Selasa, 09 Oktober 2018

Periksa ke Dokter Obgyn di RS Hermina Jatinegara

Assalammualaikum,...

Apa kabar sholihat? semoga sehat selalu dan diberkahi segala kegiatannya yaa... udah lama nggak nulis nih. Kagok banget rasanya dan kayak harus mikir lama gitu pas udah di depan laptop. Waktu belum mantengin laptop sih di kepala udah banyak aja gitu yang bersliweran minta dikeluarin. Eh, begitu laptop nyala dan slide menari-nari di depan mata, buyar semua tuh yang minta dikeluarin tadi. Hahaha...

Yah, kadang keinginan memang nggak selalu bersesuaian sama kenyataan, ya. Kayak kemarin, sebelum periksa ke dokter obgyn, saya riset dulu kecil-kecilan RS mana sih yang punya dokter yang bagus dan yang paling penting bisa melayani pasien dengan BPJS. Ini penting, ya karena saya memang hanya pakai BPJS saja.

Setelah berselancar kesana sini, saya kok ya kayaknya nyantol sama RS Hermina. Karena yang paling dekat dari rumah dan bisa pakai BPJS harus sesuai domisili ya, Hermina Jatinegara. Jadilah setelah mantap dengan RS nya saya lanjut cari pengalaman mereka yang pernah berobat atau periksa ke dokter obgyn di Hermina Jatinegara.

Dapat beberapa nama, tapi belum ada yang langsung klik gimana gitu, karena milih dokter itu kan kayak mau milih calon pasangan ya, cocok-cocokkan gitu dan harus dapat chemistrynya. Hahaha. Itulah perempuan, penuh pertimbangan (atau milih?). Begitu dapat yang kayaknya cocok kok ya dokter itu malah nggak melayani pasien BPJS di RS tersebut.

Hiks. Perih hati ini.

Tapi, ya sudahlah. Wajar juga sih kalau dokter itu nggak mau melayani pasien BPJS karena yang mau pakai jasa dia dengan bayar (dengan asuransi selain BPJS atau umum) aja antri ya, sist, ngapain juga harus repot-repot berpeluh ria ngurusin kita-kita yang papa ini. Woles aja. Karena mepet dan harus cepat milih, saya pun akhirnya memilih untuk konsul dengan dokter Sitti F yang lumayan direkomen sama mamah-mamah muda di berbagai forum di dunia maya (atau blog-blog mereka dong).

Setelah mantap untuk ketemu dokter Sitti, sebenarnya waktu itu galau antara dokter yang itu atau yang itu, tapi qodarulloh berakhir milih dokter Sitti dan langsung deh janjian gitu via aplikasi RS Hermina Jatinegara.

Lho, ndilalah ya pas pede-pedenya dateng ke RS kok ya nama saya nggak tercantum aja gitu di monitor mas-mas petugas BPJS yang melayani dengan kurang ramah. Ternyata, kesalahan memang terletak pada saya yang belum memilih jam kedatangan atau janjian. Alhasil ya belum tercatat di bookingan dan kadung sudah penuh untuk hari itu. Waktu itu saya booking untuk hari Jum'at, dan karena pasien BPJS tidak dilayani di weekend, jadilah saya ditawari untuk datang lagi di hari Senin.

Yo wis, saya manut aja dan datang lagi hari Senin setelah dicatat langsung dan diberi nomor antrian besar sama petugas yang kurang ramah itu. Nggak tahu ya apa ini cuma perasaan saya aja, tapi ya kayaknya kalau yang pakai BPJS itu ya gitu, dapat antrian paling buncit, pas di dalam juga konsulnya paling lama 2 menit. Nggak sampai malah kalau nggak diapa-apain (nggak ada pemeriksaan/tindakan).

Bagi yang belum pernah ke RS Hermina Jatinegara dan mau berobat/periksa disana menggunakan BPJS, letaknya itu nggak jauh dari pintu masuk mobil dan motor. Dia ada di sudut kanan situ dekat atm lokasinya, terpencil dan terkucil. Jangan lupa untuk lengkapi berkas-berkas yang diperlukan karena kalau nggak ya nggak akan diproses sama mereka sebelum semua berkas lengkap.

