Kamis, 07 Februari 2019

Seberapa penting sih mengetahui bakat anak?

Dengarin kajiannya dr.Aisah itu beneran eye opening banget. Baru berasa tiap dengar kajian kalau ilmu yang kita punya itu ternyata makin dipelajari makin kita sadar kalau kita itu nggak tahu apa-apa. Kita nothing tanpa ilmu (agama) karena agama itu dasar atau pondasi sebelum kita belajar ilmu lainnya (dunia).

Saya sempat merasa bingung sebenarnya saya itu bakatnya apa sih, sampai dengar kajian soal bakat aku apa? nya dr.Aisah Dahlan dan baru sadar kalau saya ini dominan di intrapersonal, kinestetik, naturalis, musik, linguistik, logis matematis, interpersonal, dan yang terakhir visual spasial. Itu 8 bakat yang Alloh anugerahkan kepada setiap manusia yang dimana kita semua punya masing-masing dari delapan bakat itu hanya saja komposisinya beda-beda tiap orang.

Di saya, porsi intrapersonal itu lebih dominan diikuti 3 lainnya seperti yang sudah saya sebutkan di atas. Jadi, nggak heran kalau saya itu mostly suka kerja di suasana yang tenang, kerja sendiri (walau nggak harus selalu tapi most likelylah). Kalau mau dibilang introvert, bisa jadi. Tapi, nggak tahu kenapa tiap saya bilang saya ini orangnya pendiam, teman-teman yang memang kenal dan tahu saya banget nggak akan setuju sama pernyataan saya itu.

Saya memang akan cenderung diam kalau baru kenal sama orang atau baru datang di suasana yang sama sekali baru. Itu sebabnya kenapa first impression orang yang nggak gitu kenal saya akan punya pandangan kalau saya itu sombong, jutek, dan lain sebagainya. Padahal sih, memang iya karena kalau baru kenal kan nggak mungkin juga ya haha hehe walaupun ada juga tipe orang yang begitu. Rame dari awalnya.

Saya kenal beberapa teman yang begitu, rame dan hangat dari awalnya. Dan kita biasanya akan cenderung menganggap aneh kalau di satu linkungan atau kelompok ada yang kelihatannya seperti memisahkan diri atau nggak ikut gabung dalam percakapan yang sedang berlangsung. Yah, namanya tiap orang punya pendapat sih, sah-sah saja ya. Dan saya nggak masalah dengan itu selama pandangan itu nggak diteruskan dengan asumsi yang nggak ada dasarnya sama sekali.

Jadi, bu ibu kita harus bisa peka nih atau sensitif terhadap bakat atau potensi anak kita karena dengan begitu kita baru bisa menumbuhkembangkan bakat anak kita itu atau yang biasa kita sebut bakat terpendam. Yang namanya terpendam kan dia di dalam, ya. Kenapa dia terpendam karena di lingkungan dia nggak mensupport atau nggak berusaha cari tahu ada apa sih di balik anak ini. Ya los gitu saja. Sayang kan, misalnya kalau anak ini harusnya kinestetiknya bagus banget, eh tapi orang tuanya kekeuh pengin si anak masuk kedokteran atau jadi pilot, padahal anaknya nggak dominan fungsi spasial visual dan logis matematisnya.

Walau bukan nggak mungkin ada dokter yang bisa melukis atau jago nyanyi dan bakat itu bisa diasah atau dikembangkan selama dia ada di posisi 1-4 (atau 5 maksimal). Sementara kalau sudah masuk di posisi 6-8 biasanya memang akan butuh waktu yang jauh lebih lama untuk ditumbuhkembangkan. Bukan nggak mungkin, bisa, tapi ya memang butuh kesabaran yang tinggi karena butuh waktu yang tidak sebentar.

Lebih baik kita fokus pada apa yang memang sudah terlihat jelas (di posisi 1-5 itu tadi). Apalagi macam saya yang sukanya yang pasti-pasti, saya paling nggak bisa kalau disuruh melakukan sesuatu yang saya nggak tahu manfaatnya apa.   

Sebagai orang tua, tugas kita itu mengarahkan anak-anak untuk menemukan bakat mereka yang memang sudah dianugerahkan oleh Alloh SWT. Tentunya basisnya atau panduannya itu mengacu pada Qur'an dan sunnah rosulullah shallahu alaihi wassalam. Karena kalau sudah begitu, kita bisa merasa tenang karena mau jadi apapun anak kita, tauhidnya sudah bagus. Mau jadi pemain bola, pemain bola yang sholih, politikus politikus yang sholih, jadi nggak ada yang namanya kita khawatir nanti dia bakal korupsi nggak ya kalau jadi caleg karena kita sudah memastikan anak kita akan menjaga Alloh dimanapun ia berada.

Dan mungkin yang sering dilupakan para orang tua itu mengasah empati dan sensitifitas anak, ya. Apalagi kalau anak laki-laki, biasanya lebih sulit karena harus ditanamkan dan diingatkan berulang-ulang. Beda memang dengan anak perempuan yang kalau soal pekerjaan rumah, karena memang sudah fitrahnya lebih mudah untuk dibentuk. Pekerjaan rumah pun bu ibu, ada lebih kurangnya nih.

Misal, ada anak yang bagus banget dalam urusan gosok, bebersih, atau lipat melipat. Tapi, ada anak yang lebih gape begitu sudah disuruh nyupir, entah itu nyuci piring atau nyetir kendaraan. Ini masing-masing anak istilahnya punya bakatnya masing-masing. Jadi kita harus bisa memahami dan berupaya mengapresiasi kelebihan masing-masing anak dan mengupayakan menambal kekurangan anak dengan terus mengajarkannya secara bertahap dan kontinu.

Bukan malah membanding-bandingkan anak, ya. Saya kira nggak ada satupun dari kita yang suka dibanding-bandingkan kan, ya? jangankan sama saudaranya sendiri, sama orang lain saja malas. Karena memang Alloh telah melebihkan satu orang dibanding lainnya, dan itu semuanya saling melengkapi. Jadi, apapun itu bakat anak (apa yang disukai anak atau biasa juga disebut passion) kita harus berikan dukungan ya bu ibu. Jangan sampai bakat yang sudah ada itu bukan hanya terpendam tapi juga mati yang sehingga membuat anak jadi nggak tahu harus berbuat apa dalam hidupnya.

Merasa useless atau nggak berarti, karena apa yang diucapkan orang tua itu mengeluarkan sinyal dan sinyal itu akan sampai pada orang yang dimaksud cepat atau lambat. Bayangin kalau tiap hari kita bilang ke si anak misal, malas, bodoh, dan lain sebagainya, bakalan beneran bodoh dan malas itu anak bu ibu.

Wallahu ta'ala a'lam




Tidak ada komentar:

Posting Komentar