Senin, 18 November 2019

Resign, Kenapa Tidak?

Gambar: pixabay.com
Bayangan menjadi pengangguran, tidak memiliki penghasilan, belum lagi diomongin tetangga, tentu bukan hal yang menyenangkan untuk hanya dibayangkan. Apalagi diwujudkan.

Seorang teman yang kini sudah jarang berkomunikasi karena ia sudah sibuk dengan keluarga kecil barunya pernah mengatakan pada saya, "kok kamu enak banget ya, gampang banget gitu kalau mutusin mau resign. Cari kerjaan kan nggak gampang."

Bukan sekali dua teman saya bilang begitu, yang saya sendiri kadang suka kehabisan kata menjawabnya.

Saya tidak menganggap mudah mencari pekerjaan, terlebih di zaman sekarang ini. Namun, saya masih percaya, bahwa rezeki akan mendatangi kita selama kita masih bernyawa. Selama kita masih bernapas, selama kita masih mau berikhtiar, berusaha menjemput rezeki yang nggak akan pernah tertukar sekalipun kita menginginkannya.

Ya, modal saya hanya itu. Silakan kalau mau dibilang kepedean. Saya nggak ada masalah dengan itu, karena kehidupan kita, kita sendiri yang menentukan arahnya mau kemana.

Bagi saya, keputusan resign sendiri bukan keputusan yang mudah. Kalau dulu masih pakai emosi, belakangan, saya memikirkannya secara lebih mendalam. Emosi tetap ada, tapi sudah relatif bisa saya atasi.

Saya menghitung untung dan ruginya, dari sisi kesehatan mental khususnya yang menjadi faktor utama untuk saya tetap tinggal atau pergi. Dan di kantor kemarin, saya tidak menemukan keseimbangan, selain jam kerja yang selalu saya upayakan berjalan normal alias teng go, kalau mau dibilang begitu.

Setiap keputusan diiringi konsekuensi, dan apa yang saya utarakan di awal adalah konsekuensi logis ketika seseorang memutuskan berhenti dari pekerjaannya, sebagai apapun, di perusahaan manapun. Saya belum memiliki rencana apapun. Pun saya tidak tahu, apakah saya masih memiliki waktu untuk mengejar mimpi lain.

Sudah banyak hal yang Alloh kabulkan, sekalipun tidak saya minta. Rasanya sungguh malu kalau diri ini harus terus meminta, namun, jika bukan meminta pada Alloh, harus kepada siapa lagi kita meminta? Alloh tentu senang jika ada hambaNya yang merengek, meminta hanya kepadaNya. Bukan kepada yang lain.

Termasuk bekerja di kantor kemarin. Siapa mengira, seorang hijabers bisa bekerja di perkantoran di Sudirman? Haha. Tentu saja ada yang berhijab, hanya saja memang jumlahnya tidak banyak. Namun, di lantai tempat saya kemarin, jumlahnya lumayan mendominasi, khususnya area tempat makan. Ah, saya sudah merindukan mereka. Hijabers squad, kalau kata Sherly.

Kabar baiknya, saya mendapatkan kawan baik selepas dari sana. Alhamdulillah.

 

Jumat, 08 November 2019

Promo Dufan Oktober 2019 : Seseruan Bareng Orang Terkasih



Ke Dufan weekend beberapa waktu kemarin, bener2 menyegarkan. Senangnya sesuatu yang nggak direncanain biasanya malah yang lebih sering terwujud, ya nggak sih?

Dan ke Dufan Sabtu kemarin itu, nggak pake rencana sebulan atau seminggu sebelumnya. Sabtu pagi, rencana itu muncul di kepala kakak gue gitu aja, dan gue langsung mau aja karena emang nggak ada rencana buat kemana2 juga hari itu.

Ahlhamdulillah, pas Minggunya hujan. Nggak kebayang kalau Sabtunya pas kita kesana hujan, walau mungkin menyenangkan juga bayar 195 ribu buat nyaksiin hujan turun di Dufan dan sekitarnya.

Nggak tahu kenapa, kalau dulu suka gemes gimana gitu kalau ke Dufan nggak main wahana A, B, C. Sekarang, bisa kesana bareng keluarga aja udah seneng banget. Bahagia itu sederhana memang.

Nggak perlulah itu pakai yang namanya fast track, endebre. Main ke tempat2 kayak gitu justru seninya di antri masuk wahana. Ruamenya puol. Walau nggak sepenuh biasanya, sih.

Nyampe sana kita memang udah siang banget, pas masuk waktu dhuhur gitu. Kita baru masuk setelah ishoma, dan belum naik satu wahana sampai ashar sudah tiba. Hahaha. Time flies, yaa.

Anehnya, gue nggak kesel. Seneng aja bisa kesana bareng keluarga walau nggak full team karena kita jarang banget jalan2 bareng kecuali ada momennya, kayak lebaran, ondangan, dkk.

Sekarang ini, ternyata Dufan udah beda udah banyak perubahan. Dulu sih terakhir gue kesana belum ada namanya dunia kartun, ya. Konsepnya bagus, macam rumah2 kurcaci gitu, namanya juga dunia kartun kan.

Sampai musalanya dibuat warna2 ceria gitu, seger banget dan jadi semangat kesana.

Ya udah. Diintip aja deh keseruan selama di sana, ya. Enjoy!










Minggu, 27 Oktober 2019

Perempuan Tanah Jahanam, Sampai Nobar Bareng Atasan

Manusia hanya bisa berencana, selebihnya Alloh yang berhak menentukan. Sebetulnya, gue sudah punya rencana nonton perempuan tanah jahanam dengan teman satu lantai. Qodarulloh, waktu atasan masuk di hari Senin setelah pulang dari cuti panjang liburan, doi mutusin buat nraktir anak2 kantor nonton. Alasan kenapa bisa sampai ngajak nonton kayaknya sih tebakan gue karena mereka pada beliin kue ulang tahun gitu.

Tiket dibeli, gue nggak ditanya secara personal mau ikut atau nggak. Jadi yah, karena rencana nonton film itu juga udah gue buat sebelumnya walaupun bukan sama anak2 kantor, anak2 ngajuin film itu buat nobar. Jadilah tiket untuk 6 orang dibeli untuk film perempuan tanah jahanam.

Alasan kenapa gue akhirnya mau nonton horor Indonesia itu, karena Joko Anwar udah pernah bikin pengabdi setan, yang menurut gue lumayan bikin merinding. Film remake, menurut gue lebih riskan buat gagal kalau nggak digarap dengan sangat serius, karena pengabdi setan aslinya itu dimainkan sama para pemain kawakan yang sudah malang melintang di genre film mistis.

Gue harap nggak ada ruginya, sih. Walau kata teman gue lainnya agak aneh nonton film bareng atasan, buat gue, karena ini bukan pengalaman pertama nonton sama atasan, jadi ya biasa aja juga. Walau kalau boleh milih, gue lebih milih untuk nggak ikutan, dengan berbagai macam pertimbangan.

Kalau ada yang tanya, memang kamu penyuka film horor, wi? jawabannya mudah. Iya. Gue suka nonton film horor dan segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia mistis. Maksudnya, sukanya bukan yang gimana-gimana, ya.

Jujur, dulu, gue sempat takut gitu sama yang namanya makhluk gaib. Dalam Islam, mereka itu nyata, dan musuh yang nyata buat manusia. Sampai kemudian gue berusaha untuk cari tahu, seperti apa sih posisi kita dan mereka dalam Islam. Dan memang, manusia itu diciptakan Alloh dengan status atau kedudukan yang jauh lebih tinggi dari makhluk ciptaan Alloh lainnya di muka bumi, termasuk dari kalangan makhluk halus.

Mencari tahu tentang mereka, atau pengetahuan tentang mereka itu seharusnya membuat kita sadar dan berupaya untuk menjauh dari segala upaya mereka untuk menggoda kita untuk bermaksiat kepada Alloh Swt.








Minggu, 20 Oktober 2019

Kanan atau Kiri? Putuskanlah Sendiri

Sumber: pixabay
Seperti Putri Tanjung yang sempat merasa nggak nyaman selalu dikaitkan dengan kesuksesan orang tuanya, setiap dari kita, pasti punya hal yang membuat kita berada di posisi yang sama. Setiap tema, sebetulnya punya sisi sensitif, tergantung ke arah mana konteks percakapan diarahkan.

Seperti Raditya Dika yang bisa segitu masa bodohnya dengan apa yang orang lain rasakan, sekalipun ia seorang introvert sejati (menurut pengakuannya), atau Pandji yang entah apa yang merasukinya sehingga membahas cukup banyak hal2 di luar dari pekerjaannya sebagai seorang seniman, komedian. Setiap keputusan adalah pilihan.

Seperti Ricis, yang sempat punya pikiran untuk bunuh diri, yang sudah dilakukan oleh salah satu artis Korea, yang sepertinya cukup punya nama (setidaknya di kalangan pecinta pop Korea). Kejadian terakhir, membuat saya bertanya, sebegitu dashyatnyakah efek bully-an netizen mempengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan besar dalam hidupnya.

Setiap keputusan, menurut saya nggak ada yang remeh atau nggak penting. Sekecil apapun keputusan yang kita ambil, menjadi penting karena ia akan dimintai pertanggungjawabannya kelak.

Jika kemudahan teknologi memiliki dampak yang seburuk seperti sekarang ini, tentu saja tidak seluruhnya negatif, mungkin rasanya lebih indah masa2 sebelum teknologi ada. Masa2 waktu kita masih saling menulis, mengirim surat secara diam2 untuk orang yang kita taksir.