Kalau kemarin saya bawa kartu BPJS asli dan fotokopi, KK asli dan fotokopi, ktp asli dan fotokopi dan surat rujukan dari faskes I asli dan fotokopi. Biar nggak boring nunggu, bisa bawa semua peralatan perang yang mungkin buat kita berguna, ya. Entah itu Al-Qur'an, buku bacaan, atau yang lainnya bebas. Yang penting jangan bawa raket aja karena bingung juga mau main dimana secara nggak ada lapangan bulu tangkis juga disana.

Krik...krik...krik...

Untuk dokter obgyn sendiri dengan BPJS kemarin ada di lantai 5 ya, sholihat. Saya nggak banyak foto-foto kemarin, dan kalaupun ada insyaAlloh menyusul, yaa...

Tetap sehat dan jangan lupa senyum ^^

Wassalammualaikum...









Senin, 10 September 2018

Makna Dibalik Cerita


Pernah tidak kamu ingin sekali pergi ke suatu tempat tapi tidak pernah jadi jadi karena satu dan lain hal. Tapi, akhirnya kamu bisa pergi kesana juga meski dengan keperluan yang berbeda?

Sepertinya itu terjadi pada saya kemarin saat saya bertandang ke rumah sahabat saya, yang alhamdulillah bukan hanya untuk sekadar jalan tapi menghadiri hari bahagianya.

Rumahnya gak bisa dibilang jauh sekalipun gak dekat juga tapi lumayan bikin pantat pedas punggung pegal karena duduk di bangku kereta yang lurusnya gak ketulungan.

Hih. Itu pilihan, kan. Jangan pilih kelas eko kalau mau mengeluh soal ini dan itu. Haha. Tapi, naik eko seru banget. Apalagi kalau dapat teman sebangku, sederet dengan tempat duduk kita yang agak gimana gitu.

Itu bukan cuma jadi cerita sendiri tapi bisa memberi pelajaran juga, kalau kita mau mentafakurinya.

Sayang kan kalau kita jalan hanya sekadar jalan, apalagi cuma ngincer foto foto buat dipajang di sosmed.

Buat kamu yang sudah sering naik moda transportasi kereta mungkin sudah tahu ya kalau naik kereta sekarang sudah semakin mudah. Dan itu sebabnya kenapa saya pilih kereta karena sekarang sudah cukup rapi sistemnya.

Kalau disuruh milih kereta atau pesawat mungkin saya akan pilih kereta, kecuali kalau ada hal urgent yang mengharuskan cepat sampai. Naik kereta lebih berasa safarnya.

Baiknya safar gak sendirian. Makanya saya gak bisa nerapin solo traveling kalau memang gak perlu perlu banget, diusahain gak. Cari temanlah satu minimal kalau memang pengin pergi banget.

Dan yang menikah kemarin itu, adalah sahabat yang biasa jalan kemana aja sama saya. Jadi berasa banget kehilangannya, haha. Karena memang kita sudah cukup sering jalan bareng kemana-mana.

Sahabat yang baik itu bukan cuma ada pas kita lagi bahagia, tapi juga waktu kita lagi dirundung duka. Dan gak mudah menemukan sahabat yang seperti itu. Yang gak cuma peduli soal dunia, tapi juga akhirat kita.

Perjalanan 8 jam dengan kereta memberi saya makna lain dari persahabatan. Ada yang harus dikorbankan, karena dengan begitu kita baru bisa memaknai hubungan apapun itu.

Oh iya, saya baru tahu kalau Hidayat ternyata juga sudah punya seseorang yang khusus di hatinya. Kalau kamu menulis di medium atau minimal membaca disana, mungkin kamu bisa menemukan orang yang saya maksud.

Sekalipun tidak harus.

Btw, apa makna perjalanan untuk kamu?



Selamat Menempuh Hidup Baru

Saya masih belum bisa percaya, kalau kini tinggal saya yang masih berkutat dengan status lajang sementara sahabat saya satu per satu mereguk bahagia di kehidupan baru dengan status sebagai seorang istri.

Mungkin terdengar saya tidak bahagia ya mereka menikah? Haha. Mungkin saja. Tapi, saya bahagia kok. Walau sempat terselip rasa lain (sedikit cemas banyak sedih), saya tetap berusaha untuk tegar karena saya yakin semua akan indah pada masanya.

Menikah bukan menyoal siapa yang lebih dulu. Saya berusaha untuk mengingat kata itu selalu, tapi bagaimana kita mendapatkan ridho Alloh dengan amanah baru dan maha berat yang diberikan tersebut.

Setahu saya, itu berat. Bagi saya, menikah bukan hanya sekadar melepas status dari lajang menjadi berdua tapi ada amanah besar yang Alloh bebankan kepada pundak kedua pasangan yang kalau bisa melaluinya dengan panduan yang Alloh berikan insyaAlloh semua akan baik-baik saja.

Kedengarannya mudah, ya? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Setiap pasangan punya liku likunya sendiri-sendiri. Dan saya cukup kaget waktu tahu, Fiersa akan memikah tahun depan. Setidaknya begitu yang ia sampaikan di akun youtubenya.

Ternyata, ia sudah sembuh dari patah hatinya dan mungkin sudah menemukan separuh sayapnya yang patah dan karenanya siap membentangkan sayap itu lebar-lebar di bumi yang luas dan keras ini.

Apapun keputusan yang saya ambil, saya yang akan merasakan dampaknya. Jadi, untuk apa mengambil sesuatu yang sudah jelas-jelas akan buruk pengaruhnya?

Barakallohu laka wabarak'alaika wa jama'ah baina khuma fii khoir, sahabatku.

Minggu, 05 Agustus 2018

Sejuta cerita tentangnya

Kemarin, saya bermaksud memberikan nenek minuman madu lemon yang saya dapatkan beberapa waktu yang lalu. Tidak ada nama pengirim tertera di sana. Tidak juga ada email yang masuk yang menerangkan bahwa saya kemungkinan akan dikirimkan produk minuman vitamin C #asiktanpatoxic  tersebut.

Alhasil, nenek tidak jadi saya abadikan bersama minuman menyegarkan itu yang sempat sepertinya ingin dia minta botol kosongnya. Saya tidak memberikannya tentu saja karena tadinya saya akan memberikannya botol yang masih utuh isinya.

Namun, apa daya nasi sudah menjadi bubur. Saya memang tidak bisa mengambil gambarnya bersama minuman menyegarkan yang sedap diminum dingin maupun tidak dingin itu.

Tapi, kami sempat berfoto bersama jelang keberangkatan bisnya ke Palembang.

Bukan. Nenek saya bukan mau ikut Asean Games 2018, yah sekalipun saya suka bulu tangkis, nenek tidak punya tanda2 suka dengan aneka olahraga.

Meski begitu beliau tetap fit di usia senjanya yang hampir mencapai 70 tahun. Saya tidak ingin bersedih dan mencoba untuk menguatkan hati kelak beliau akan kembali ke Jakarta.

Mungkin kelak saat janur melengkung di dekat rumah kami. Atau dalam momen lainnya. InsyaAlloh Biidznillah.

Sepertinya darah aktif itu turun temurun saya dapatkan dari nenek yang diturunkan ke mama lalu ke saya, satu-satunya anak perempuannya yang masih betah sendiri.

Seperti nenek yang tidak bisa diam, saya juga tidak bisa tidak bergerak begitu saja. Sekalipun mager sedang melanda, saya berusaha untuk tetap bergerak. Membersihkan hari aktif dengan hal-hal yang positif.

Kamu juga bisa melakukannya. Tidak sulit untuk bersihkan hari aktifmu dengan melakukan banyak hal yang sukai. Tidak perlu banyak, sih. Satu atau beberapa saja mungkin sudah lebih dari cukup.

Itu berpulang kembali pada kesukaanmu.  Kalau saya, saat ini karena sedang banyak di rumah saya melakukan apa-apa saja yang kiranya dapat mengurangi beban kerja mama di rumah.

Pekerjaan seorang Ibu tidak pernah mudah, ya. Dan akan bertambah-tambah sepertinya kalau status kita berubah menjadi nenek. Wah, perubahan status itu bisa menjadi menyenangkan atau malah sebaliknya.

Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Jika kita selalu berusaha berpikir dan berbuat positif, kita bisa melawan toxic negatif yang dapat meracuni orang-orang di sekitar.

Pasti hidup kita lebih asik kan tanpa toxic. Ini penting karena bukan hanya menyangkut diri kita sendiri tapi juga keluarga dan orang-orang yang kita kasihi.

Kamu bisa coba cari informasi seputar gimana sih asik tanpa toxic di sini. https://m.facebook.com/POKKA.ID dan setelah itu bisa sharing kembali ceritamu di sini, atau dimanapun yang kamu sukai. Berbagi hal yang positif itu selalu baik.

Dan kita tidak akan pernah bisa mendapatkan hari aktif yang bersih dengan adanya toxic. Jadi, mengapa kita tidak mulai untuk membersihkan dan membuat hari kita asik tanpa toxic?




Rabu, 18 Juli 2018

Cara Perpanjang SKCK

Satu hal yang harus terus kita ingat tiap kali mengurus apapun yang berhubungan dengan pelayanan publik, adalah menyiapkan kesabaran yang indah. Kesabaran yang indah, memang ada ya? Ada kok. Dan memang nggak mudah buat dilakukan, tapi juga bukan hal yang mustahil. Asal kita mau pasti Alloh kasih jalan.

Kemarin, saya perpanjang SKCK yang sudah habis masa berlakunya dua tahun yang lalu. Mengurus perpanjangan mestinya nggak perlu surat pengantar RT/RW dan Kelurahan lagi, tapi kemarin qodarulloh saya ngurus buat jaga-jaga. Lain halnya kalau yang baru mau bikin, ya. Itu jadi salah syarat yang wajib dipenuhi kalau mau bikin SKCK baru.

Saya datang bersama seorang teman, dan bersyukur prosesnya tidak memakan waktu lama. Kurang dari satu jam, nama kami sudah dipanggil untuk kemudian mendapatkan SKCK yang telah diperpanjang dengan masa berlaku enam bulan.

Pembuatan SKCK ini data di KTP harus sesuai dengan domisili, ya karena kemarin ada yang disuruh pulang untuk mengurus KTP dulu karena tidak sesuai dengan domisilinya saat ini. Saya sendiri sempat ditanyakan apakah ada perubahan alamat dan lainnya yang tentu saja saya jawab tidak ada.

Sambil menunggu, saya berbincang dengan seorang ibu yang ternyata sedang membuat SKCK untuk dirinya sendiri. Saya pikir ibu itu menemani anaknya membuat SKCK. Tidak tahunya untuk beliau sendiri.

Di saat-saat menunggu seperti itu, berbincang dengan sesama pembuat SKCK (atau apapun) kadang bisa jadi hal yang menyenangkan. Apalagi ibu itu orangnya asyik juga. Lucu. Tidak ada raut kesedihan terpancar dari wajahnya sekalipun ia sedang mencari pekerjaan untuk menghidupi keluarganya. Suaminya sedang sakit struk, dan anak-anaknya masih kecil-kecil. Saya tidak tanya detailnya, tapi ia bilang ia ingin mencoba melamar pekerjaan di Kawasan untuk membantu keuangan keluarga. Saya jadi ingat ibu di rumah dan ibu-ibu luar biasa yang sedang berjuang di luar sana.

Untuk syarat perpanjangan sendiri cukup bawa SKCK yang lama (fotokopi atau asli), fotokopi KK, dan fotokopi KTP. Jangan lupa juga untuk menyiapkan pas foto berlatar belakang merah 2 lembar ukuran 4x6. Disiapkan lebih juga tak masalah untuk jaga-jaga.

Bagi yang ingin dilegalisir bisa langsung fotokopi dulu untuk kemudian diserahkan kembali kepada petugas agar dilegalisir langsung sebelum kalian pulang. Nggak lama kok dan bisa ditunggu kalau memang antriannya tidak terlalu membludak.

Tapi, kemarin antriannya lumayan panjang. Hanya saja antrian untuk buat baru. Jadi, yang perpanjang relatif lebih cepat karena datanya sudah ada disana. Tidak ada tips dan trik khusus untuk perpanjangan ini. Jika memang tidak ingin terperangkap dalam antrian panjang, silakan datang lebih pagi. Kemarin saya datang cukup siang. Sekitar jam sebelas kurang kami baru sampai disana dan sudah pulang sebelum jam 12.

Boleh juga menyiapkan bekal camilan juga minuman yang cukup sebagai teman menunggu. Baca buku atau ngobrol dengan orang disamping juga menyenangkan. Tinggal kamu mau pilih yang mana, kamu yang putuskan.

Oh ya, terus kemarin habis berapa untuk perpanjangan? saya hanya mengeluarkan uang 30 ribu. Itu untuk bayar pajaknya. Legalisir sepertinya gratis karena saya tidak dimintai lagi oleh petugas. Saya hanya legalisir 5 lembar, karena kalau terlalu banyak khawatir tidak terpakai.

Sementara ini dulu. Salam.













 

Senin, 09 Juli 2018

Antara Fatwa dan Ke-GR-an

Saya punya seorang teman yang kerap bertanya siapa yang lebih cantik antara si ini dan si itu? kadang, saya nggak tahu harus menjawab apa. Kadang saya sudah kehabisan kata-kata sebelum selesai bicara dengannya. Kadang, saya cuma ingin menghindar dari pertanyaannya dan kelak memutuskan untuk tidak bertemu dulu dengannya.

Entahlah. Tapi, saya cukup merasa risih jika ada yang membandingkan kecantikan si ini dengan si itu. Bisa saja dia teman kita, artis, atau yang tidak kita kenal sama sekali. Ini tidak lumrah, sungguh. Membandingkan antar keluarga saja terdengar cukup aneh di telinga, apalagi orang yang jelas-jelas tidak kita kenal.

Percayalah, manusia tidak pernah diukur dari rupa, harta, atau jabatannya. Lain halnya kalau kamu pengin masuk televisi. Konon katanya, kamu jangan pernah coba-coba masuk tv kalau nggak cantik banget atau hancur banget. Iya, pilihannya cuma dua itu. Jadi nggak akan pernah ada kata biasa-biasa saja. Tapi, itu sepertinya berlaku di waktu-waktu yang lalu.

Sekarang, yang biasa-biasa pun sudah bisa masuk tv. Yang nggak ada gelar ustadz pun, bisa berceramah dengan bebas di tv. Bahkan memberikan fatwa ini dan itu, sekalipun ada yang memberikan fatwa kalau berjilbab itu tidak wajib, dan adakah orang-orang yang mengikutinya? entahlah. Mungkin saja ada. Karena yang kemarin menggandakan uang saja ada pengikutnya, orang pintar lagi konon kabarnya.

Sementara yang sudah punya record yang jelas, lurus insyaAlloh malah diblokir dimana-mana kajiannya. Tapi, itu bukan masalah, sih. Karena biar bagaimanapun yang batil nggak akan pernah bisa mengalahkan yang haq. Dan Alloh itu sebaik-baik pembuat makar.

Akun FB saya yang baru sudah tidak bisa diakses lagi. Baru bikin beberapa hari, nge add satu orang langsung keblokir. Nggak apa-apa. Kalian tahu bisa cari saya dimana, kan? :D gr nggak apa-apalah sesekali. 




Alarm Hati

Sebagai orang yang sering pakai kendaraan pribadi, tanpa sadar saya jadi suka merhatiin perilaku saya juga pengendara lain di jalanan. Kalau lagi waras, biasanya saya suka nunjuk hidung orang lain begini dan begitu dan jadi malu begitu lihat hidung sendiri. Memang lo nggak gitu, ya? Hahaha. Gitu, sih. Tapi nggak separah mereka. Tuh, kan nunjuk lagi.

Pas kewarasan saya lagi nggak ngumpul di satu tempat, saya seperti dikasih kesempatan sama Alloh untuk berpikir, mau sampai kapan saya terus ikut orang lain di jalan yang melakukan berbagai macam pelanggaran mulai dari yang kelihatan sepele sampai yang besar?

Memang sih saya pengin cepat sampai di tempat tujuan, memang sih saya punya kondisi yang urgen yang mungkin lagi nggak dialami sama yang lain, tapi itu bukan berarti kamu bisa mengabaikan keselamatan orang lain di jalan, kan? Kalau kamu nggak peduli sama keselamatan kamu sendiri, minimal pikirkan keselamatan orang lain karena di jalanan, kamu itu nggak sendirian.

