Senin, 11 Maret 2019

Versus (Perempuan Bekerja dan Ibu Rumah Tangga)

Saya punya impian, saya akan berhenti bekerja kantoran jika Alloh mengizinkan saya menikah suatu saat nanti. Memang belum terbayang. Sungguh. Dulu, saya melihat rumah tangga itu sebagai sesuatu yang menakutkan. Komitmen, tangggung jawab, perbedaan, yah hal-hal semacam itu. Pantas saja lelaki saat ini berat ya ketika ditanya, 'jadi kapan kamu melamar aku?' padahal jawabannya tidak harus tepat waktunya. Paling kamu cuma akan diputusin kalau kelamaan gantung anak orang. Itu alamiah saja.

Jawaban kemungkinan belum siap mungkin tidak akan muncul kalau kita mempersiapkan anak-anak kita, baik laki-laki atau perempuan untuk menjadi seorang istri atau suami. Zaman orang tua kita dulu, mungkin tidak ada tempat untuk mereka menimba ilmu, menyiapkan bekal bagaimana menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kita kelak.

Di Al Qur'an sendiri, tugas seorang istri itu jauh lebih banyak porsinya dibicarakan dari peran ibu dan anak. Kita harus kembali, melihat, mempelajari seperti apa Al Qur'an memotret peran perempuan yang sungguh sangat dimuliakan dalam Islam.

Saya baru membaca kisah Ummu Hani yang menolak pinangan baginda Nabi, merupakan sosok perempuan yang kuat dan menjadi tauladan bagi anak-anaknya. Sebagai single fighter, tentu tidak mudah bagi Ummu Hani menghidupi anak-anaknya sendiri. Bekerja, membanting tulang untuk dapat memenuhi kebutuhan anak-anaknya pasti akan terasa sangat berat kalau kita berpikir kitalah yang memberi mereka makan, minum, pakaian dan lain sebagainya.

Menjadi single mother yang bekerja, kalau direlasikan sekarang ini sama tidak mudahnya. Kemungkinan besar jauh lebih sulit sekarang ini karena godaan datang bukan hanya dari depan, tapi juga belakang, kanan dan kiri kita. Pilihan menjadi ibu bekerja atau ibu rumah tangga saja harusnya tidak lagi menjadi polemik, perbincangan hangat baik di dunia maya atau di dunia nyata. Faktanya, masih ada yang menulis soalan ini.

Obrolan seputar ini pun tampaknya masih bisa kita dengar dengan mudah di telinga kita. Di warung-warung dekat rumah sampai kafe papan atas, kalau perempuan kumpul, obrolan seputar ini mungkin tidak akan pernah terlewat. Saya sendiri, karena belum menikah, mungkin lebih penasaran kepada kenapanya. Kenapa teman SMP saya yang sudah cape-cape jadi PNS, resign. Kenapa seorang perempuan yang sudah jadi abdi negara, mengajukan surat pengunduran diri yang luar biasanya mendapat dukungan dari orang tuanya selain suami juga anak-anak yang sangat membutuhkan sentuhannya di rumah.

Biasanya hambatan paling besar yang ditemui kita sebagai perempuan kan datangnya dari orang tua ya, keluarga dekat. Karena saya pun dulu begitu, sangat wajar kalau saya masih mempertimbangkan saran mereka karena saya belum menikah. Namun, bagi yang sudah menikah, suara suami tentu menjadi pertimbangan utama bagi kita sebagai istri dalam mengambil keputusan segala sesuatu. Karena dalam Islam, setelah menikah, semua beban serta tanggungjawab dari orang tua pindah ke pundak suami kita ketika ijab sudah diucapkan.

Itulah sebabnya mengapa menikah bukan hal yang main-main. Pernikahan itu berat, kalau kita tidak tahu alasan paling dasar mengapa kita harus menikah. Ini juga alasan mengapa arsy Alloh berguncang, bayangkan betapa besar beban orang tua yang mendidik, merawat, menjaga anak perempuannya dipindahkan ke bahu seorang laki-laki yang mungkin baru saja dikenalnya?

Namun, ini bisa juga menjadi sangat ringan ketika kita sudah tahu dengan siapa kita akan menitipkan anak perempuan kita. Kepada laki-laki yang seperti apa, apakah seperti sahabat Nabi atau Fir'aun, ini tentu menjadi PR besar bagi orang tua sebelum menikahkan anak perempuannya. Karena di zaman Nabi, seperti hal nya memilih pemimpin, merem saja Nabi tidak kesulitan menemukan sosok laki-laki terbaik untuk dijadikan menantu dari anak-anak perempuannya yang dilahirkan oleh wanita suci, bunda Khadijah radiyallahu 'anha yang dinikahi 15 tahun sebelum masa kenabian. 