Melempar batu ke jendela, dan merasakan jantung berdegup begitu kencang karena takut ketahuan ngapelin anak perempuan orang di jam yang sudah kelewat malam. 

Kenapa saya merasa, teknologi menjadi begitu kejam, kita yang berada di belakang teknologi, menunggangi teknologi untuk menghakimi hidup orang lain. Dan itu kita lakukan, tanpa perasaan bersalah. Atau, sudah hilangkah nurani dan perasaan kita?

Seperti belati, ia bisa menusuk kapan saja, dari sisi yang mana saja. Dan seperti bom waktu, ia bisa meledak sewaktu2.

Teknologi, atau bisa kita katakan internet, memisahkan hati, menjauhkan yang dekat, sekaligus mendekatkan yang jauh.

Entah apa ini yang dikatakan teknologi, sehingga kita seperti mendewa2kannya. Kita lebih memilih berantem dengan keluarga karena game, rokok, dan teman2nnya. Kita merindukan kebahagiaan, berharap mendapatkannya di sosial media, terlupa kalau kebahagiaan itu sejatinya begitu dekat.

Ia ada di rumah, begitu dekat, dan mudah kita jangkau. Hanya saja, kita melewatkannya begitu saja. Kita mengharap mendapat kebahagiaan pada sesuatu yang maya.

Saya, mungkin bisa dikatakan geli tiap kali ada orang yang meminta saya untuk menjemput jodoh melalui internet. Coba2, siapa tahu dapat, karena ceritanya, ada temannya yang berhasil menemukan jodohnya lewat internet, entah lewat aplikasi apa. Ya, pokoknya lewat internetlah.

Ya, yang paling mudah dan cepat menjawab itu adalah, apa iya jalan jodoh setiap orang sama? Mungkin bisa saja, tidak ada yang pernah tahu akan hal itu. Bukankah kalau kita tidak mencobanya, kita tidak akan pernah menemukan jawabannya?

Saya melakukannya, mencobanya, bukan tidak. Dan saya belajar untuk tidak menaruh harap banyak2, karena saya sudah pernah dikecewakan karenanya. Tak perlulah saya bilang berapa kali atau berapa banyak, karena mungkin nggak akan ada yang tertarik, dan tidak penting juga untuk dibahas.

Yang saya ingin katakan, berhentilah menghakimi hidup orang lain. Berhentilah, memaksakan kehendak kita pada orang lain. Betul, mungkin kita melakukan itu karena kita peduli, sayang pada orang tersebut, namun, yang harus kita pikirkan juga adalah apakah yang kita sampaikan, caranya bisa diterima dengan baik? Itu sepaket, saya kira.

Kita tentu tidak mungkin mengambil sebuah keputusan tanpa memikirkan konsekuensi atas pilihan yang kita akan ambil nanti. Rasanya mustahil, sekalipun bisa saja kejadian itu kita alami jika kepala kita sudah berkurang kewarasannya.

Apa kita bahagia, jika kita menjadi salah satu pencetus orang memutuskan bunuh diri, karena perkataan kita, karena permintaan kita yang kita anggap hanya becandaan atau lelucon saja. Berhentilah mencandakan sesuatu yang menurut kita, menurut kebiasaan kita hal yang biasa, ringan atau remeh saja. Tapi mungkin tidak remeh untuk orang yang kita becandakan.

Bijaksanalah, dan mencobalah untuk mengerti, kalau tidak mau berusaha menempatkan diri kita pada posisi orang lain yang tidak mudah dilakukan.

Saya ingat, saya pernah begitu menyukai seseorang, dan orang itu, kebalikannya, ia bahkan mungkin tidak pernah tahu nama saya. Kalau ingin memaksakan, mungkin bisa saja kami jadian, lalu saya berbahagia karena berhasil mendapatkannya. Namun, kemudian apa? apa setelahnya? bukankah saya menjadi orang yang paling egois karena mengabaikan perasaan orang yang saya sukai tersebut.

Saya, entah bagaimana lebih baik memilih untuk menyimpan perasaan ini dalam2, dan kemudian berbahagia menyaksikan ia berbahagia, sekalipun, yah, perih tentu saja. Saya masih normal, kok. Tenang saja.

Untuk sebagian orang, tema2 sepert ini mungkin dianggap picisan. Cinta? cih. Jenis makanan apa itu?

Ada satu  penulis yang saya tahu, tidak lagi bisa menulis tentang tema cinta, karena tidak tahu lagi apa yang bisa dikembangkan dari tema picisan itu. Yah, itu sah saja. Penulis itu bisa menulis apapun yang ingin ia tulis, tanpa harus merasa akan ada orang yang mungkin akan tersinggung dengan apa yang akan ia tulis.

Kita, tidak akan pernah tahu apa yang akan menimpa diri kita esok, bahkan dalam sedetik ke depan. Namun, kita diberi pilihan untuk mengambil jalan ke kanan atau berakhir di sisi kiri kehidupan yang sementara.















 

























Jumat, 23 Agustus 2019

Orang Introvert Susah Buat Sukses?

Tampil di depan umum, buat seorang introvert (macam saya) bukanlah sesuatu hal yang menyenangkan.

Menjadi introvert atau esktrovert (sebut saja begitu) pada dasarnya fitrah atau dari sananya sudah seperti itu.

Saya pernah mendengar kajian dokter Aisyah Dahlan, kalau yang seperti ini biasanya masuk kategori orang plegmatis. Ketemu pasangan plegmatis campur melankolis?

Selamat! Kamu pasti akan dilayani dan dicintai dengan sepenuh hati. Tolong ini saya dikoreksi, ya kalau ada salah.

Kalau ditanya, terus apa orang ekstrovert bisa sukses?

Tergantung apa makna dan arti kesuksesan buat kamu, sih.

Raditya Dika itu ekstrovert, dia sukses setidaknya menurut saya. Dan orang-orang yang dirangkul Radit, jadi ketularan sukses berkat keekstrovertannya itu, yang ia ubah menjadi kekuatan.

Ini nggak gampang. Siapapun tahu itu. Apapun itu, mau seperti apapun kita Alloh ciptakan, kita perlu tahu satu hal, bahwa setiap manusia itu Alloh ciptakan dengan sempurna.

Tidak ada yang sia-sia. Kamu berharga, sekecil, setidak berprestasi, kaya, cantik atau sekurus apapun kamu, kamu adalah sebaik-baik makhluk yang Alloh ciptakan di muka bumi.

Ini Alloh yang bilang, pemilik langit, bumi dan apa yang ada diantara keduanya. Bukan ilmuwan, apalagi cenayang.

Mizter popo, yang alhamdulillah dikenal dengan DYSWIS nya juga seorang ekstrovert. Beliau tidak suka tampil di depan kamera.

Namun, beliau berusaha mengatasi rasa mungkin ketidaksukaan, gugup dsb apabila diperlukan tampil di muka umum (dalam hal ini kamera).

Tidak semua orang bisa seperti Radit dan Mizter. Setidaknya saya belum mencobanya. Bagi saya, saya lebih baik diminta mengurusi konsumsi daripada jadi MC.

Atau kalau misal, diminta tampil di depan publik, mintalah saya untuk membacakan sesuatu. Tugas-tugas seperti membaca arti Qur'anul Kariim atau tilawah, dan semisal bisa sanggupi dengan syarat dan ketentuan berlaku.

Yah, gimana ya. Saya memang ndak suka tampil di muka umum. Bawaannya lutut gemetar, bibir bergoyang bila harus bicara di depan banyak orang.

Saya, setidaknya belum menemukan alasan untuk melakukannya. Saya masih nyaman berkarya melalui tulisan.

Dan sejauh ini, meski belum menunjukkan hasil yang signifikan, blog ini alhamdulillah masih dikunjungi segelintir pengunjung.

Terima kasih, ya saya haturkan bagi teman-teman yang sudah meluangkan waktu membaca tulisan di blog ini.

Saya cuma mau bilang, makhluk pemalu sekalipun dibekali Alloh dengan yang namanya potensi. Tidak semua orang memang bisa melihat potensi ini. Dan bukan sebuah keharusan juga.

Yang pasti, kita harus mulai menyadari dan berbuat sesuatu untuk memaksimalkan potensi ini di jalan yang Alloh suka dan rihoi. Karena kalau ridho Alloh sudah kita dapatkan, hati manusia hanyalah masalah yang sepele untuk Alloh balikkan.

Bukankah hati manusia hanya Alloh semata yang dapat membolak balikkanya?

Kapan Hari Kamu Patah Hati?

Waktu nggak dipanggil lagi abis wawancara? waktu ditolak pas melamar calon pasangan? waktu Ferisa Besari menikah?

Momen patah hati, bisa jadi salah satu momen yang sulit buat kita lupakan. Tapi, tahukah kita kalau momen ini juga, bisa jadi momen yang kalau kita manfaatkan dengan baik, akan menjadi momen kebangkitan seseorang.

Serius?

Kalau serius, dilamar, dong. Jangan cuma dikepoin instagramnya.

Tips Wawancara Kerja yang Baik dan Benar

Siapapun boleh berbagi tips, ya. Tips apapunlah yang pastinya bermanfaat buat orang lain. Dan yang namanya berbagi itu, pastinya dari apa yang sudah kita alami. Nggak mungkin kan, kita berbagi sesuatu yang kita sama sekali nggak punya pengetahuan tentangnya.

Kemarin ini, saya sudah menulis soal gimana cara bikin paspor baru di Imigrasi Jakarta Selatan. Buat kamu yang belum baca, bisa langsung cari aja tulisannya masih ada, kok. Belum saya hapus. Dan saya memang belum punya rencana sejauh ini untuk menghapusnya. Nggak tahu kalau ke depannya.

Sekarang, saya mau bagi tips, gimana cara menghadapi wawancara yang baik dan benar. Ok. Baik dan benarnya ini menurut siapa? menurut apa yang saya yakini benar dan baik, tentunya. Dan tentu saja yang berlaku umum bagi setiap orang, dan mungkin apa yang berlaku umum di negara lain, selain Indonesia. 

Buat kamu yang belum pernah wawancara sama sekali atau baru lulus kuliah/sekolah, mendapat panggilan wawancara itu kayak dapat surat cinta dari gebetan. Ya nggak, sih? rasanya pasti nggak keruan waktu terima telepon undangan wawancara. Jangan gebetanlah, minimal orang yang selama ini kita kepoin sosial medianya, dan siap untuk kita ajak ke pelaminan dalam waktu dekat. 

Sebenarnya, nggak ada tips khusus sih gimana melakukan wawancara dengan baik dan benar. Kita nggak membicarakan hasilnya, ya karena itu sudah masuk ranah Alloh SWT. Yang kamu perlu lakukan kalau dipanggil wawancara itu adalah mempersiapkan diri secara sungguh-sungguh. Mempersiapkan diri, dalam arti yang sebenarnya. Karena wawancara itu hampir sama seperti kalau kita mau sidang skripsi, maka persiapannya nggak boleh main-main, kecuali kalau kamu melamarnya juga cuma buat iseng-iseng atau membunuh waktu. Itu lain lagi ceritanya.

Ok. Mari kita bahas sedikit persiapan yang perlu dilakukan:

1. Kenali perusahaan 
    Kalau bisa sampai jeroannya sih, bagus banget meski nggak harus-harus amat. Minimal, punya pengetahuan yang memadai soal perusahaan yang kamu lamar. Ini penting karena nggak semua perusahaan akan menjelaskan secara rinci apa dan bagaimana perusahaan mereka. Kadang, mereka akan mancing kita di akhir pertanyaan untuk mengetahui seberapa serius kita mau kerja di perusahaan mereka, dengan melempar pertanyaan: ada yang mau ditanyakan? 

     Kalau diberikan kesempatan (jangan yang basa basi, ya), gunakanlah sebaik mungkin. Siapa tahu yang tadinya profil kamu tidak atau belum menarik hati mereka, dengan pertanyaan yang kamu ajukan di akhir sesi wawancara, membuat mereka memikirkan kamu di kemudian hari. 

2. Tampil profesional
    Kita nggak boleh meremehkan soal penampilan, sekalipun nggak dipanggil wawancara. Kalau kita senang melihat orang lain dengan tampilan yang rapi, wangi dan menawan, pun begitu dengan halnya pewawancara. Pewawancara juga manusia. Rasanya, saya hampir tidak pernah melihat pewawancara tampil asal-asalan.

    Usahakan, kita menampilkan diri dengan tampilan profesional dan apa adanya. Apa adanya bukan berarti asal-asalan, ya. Lalu, tampilan profesional itu yang seperti apa? disesuaikan dengan perusahaan yang memanggil kita wawancara. Sekalipun perusahaan seperti media, nggak lantas kita pakai kaos, jeans belel, sendal gunung pas wawancara, ya. Kecuali, mereka menginformasikan boleh mengenakan pakaian kasual saat wawancara. 

   Hindari menggunakan pakaian kasual sekalipun perusahaan yang memanggil kita ada di ranah industri hiburan. Cara berbicara yang baik, santun dan teratur juga masuk dalam profesional look. Pastikan, kita menjawab pertanyaan secara runut, dengan tata bahasa yang baik dan benar. Nggak harus eyd juga, tapi jangan juga kita sok dekat gitu dan jadi kebablasan sekalipun yang mewawancara asyik banget gitu orangnya.

   Jawablah hanya pada apa yang ditanyakan. Kalau mau melebar atau memberikan informasi tambahan, pastikan itu adalah informasi yang patut diketahui perusahaan yang dirasa bisa berguna di waktu-waktu mendatang.

3. Ucapkan apresiasi
    Nggak usah lebay dan berlebihan. Ucapkan ucapan apresiasi, seperti terima kasih, di awal dan akhir wawancara sewajarnya saja. Usahakan dibarengi dengan senyuman tiga jari yang datang dari lubuk hati yang paling dalam, alias nggak palsu. Karena, walau misal senyum kita nggak membuat kita dipanggil ke wawancara berikutnya, paling tidak kita sudah memberikan kebahagiaan tersendiri untuk si pewawancara. 

Karena senyum itu sedekah bagi saudara kita :) 

4. Ketahui detail 
    Ini berlaku setelah sesi wawancara berakhir. Kamu perlu mengajukan pertanyaan selengkap mungkin, terlebih bila perusahaan tidak menyediakan informasi secara menyeluruh mengenai proses wawancara.

    Di LinkedIn, saya menemukan ada yang berbagi seputar bagaimana tidak profesionalnya perusahaan karena tidak menginformasikan ini dan itu kepada mereka yang dipanggil wawancara. Menurut saya, daripada sibuk mengeluhkan tentang bagaimana tidak profesionalnya perusahaan yang kita lamar (ini tentu saja menjadi masukan tersendiri untuk perusahaan), mengapa bukan kita yang memulai inisiatif? 

   Ini bisa saja menjadi nilai tambah, karena kita serius ingin tahu apa dan bagaimana proses yang harus ditempuh setelah wawancara pertama berakhir.   

5. Perbaiki Niat dan Serahkan Sisanya pada Alloh
    Bagian ini, adalah bagian pamungkas yang harusnya kita atur sejak awal. Mungkin, kita perlu menanyakan kembali, apa sih niat kita bekerja dan melamar di perusahaan tersebut? apa hanya untuk batu loncatan sementara? daripada nggak kerja? untuk bisa dibangga2in (kalau yang kita lamar perusahaan mentereng)? 

   Ini ranah pribadi, sih. Namun, izinkan saya untuk sekaligus mengingatkan diri saya sendiri, bahwa hidup kita, termasuk bekerja adalah bagian dari ibadah kita kepada Alloh SWT. Mari jadikan segala sesuatu yang kita kerjakan adalah sebagai ladang ibadah kita untuk kembali kepada-Nya.

   Jangan sampai, disaat Alloh sudah memberikan kita pekerjaan, kita malah lupa dan meninggalkan Alloh SWT. Karena segala sesuatu yang baik itu, seharusnya dapat membawa kita lebih dekat kepada Alloh SWT, bukan malah semakin jauh.

   Kalau pekerjaan, bisnis, pasangan, atau apapun itu, setelah Alloh berikan, malah membuat kita jauh dan lupa sama Alloh, maka apakah dunia itu baik untuk dunia juga akhirat kita? 

Wallahu ta'ala bisshawwab.  


















   













  










  




Kamis, 22 Agustus 2019

Susahnya Minta Maaf

Kehidupan, memang sungguh penuh kejutan. Mengetahui kisah orang sukses secara dunia, rasanya memang pantas kalau mereka mendapatkan kesuksesan itu.

Sepertinya, mereka tidak pernah mengharap macam-macam alias nggak neko-neko. Mereka hanya berusaha, melakukan apa yang mereka anggap perlu (dan bisa) yang mungkin bisa meninggalkan manfaat untuk masyarakat luas.

Dan kadang, kita suka bilang begini: "hanya ini yang bisa saya lakukan." Bahkan, bisa saja, kita merasa sudah melakukan segala sesuatu yang bisa kita usahakan.

Padahal bisa saja itu belum usaha kita yang paling maksimal. Bisa saja, kalau kita mau usaha lebih cerdas dan lebih keras, hasilnya mungkin berbeda.

Apakah kita pernah memikirkannya? Dulu, saya tidak pernah berpikir sampai kesana.

Dulu, saya berpikirnya, bahwa semua yang sudah saya lakukan selama ini adalah yang paling maksimal. Yang terbaiklah.

Padahal, setelah dipikir-pikir lagi, itu mungkin tidak betul seluruhnya. Apa yang saya lakukan, bisa saja belum maksimal.

Saya bahkan masih suka kesulitan jika mendapat pertanyaan, kamu  sebenarnya sukanya apa? Kalau kerja, kamu mau masuk ke industri apa? atau kalau misal mau bisnis, mau menekuni bisnis apa? Jawaban dari pertanyaan yang terakhir, jujur saya belum punya jawabannya.

Jadi begini. Saya tahu, apa dan bagaimana saya mungkin bukan hal penting diketahui khalayak ramai. Dan saya juga merasa tidak perlu-perlu amat untuk melakukannya.

Namun, izinkanlah saya untuk sekadar berbagi sedikit saja. Saya berharap, sedikit dari apa yang saya ketahui dan dititipkan Alloh, dapat bermanfaat bagi teman-teman semua.

Kita boleh kembali dulu ke beberapa tahun belakang, ya sebagai latar belakang cerita. Hidup saya, dapat dikatakan mungkin adalah tahun-tahun, yang kalau boleh saya sebut adalah tahun yang tidak begitu menyenangkan.

Bahkan kalau bisa, saya ingin sekali melupakan dan menghapusnya. Namun, hal tersebut tentu saja bukan hal yang bisa dilakukan manusia. Dan tentu, tanpa tahun-tahun tersebut, tidak akan ada saya yang sekarang ini.

Lalu kemudian saya disadarkan, bahwa terlambat rasanya masih lebih baik walaupun kalau bisa sadar lebih awal, tentu hal yang baik yang semestinya harus kita usahakan.

Ok. Ini, saya menulis dilatar belakangi beberapa perempuan yang kayak lagi mau tawuran. Moga-moga nggak terjadi tawuran beneran, ya. Karena suara mereka makin lama makin meninggi, nih.

Mari kita lanjutkan.

Saya sadar betul, tahun-tahun belakang, saya mungkin makhluk egois yang pernah ada di muka bumi. Ok, itu berlebihan. Mari diperkecil sekupnya di keluarga saya saja.

Sampai sekarang sih, karena manusia memang makhluk yang cenderung individual, keegoisan itu tentu masih ada, dengan intensitas yang semoga sudah jauh lebih berkurang.

Rasanya, saya tidak perlu memanggil orang hanya untuk membenarkan ini. Saya perlu menyadarinya sendiri, dan melakukan sesuatu terhadap hal itu, jika saya benar-benar ingin berubah.

Dan segala sesuatu itu, memerlukan proses. Merubah diri sendiri bukan usaha yang bisa dilakukan dalam waktu semalam. Ia membutuhkan waktu yang tidak sebentar, dan usaha/ikhtiar yang maksimal. Doa apalagi. Kesungguhan kita untuk mau berubah ke arah yang lebih baik, dipertaruhkan disini.

Mungkin ada ya, orang yang tidak menemukan kesulitan berarti melakukan perubahan, yang bahkan lumayan drastis dalam hidupnya. Namun, jumlahnya mungkin hanya berapa persen.

Saya harus segera melakukan sesuatu, dan yang pertama, dan masih harus terus diusahakan adalah introspeksi. Muhasabah.

Saya merenung, menyendiri, disadarkan bahwa Alloh itu tidak pernah dzolim terhadap hamba-Nya. Alloh itu, pasti memberikan yang terbaik untuk setiap hamba-Nya, dengan atau tanpa diminta. Dan saya terlambat menyadari itu.

Hanya saja, kadang kita luput melihat segala sesuatu dari sisi Alloh. Kita melihatnya masih menggunakan nafsu, syahwat kita yang cenderung mengarah pada keburukan.

Kita sudah tahu misal, rokok itu tidak baik buat kesehatan, tapi kita tetap saja menghisapnya. Bahkan, sebungkus sehari kalau lagi banyak uang. Nggak peduli deh meski harus sampai berantem sama istri, keluarga cuma gara-gara rokok yang nggak penting banget sebenarnya buat diberantemin.

Hal-hal sepele yang sebenarnya kita sudah tahu saja, kita masih suka nggak peduli, gimana hal lain yang jauh lebih besar dan lebih penting? yang justru harusnya lebih patut untuk kita khawatiri, tapi alih-alih malah kita abaikan. Yah, itu yang saya terjadi pada hidup saya di tahun-tahun belakang. Dan penyesalan, memang selalu datang belakangan. Karena kalau di depan, namanya pendaftaran.

Melawan orang tua, membuat mereka sedih, dikatakan anak membangkan, bahkan saya pernah kepikiran untuk bunuh diri, pergi dari rumah kalau sudah berantem besar sama orang tua. Dan saya baru sadar, bahwa kenapa saya diberi ujian seperti ini, karena Alloh akan menguji kita dengan apa-apa yang kita cintai. Dan saya tidak bisa katakan betapa besar rasa cinta saya untuk kedua orang tua saya.

Sekalipun begitu, saya belum bisa membuat mereka bahagia dengan memberikan mereka calon suami yang mau serius meminang saya sampai saat ini. Dan meski tidak mudah meyakinkan mereka, saya sudah berusaha mencari, hanya saja saya memang tidak pernah menceritakan secara detail apa yang telah atau akan saya lakukan. Biarlah nanti, pada waktu yang menurut Alloh tepat bagi saya untuk membina rumah tangga, saya akan mengenalkan laki-laki yang serius untuk membersamai dalam rumah tangga yang samawa.

Saya yakin, semua orang tua hanya menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Saya juga yakin, tidak ada anak yang tidak ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Ini sebetulnya bisa ketemu, kalau terjalin pengertian diantara keduanya.

Rumah tangga mana lagipula yang tidak pernah berantem? selama tidak menyakiti secara fisik dan mental, berantem itu, seperti cemburu bisa mempererat hubungan. Selama ada kata maaf dan mau memaafkan lebih dulu (sekalipun kita tidak salah), masalah dapat diselesaikan secara baik.
























Selasa, 06 Agustus 2019

Membuat Paspor Baru di Imigrasi Jakarta Selatan


Kemarin, saya akhirnya buat paspor juga. Beberapa waktu yang lalu pernah mengajukan di Kanim Jaktim untuk pertama kalinya, namun gagal karena persyaratan yang menurut saya terlalu dibuat-buat (setidaknya menurut saya).

Dan pembuatan kali ini, alhamdulillah dimudahkan. Semoga saja ini semacam pertanda dari Alloh, ya 😊

Saya cukup terkejut, begitu tahu aplikasi pendaftaran online keimigrasian, ternyata sudah ganti.

