Sabtu, 25 Mei 2019

Pemilu di Ujung Tanduk


Tahun ini, menjadi tahun pertama saya menjadi petugas KPPS. Sementara suami kakak saya sudah yang kesekian kalinya.

Awalnya, saya sempat merasa ragu untuk ikut namun, karena satu dan lain hal akhirnya saya memutuskan untuk ikut juga.

Saya tidak tahu apakah ada standar khusus untuk merekrut petugas KPPS. Seharusnya, ada SOP yang jelas tentang apa dan bagaimana petugas penyambung pemerintah dengan masyarakat ini dalam menjalankan tugas.

Tidak ada pemeriksaan apapun, baik itu riwayat kesehatan, kriminal, dan lainnya. Saya malah sempat diminta untuk menjadi ketua, karena pada saat itu belum ada yang memenuhi kriteria menjadi ketua (pendidikan S1).

Sekalipun ada, yang bersangkutan tidak mau. Akhirnya, karena saya jarang ikut rapat karena kondisi kesehatan yang sedang kurang baik, terpilihlah juga sang ketua.

Saya bernapas lega. Menjadi ketua, sekalipun hanya di atas kertas bukan beban yang ringan pertanggung jawabannya di akhirat nanti.

Qodarulloh, satu hari menjelang pencoblosan, kondisi saya semakin menurun. Sebetulnya kondisi ini sudah saya rasakan beberapa hari sebelumnya.

Saya ingat betul, sejak di kantor pagi harinya badan saya sudah terasa tidak enak. Sampai pada sore hari, waktu pulang saya merasa tak sanggup pulang sendiri.

Saya minta dijemput di stasiun, dan sesampainya di rumah badan saya semakin panas dan lemas tak keruan. Namun, nasi sudah menjadi bubur.

Karena sudah tanda tangan di atas materai (yang kami beli sendiri) ditambah tidak bisa diganti, saya tetap harus menjalankan amanah menjadi petugas KPPS keesokan harinya.

Paginya, saya menguatkan diri (dengan izin Alloh) untuk dapat mengemban amanah ini sebaik mungkin. Dengan bekal baju berlapis dan jaket, kami jalan dari rumah kurang lebih pukul enam.

Baru satu orang kami lihat yang datang. Bergegas, yang sudah datang mengatur meja serta bangku untuk digunakan nanti.

Setelah berkoordinasi, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan berdoa, kami mulai menjalankan amanah dengan harapan seluruh pemilih dapat memilih pilihannya tanpa kendala sedikitpun.

Pemilihan berjalan lancar, alhamdulillah sampai akhirnya tiba waktu penghitungan, salah satu tim kami mendapati tidak adanya C1 hologram.

Lalu 2 orang dari TPS lain datang dengan alasan meminta C1 siapa tahu ada lebih. Dan salah satu dari 2 orang itu mengatakan bahwa kami baiknya tidak mulai menghitung dulu sebelum C1 didapatkan.

Di saat tim berbagi tugas mencari keberadaan C1, yang lain menunggu sambil sejenak beristirahat. Perlu dikonfirmasi, bahwa kami memang tidak punya aturan yang jelas mengenai jam waktu bekerja.

Diinformasikan bahwa pemilihan harus sudah selesai pukul 12 siang dan penghitungan masuk pukul 2, yang tentu saja mustahil terwujud.

Faktanya, kami harus menunggu 2 jam lebih sebelum akhirnya C1 didapatkan. Kami pun mulai menghitung dengan jeda hanya untuk waktu salat dan makan.

Di TPS kami, pasangan 02 unggul dari pasangan 01.

Saya, turut berduka atas wafatnya ratusan petugas KPPS yang telah mengorbankan begitu banyak hal demi terselenggaranya pemilu yang jujur dan adil.

Namun, sudah jujur dan adilkah pemilu kita?






Tidak ada komentar:

Posting Komentar