutnya?



Jalur ke gunung api purba ini lumayan ekstrem. Kalau ke goa pindul ekstrem di jauhnya saja sih, tapi ada part pas mau dekat-dekat jalannya grajulan parah gitu. Alhamdulillah motor baik-baik saja setelah dari sana. Saran buat yang mau ke gunung api pakai outfit yang nyaman ya, yang ringan dan nggak terbang-terbang gitu biar nggak nyangkut pas naik turun di tangga atau bahkan kesandung batu.

Bawa minum sudah pasti, jaga kebersihan, manner sama partner kali, ya. Karena kalau naik sendirian pas dapat spot ok kan jadi nggak ada yang bisa motoin. Ini kita ke gunung api purba itu di hari ke dua, barengan sama puncak becici, goa pindul. Semua yang saya sebutin itu mostly ada di gunung kidul, dan itu jauh pakai banget. Must prepare banget deh kalau mau kesana. Minimal camilan sama minum karena kalau cape nyetir gitu bisa melipir sebentar sambil menikmati semilir angin dan memandangi indahnya ciptaan Alloh SWT yang ada di sepanjang jalan.  

Terus motor harus ditanya banget kondisinya karena kan mau dipakai jalan jauh gitu, jas hujan sama helm juga dipastiin kondisinya bagus karena kemarin saya dapat helm yang kondisinya kurang. Bensin dipenuhin saja karena kalau sudah masuk desa itu susah banget nemuin pom bensin, yang eceran juga jarang yang jual. Lain halnya kalau di kota, ya lumayan banyak.

Di Jogja itu adzan lebih cepat dari Jakarta, dan dia sudah panas even baru jam tujuh setengah delapan. Panas tapi anginnya kencang gitu, jadi panas dingin gitu gimana sih. Kalau di kota nggak sedingin kayak waktu saya stay di rumah teman di Bantul. Masih bisa mandi pagilah. Hahaha. Kalau waktu di Bantul, err... mandi sih. Sehari sekali >-< cukuplah.

bawa ban segede gini sendiri, dan..masih jauh nggak sih goa pindulnya?






 -- bersambung di postingan berikutnya, insyaAlloh --