Kalau yang sebelumnya berwarna hijau di bagian depan, kini aplikasi yang masih terbilang baru dan tentu, belum sempurna ini, didominasi warna merah. Terang dan menyala.

Awalnya, saya ragu apakah aplikasi ini jauh lebih baik dari yang sebelumnya karena melihat dari reviewnya, terdengar tidak begitu menyenangkan. Ada masalah disana sini.

Namun, saya tetap mengunduh dan mencoba melakukan pendaftaran akun baru. Dan hasilnya? Saya kesulitan mengambil slot kuota yang tersisa di Kanim Jaksel (Kanim yang lain penuh) meskipun masih ada 3/4 kuota yang tersisa.

Sampai akhirnya tinggal 1, saya dimudahkan Alloh mendapat kuota yang tersisa di tanggal 30. Saya mencobanya sampai malam, dan masih tidak berhasil. Sampai akhirnya berhasil juga paginya.

Jika pendaftaran akun kita sudah berhasil, kita bisa lanjut login untuk melakukan pendaftaran untuk kemudian mendapatkan nomor antrian.

Nomor antrian ini yang nantinya kita tunjukkan ke petugas di meja depan (bagian pendaftaran) di lantai 2 untuk mendapatkan nomor antrian pembuatan paspor.

Karena saya buat baru, saya harus menunjukkan semua persyaratan pembuatan paspor baru. Kopian dengan aslinya. Syaratnya saya kira sudah cukup banyak bertebaran di luar sana (silakan cek sendiri, ya).

Yang pasti, kopian dokumen persyaratan jangan ada yang dipotong. Dibiarkan seperti ukuran kertas aslinya (A4/F4).

Kalau fotokopi di Kanimnya, mereka sudah mengerti. Namun, kita harus informasikan hal ini kepada petugas fotokopi kalau kita fotokopi di luar biar tidak bolak balik fotokopi karena salah (dipotong).

Bila sudah selesai di bagian pendaftaran, kita tinggal menunggu dipanggil nomor antrian kita. Saat itu saya dapat jadwal siang jam 13.00-15.00, dan dapat antrian awal karena datangnya kepagian. Haha.

Tapi, lumayan lama menunggu karena yang dipanggil kan bukan hanya yang ingin buat paspor baru, tapi juga penggantian, dan pengambilan paspor.

Kesemuanya dilakukan di lantai 2 untuk paspor WNI. Saya kira, boothnya itu akan ganti-ganti, ternyata tidak dong. Alhamdulillah.

Setelah nomor saya dipanggil, saya langsung menuju counter 6 dan antri kembali karena pendaftar sebelumnya belum selesai (masih mengecek apa gitu).

Tidak berapa lama, giliran saya. Saya serahkan nomor antrian dengan dokumen kopinya dan mbaknya minta saya mengeluarkan dokumen aslinya.

Waktu itu saya memilih menyerahkan akta kelahiran daripada ijazah. Setelah dokumen diverifikasi dan lengkap, sambil melakukan pengecekan mbaknya ngajak saya ngobrol.

Mungkin ini yang dinamakan tahap wawancara, ya. Saya menjawabnya dengan santai semua pertanyaan si mbak sambil sesekali berseloroh untuk mencairkan suasana.

Semua proses pembuatan dilakukan di counter tersebut, sampai pengambilan sidik jari dan foto. Dan saya merapikan diri dengan gugup karena mbaknya dadakan mengeluarkan dslr tanpa aba-aba. Haha.

Jadilah saya wes blas ndak touch up karena mbaknya keliatan pengin cepat selesai -_- yo wislah. Dandan toh nggak wajib toh, kecuali buat suami kita #eaaaaa

Yang agak makan waktu lama itu pas pengambilan sidik jari. Saya di kantor saja bisa menghabiskan waktu sampai 15 menit, cuma buat absen (finger print). Kejadian yang sama pun terjadi.

Biasanya sih, 2 jari saja sudah cukup. Saya sampai diambil seluruh jari karena sidiknya susah terbaca 😂

Mbaknya sampai mengeluarkan lotion biar tangan saya tidak kering-kering amat. Dan alhamdulillah, pakai lotion memang salah satu cara ampuh yang saya pakai tiap absen.

Prosesnya sendiri memakan waktu tidak lebih dari satu jam, di luat dari antrian yang kita dapat, ya. Jadi, kalau mau cepat, ya usahakan daftar duluan agar dapat nomor kecil (awal).

Tips daftar online ada tidak? Saya belum mencoba di hari mereka buka antrian baru (Jum'at siang sampai Minggu sore).

Tapi, kamu bisa cek terus, siapa tahu ada kuota sisa karena bisa saja ada yang membatalkan datang di tanggal yang kamu pilih (seperti yang saya alami).

Resign, Kenapa Tidak?

Gambar: pixabay.com Bayangan menjadi pengangguran, tidak memiliki penghasilan, belum lagi diomongin tetangga, tentu bukan hal yang menye...