Saya nggak tahu seberapa penting arti keselamatan berkendara bagi kamu di luar sana, terlebih yang nyetir sendiri (baik itu motor atau mobil). Buat saya yang sudah mengalami beberapa kali kecelakaan, menjaga keselamatan diri sendiri itu semakin membuat saya sadar bahwa semua yang di jalan itu punya seseorang yang sedang menunggu dengan cemas di rumah. 

Yang terus senantiasa mendoakan kebaikan, yang mendoakan nanti, lepas sore kita bisa pulang tanpa kekurangan suatu apapun. Tapi doa itu seakan nggak berarti karena kita nggak mendukung untuk dikabulkannya doa itu. Kita nyetir dengan ugal-ugalan di jalan, ngebut, ngepot sana sini, mencet klakson tanpa henti, melanggar hak pejalan kaki dengan naik ke atas trotoar dan berhenti di garis putih di lampu merah. 

Kita bahkan masih nekan gas waktu lampu lalu lintas sudah berubah merah. Kita seakan nggak peduli sama keselamatan orang lain dengan melanggar rambu-rambu lalin. Terus ngegas yang penting sampai di tempat dalam waktu sesingkat mungkin. Dan dalam hati kita yang paling dalam, saya yakin kalau kita bisa merasakan kalau apa yang kita lakukan itu salah, nggak benar.

Tinggal apakah kita mau membenarkan, dan kemudian melakukan perbaikan, atau malah mengabaikan alarm hati dan kemudian berpaling. Seharusnya kita takut kalau hati kita akan menjadi semakin keras, dan hati kita seakan ditutup oleh Alloh dari kebaikan.  

Kita bisa berkontribusi secara positif untuk negara dengan memulai segala sesuatunya dari diri sendiri. Kita bisa mulai dengan menaati peraturan lalu lintas dan saling mengingatkan sesama pengendara, dimulai dari diri sendiri dan dimulai saat ini. Jangan nanti-nanti, jangan esok hari, karena siapa yang menjamin kalau hari esok masih kita miliki?

Kita bisa membantu pemerintah dengan nggak buang sampah tisu, botol minum, makanan di jalanan, menyimpannya dulu di kantong/tas kita dan baru dibuang waktu ketemu tempat sampah, berhenti saat lampu berwarna merah, memelankan gas saat lampu berwarna kuning, berhenti di belakang garis putih (strip satu), tidak naik ke atas trotoar apalagi masuk ke jalur busway, menekan klakson hanya saat diperlukan, tidak menggunakan telepon genggam di atas kendaraan, dan memperhatikan kondisi fisik kita dan kendaraan sebelum melakukan perjalanan.

Ini terdengar sepele banget, tapi, bukankah yang sedikit itu kalau ditumpuk lama-lama akan menjadi bukit? bukit manakah yang mau kita kumpulkan, kebaikan atau keburukan? 

Foto dan Hari Bahagia

Karena kumpul-kumpul kalau nggak foto itu ada yang kurang, jadi selalu ada alasan buat kita untuk foto-foto.

Saya tidak terlalu suka difoto, baik sendiri maupun ramai-ramai. Tapi saya sangat suka foto. Kegiatan moto jadi terasa menyenangkan terlebih kalau objeknya sedap dipandang.

Dan yang paling penting, halal untuk dipandang lama-lama. Ini acara pernikahan sepupu ahad malam kemarin. Alhamdulillah akad nikah lancar hingga resepsi.

Bahagia, tahun ini, insyaAlloh satu sahabat akan menyusul tak lama lagi. Sementara yang lain sudah lebih dulu beberapa waktu yang lalu. Menikah bukan soal siapa lebih dulu sampai di garis finish.

Tanpa harus membanding-bandingkan atau bahkan terus kembali ke masa lalu, kita mestinya bisa terus mensyukuri nikmat sehat dan waktu luang yang masih ada yang kadang membuat kita lalai.

Oh, ya. Barakalloh untuk Isti dan suami. Semoga Alloh kumpulkan dalam kebaikan.