Apakah kita tidak ingin mencontoh makhluk paling mulia di muka bumi ini? perempuan berhenti bekerja kantoran itu bukan berarti pure tidak bekerja, ya. Jika memang dirasa dibutuhkan, karena perempuan butuh juga mengaktualisasi dirinya, bekerja bukan sesuatu yang dilarang. Apalagi sekarang ini kita sudah bisa bekerja dari rumah, secara online ya. Baik itu menjadi reseller atau menjual produk hasil karya kita sendiri. Lakukanlah. Islam tidak pernah melarang itu.

Tentu tangan perempuan sangat dibutuhkan terlebih di bidang-bidang yang banyak dibutuhkan perempuan lainnya, seperti bidan, dokter, guru, dan profesi lain yang disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan zaman. Kita patut bersyukur, sejak dulu hingga kini, perempuan tidak perlu merasa termarjinalkan dengan hanya bekerja di rumah karena rumah merupakan ladang pahala bagi kita. Dari rumah, lahirlah generasi-generasi besar, seperti Usamah bin Zaid, Abdullah bin Umar hingga Imam Syafi'i yang lahir dari tangan-tangan perempuan yang kokoh imannya.

Kita mungkin lupa, bahwa sebagai umat Islam, kita punya panutan yang senantiasa dapat kita jadikan teladan, namun, sayangnya kita lebih memilih mengambil orang-orang barat untuk dijadikan contoh oleh anak-anak kita.

Saya menulis ini karena terkenang, betapa besar jasa seorang istri sekaligus ibu, ibu saya yang jasanya sungguh tak akan pernah bisa saya balas sampai kapan pun. Menjadi penting, tentu bagi kita seorang anak (baik laki-laki maupun perempuan) untuk dimunculkan rasa ini, karena rasa inilah yang dapat mengikat hati kita kepada amanah yang dititipkan Alloh kepada kita. Ini tugas yang tidak mudah bagi orang tua. Mendidik anak menjadi seorang istri juga suami, namun bukan mustahil untuk dilakukan.

Saya ingin mengambil contoh mbak Icha yang saya kenal melalui Facebook. Saya mengagumi beliau karena beliau mendidik anak laki-laki satunya dengan sangat baik. Ini menurut pendapat saya, tentu saja. Di usia Fatih yang belum lagi 10 tahun, ia sudah pandai membantu ibunya bekerja di dapur. Pun pekerjaan lain, tampaknya Fatih tidak memiliki kesulitan yang berarti. Fatih membuat segala sesuatunya sendiri, tentu dengan bimbingan kedua orang tuanya. Seperti saat ia harus membuat tugas sekolah (saya lupa membuat prakarya apa), ia mengerjakan pekerjaan itu dengan sangat baik (baik itu sendiri atau berkelompok).

Saya mengetahuinya karena mbak Icha kerap berbagi seputar kehidupannya kepada teman-temannya di sosial media. Ini sungguh menyenangkan karena bagi saya, mbak Icha yang fokus di rumah merawat Fatih dengan sangat baik. Tentu, sebagai seorang istri, kita harus tahu di usia berapa anak kita harus memiliki suatu keahlian. Kebiasaan ini, di luar memang sudah dilakukan secara mandiri oleh para orang tua karena alasan ekonomi.

Bu Elly Risman berbagi di acara seminarnya yang saya tonton di youtube, pengalaman beliau waktu menjadi asisten guru di sebuah sekolah. Ketika ada anak murid yang ke sekolah memakai jeans (umurnya di bawah 5 th seingat saya), spontan Bu Elly gemes karena si anak terlihat kesulitan mengancingkan kancing celananya. Kalau kita di Indonesia, kita pasti dengan sangat senang hati membantu anak itu menyelesaikan kesulitannya, ya.

Tapi, tahukah kita apa reaksi si anak waktu mau dibantu Bu Elly? anak itu spontan menjawab dengan ketus, "No, you think I'm a baby?" what? Haha. Ini lucu menurut saya sekaligus menyedihkan karena menjadi tamparan buat kita. Sepertinya pembahasannya sudah semakin melebar. Mari kita bertemu lain kali untuk membahas hal ini, ya.     

Oh, ya. Ke depan, saya akan mencoba membuat artikel versus untuk tema atau topik-topik yang dirasa menarik dan dibutuhkan. Silakan jika ada saran versus apa yang mau dikulik, tentu saja dari sisi saya sebagai pengacara. Pengangguran banyak acara.

Wallahu a'lam bisswwab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar